"leonardo rimba":
Menurut pengalaman aku, yang sering disebut sebagai "makhluk halus" oleh orang
Indonesia sebenarnya cuma bagian dari PSYCHE
===========================
HMNA:
Pengalaman pribadi tidak bisa dimekarkan menjadi rampatan (generalisasi). Well,
well, well, frankly speaking, fyi itu adalah logika bengkok jika bikin rampatan
Belief System. Ente punya teori PSYCHE yang diecer dari Sigmund Freud tidak
bisa menjelaskan , bagaimana orang kampung yang buta huruf tinggal di dusun
terpencil di pinggir danau Matano yang tidak pernah meninggalkan kampungnya,
kalau kerasukan bisa bicara very, very fluently menjelaskan in English keadaan
Istana Sulthan Deli di Medan. Membikin rampatan yang serampangan, itu adalah
penyakitnya die vervlukte Sigmund Freud dan Karl Marx.
As a matter of fact, Islam bukan hanya sekadar Believe System, walakin more
than that. Secara substansial akademis, Syari'at Islam yang bermuatan: aqidah,
jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk
mengatur baik kehidupan nafsi-nafsi (individu), maupun kehidupan kolektif
dengan substansi yang bervariasi seperti keimanan, ibadah ritual, karakter
perorangan, akhlaq individu dan kolektif, kebiasaan manusiawi, ibadah
non-ritual seperti: hubungan keluarga, kehidupan sosial politik ekonomi,
administrasi, teknologi serta pengelolaan/pengetahuan lingkungan, hak dan
kewajiban warga-negara, dan terakhir yang tak kurang pentingnya yaitu sistem
hukum yang teridiri atas komponen-komponen: substansi aturan-aturan
perdata-pidana, damai-perang, nasional-internasional, pranata subsistem
peradilan dan apresiasi hukum serta rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat
yang berakhlaq. Secara beruntun saya akan tunjukkan, kini menyusul mengenai
isyarat/informasi dalam Seri 126 di bawah
**************************************************************************************************************
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
126. Pesan-pesan yang Bersifat Teknis Administratif dan yang Berupa Isyarat
dalam Al Quran
Pesan-pesan yang disampaikan yang bersifat teknis-administratif tidak akan
membingungkan dan tidak akan menghebohkan bagi yang mendengarkan pesan itu,
apapun latar belakang kebudayaan ataupun pendidikan mereka itu. Seperti
misalnya tentang hal kewajiban menuliskan perjanjian dalam S. Al Baqarah, 282:
Wa idza- Tada-yantum bi Daynin ilay Ajalin Musammay Faktubuwhu, Walyaktub
Baynakum Ka-tibun bi l'Adli,.....Falaysa 'Alaykum Juna-hun Alla- Taktubuwha-,
dan apabila kamu membuat perjanjian perikatan, hutang piutang, tuliskanlah, dan
mestilah dituliskan oleh seorang penulis di antara kamu dengan adil,.....dan
janganlah kamu malas untuk menuliskannya,
Sejak zaman RasululLah SAW sampai kepada hari ini kepada siapa saja, kepada
bangsa apa saja, dari latar belakang kebudayaan atupun pendidikan yang bercorak
ragam, tidaklah akan membingungkan apatah pula akan menghebohkan jika disuruh
menuliskan perjanjian. Mereka itu akan cukup mengerti.
Namun apabila yang disampaikan itu berupa informasi seperti misalnya bumi
itu bergerak mengelilingi matahari, maka ini pasti akan membingungkan bahkan
menghebohkan masyarakat Arab pada zaman RasululLah SAW dan pada masyarakat di
mana saja pada zaman itu. Mereka itu niscaya akan menolak kebenaran informasi
itu, sebab berdasarkan pengetahuan yang didasarkan atas pengalaman mereka bumi
yang bergerak itu sangat bertentangan kenyataan.
Sebaliknya apabila sebuah Kitab Suci jelas-jelas mengatakan secara konkrit
bahwa bumi itu diam, agar komunikatif pada masyarakat waktu permulaan Kitab
Suci diturunkan, tentu akan ditolak oleh masyarakat seperti yang keadaannya
sekarang ini yang umumnya sudah mempunyai latar belakang pengetahuan yang telah
maju. Masyarakat sekarang yang telah maju itu bukan hanya sekadar menolak
tentang informasi tentang bumi yang diam itu, bahkan mereka itu akan menolak
keseluruhan Kitab Suci itu, karena kebenaran yang dikandungnya hanya temporer,
yaitu hanya berlaku pada waktu Kitab Suci itu mulai dimasyarakatkan.
Demikian pula informasi tentang bumi ini berpusing / berputar pada subunya
yang menyebabkan terjadinya siang dan malam. Ini akan membingungkan bahkan
menghebohkan masyarakat pada zaman Kitab Suci itu mulai dikomunikasikan. Itu
sangat bertentangan dengan kenyataan. Ambillah pakaian basah, lalu putar. Air
dari pakaian basah itu akan memercik, akan terlempar. Kalau bumi berpusing,
niscaya akan habislah terlempar air laut meninggalkan bumi dan semua
benda-benda yang tidak terpaku pada bumi, termasuk manusia.
