keyakin dalam islam bukan semata mata yakin dalam ucapan tetapi yakin
karena meyakin sesuatu yg tidak perlu bukti ataupun fakta untuk bisa
menggoyahkan keyakinan itu.
keyakinan itu sendiri harus datang dari kesadaran dan ke ikhlasan dari
pribadi orang yang meyakininya. jadi bila sudah meyakini islam sebagai
agama pilihannya, sebagai jalan hidupnya .. maka juga termasuk harus
meyakini apa yg menjadi syariat dalam agama islam itu sendiri dan
menjalankan dengan sungguh-sungguh. 

ini juga sedikit menyinggung artikel dari JIL yg mulai ada pemikiran
ibadah puasa adalah ibadah yg memberatkan bagi umat atau bagi yg
menjalankannya, tentu pertanyaannya adalah, polling yg dilakukan oleh
mereka dilakukan terhadap siapa ? umat islam kah ? kalo umat islam
tentu pertanyaan selanjutnya adalah umat islam yg mana dan bagaimana ? 
kembali pada masalah keyakinan, bila kita meyakini islam ini sebagai
agama atau jalan hidupnya, tentu menjalankan ibadah pun adalah suatu
keyakinan sebagai suatu keharusan dalam agama islam, dan tentunya
orang yang sudah mencapai tingkatan haqul yakin, mereka akan
menjalankan ibadah sesuai dengan petunjuk dari al-quran dan alhadist
sebagai petunjuk yg diturunkan Allah kepada umat-Nya. dan menjalankan
dengan haqul yakin adalah menjalankan dengan ke ikhlasan tanpa rasa
diberatkan atau merasa dibebankan hingga memberatkan kehidupannya.
Rela, yaitu menerima segala keputusan Allah secara total …kita
benar-benar berserah dan bergantung kepadanya, karena kita mempercayai
bahwa Allah lebih tahu yang terbaik buat kita ….

tentu harus dipertanyakan bilamana ibadah sudah dirasakan sebagai
penghalang atau sebagai beban, dan yg menjadi pertanyaannya adalah
yakinkah dia dengan agamanya ? yakinkah dengan kitab sucinya ?
yakinkah dia Allah itu ada ?
yakin itu ada tiga tingkatan dalam islam, yaitu 
1. Wajibul yakin - Kita meyakini bahwa Allah itu ada melalui perintah
agama
2. Ainull yakin - Kita meyakini Allah itu ada karena ada ciptaannya
spt, langit, bumi, matahari dll
3. haqul yakin - Kita meyakini Allah itu ada dengan seyakin-yakinya
bukan karena perintah agama, juga bukan karena melihat ada ciptaanya
tetapi lebih kepada penghayatan terhadap sang maha pencipta, ini semua
dicontohkan oleh nabi kita SAW
bila dicontohkan tingkatan keyakinan seseorang itu adalah sebagai
berikut :
Si Ahmad memberitahu Salman bahwa gula itu rasanya manis. Berita dari
Ahmad ini adalah bentuk informasi yang memaksa Salman untuk percaya
(wajibul yakin) kemudian di lanjutkan untuk melakukan memakan gula
tersebut dan apa yang dikatakan oleh Ahmad ternyata benar bahwa gula
yang baru saja dimakannya rasanya benar-benar manis pada tingkat ini
pengetahuan Salman bertambah dari wajibul yakin menjadi ainul yakin
(merasakan sendiri), kemudian menjadi haqul yakin, karena ia
betul-betul mengalami secara langsung bukan sekedar katanya si Ahmad.
Dalam hal ini Salman juga sudah sekaligus mengisbathkan (keyakinan
yang tidak bisa diubahkan) kebenaran informasi tersebut. Sampai disini,
keyakinan Ahmad dan Salman tidak akan mampu lagi orang lain
mengubahnya walaupun dipenggal leher sekalipun. …inilah keyakinan yang
dirasakan secara imanent transcendental ….. (artikel abu sangkan)

kalo kita yakin dengan agama yang kita pegang teguh / istiqamah, maka
pertanyakan dulu pada diri kita sendiri, apakah kita sudah menjalankan
agama ini dengan benar dan sungguh2 tanpa mencampur adukan agama kita
dengan agama lain ? banyaknya orang yg sudah mencampuradukan agamanya
dengan agama yg lain ini menggambarkan ketidakyakinannya terhadap
agamanya sendiri, dan mungkin kalo dipertanyakan sudahkah mempelajari
agamanya hingga sedetil-detilnya ... jawabannya mungkin BELUM .....
lalu apa yg menjadi keyakinannya kalo agamanya sendiri saja dia tidak
pelajari atau tidak pahami dan sadari hingga kedalam-dalamnya ?? 



Kirim email ke