Dalam hal bumi bergerak dan berpusing Al Quran memakai gaya bahasa yang
tidak membingungkan dan tidak menghebohkan masyarakat Arab di zaman RasuluLlah
SAW dan masyarakat lain di luar tanah Arab yang sezaman, ataupun yang latar
budaya dan pengetahuaannya seperti masyarakat Arab itu, serta diterima pula
oleh masyarakat yang latar belakang pengetahuannya seperti dewasa ini.
Perhatikanlah gaya bahasa Al Quran mengenai kedua materi informasi di atas itu.
-- Wa Taray lJiba-la wa Tashabuha- Ja-midatan wa Hiya Tamurru Marra sSaha-bi,
Engkau lihat gunung-gunung dan engkau memperhitungkannya diam, pada hal
gunung-gunung itu berlari, seperti larinya awan (S. An Namal, 88)
Bagi masyarakat dahulu kala gunung yang diam yang berlari seperti larinya
awan tidaklah membingungkan, karena tidak bertentangan dengan kenyataan yang
berdasarkan pengalaman sehari-hari. Orang yang memacu kuda atau untanya, akan
menyaksikan gunung itu berlari seperti pula dengan larinya awan dari kejauhan.
Pada hal tadinya gunung itu diam sewaktu orang itu masih tegak dengan kudanya,
diam seperti awan di kejauhan. Kitapun dapat menyaksikan hal serupa jika naik
mobil dan melihat ke tempat yang jauh, gunung itu beralari mengikuti lari
kencangnya mobil. Jangan melihat pada pohon-pohon ataupun tiang-tiang di
pinggir jalan, yang berlari kencang ke belakang. Dan jika mobil kita berhenti,
gunungpun berhenti, demikian pula pohon-pohon ataupun tiang-tiang di pinggir
jalan.
Ayat di atas itu mengisyaratkan bahwa kelak di kemudian hari ilmu
pengetahuan akan mengungkapkan bahwa bumi ini sebenarnya bergerak. Kalau gunung
itu diam terhadap bumi, sedangkan gunung itu berlari maka bumipun niscaya
berlari atau bergerak pula. Selanjutnya perhatikanlah pula ayat ini:
-- Yukawwiru lLayla 'alay nNaha-ri, wa Yukawwiru nNaha-ra 'alay lLayli, (S. Az
Zumar, 5).
Kalimah Yukawwiru dalam ayat di atas asal katanya Kawwara artinya menggulung
atau memutar sorban di kepala. Output dari pekerjaan menggulung atau memutar
serban di kepala, yaitu kepala itu tertutup. Terjemahan Al Quran dengan Hak
Cipta dari Departemen Agama Republik Indonesia bunyinya demikian:
-- Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam. Adapun
terjemahan secara tekstual itu dapat diterima baik oleh semua orang di mana
saja dan kapan saja, tidak tergantung pada latar belakang budaya apa saja. Ayat
itu dapat pula diterjemahkan secara kontekstual dengan ilmu pengetahuan
kontemporer apabila pemahaman kata Kawwara ditekankan pada proses menggulung
atau memutar sorban. Maka ayat di atas itu dapat diterjemahkan seperti berikut:
-- (Allah) Memutar malam atas siang dan memutar siang atas malam. Dengan
kalimah Yukawwiru dalam ayat itu, menunjukkan mu'jizat Al Quran, yaitu suatu
isyarat bahwa kelak di kemudian hari ilmu pengetahuan akan mengungkapkan bahwa
terjadinya siang dan malam itu karena perputaran bumi pada sumbunya.
Itulah dua buah contoh tentang hal informasi yang disampaikan Al Quran
mengenai bumi yang bergerak dan berputar dengan gaya bahasa sedemikian rupa
sehingga tidak membingungkan masyarakat dahulu kala dan diterima pula oleh
masyarakat sejak ilmu pengetahuan mengungkapkan tentang hal bumi bergerak dan
berputar itu. WaLla-hu a'lamu bishshawa-b.
*** Makassar, 8 Mei 1994
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
http://waii-hmna.blogspot.com/1994/05/126-pesan-pesan-yang-bersifat-teknis.html
#############################################################################################################
----- Original Message -----
From: "leonardo rimba" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>; Sent: Sunday, September 23, 2007 10:35
Subject: [Mayapada Prana] Makhluk Halus dan Belief System
Dear Friends,
Menurut pengalaman aku, yang sering disebut sebagai "makhluk halus" oleh orang
Indonesia sebenarnya cuma bagian dari PSYCHE.
On the other hand, mereka itu kan bicara dalam terminologi yang ada dalam
Belief System mereka sendiri. Aku bisa mengikuti karena terbiasa untuk
men-TRANSLATE simbol2 yang digunakan dalam satu culture ke culture lainnya.