http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2008030301173016
*Senin, 3 Maret 2008* ** ** *Bencana Kelaparan Telah Tiba!* ** * * ** * * *H.Bambang Eka Wijaya:* *"IBU hamil tujuh bulan dan putranya usia lima tahun meninggal akibat kelaparan di Makassar! Seorang lagi anaknya usia tiga tahun dalam kondisi kritis dibawa tetangga ke rumah sakit!" ujar Umar. "Suami korban, abang becak, mengakui istri dan anaknya telah tiga hari tidak makan nasi barang sebutir pun!" * *"Kubaca beritanya di koran!" sambut Amir. "Menurut putri tertuanya usia sembilan tahun, mereka sering berhari-hari hanya makan bubur hambar atau nasi hanya dengan garam!"* *"Peristiwa itu harus dijadikan alarm pertanda bencana kelaparan telah tiba!" tegas Umar. "Tidak perlu berkilah itu terjadi di Makassar, jauh dari tempat kita atau yang tewas baru dua orang! Tetapi, harus cepat disikapi dengan tindakan nyata, konsinyir ke kawasan yang warganya banyak bergizi buruk!"* *"Apalagi Lampung provinsi termiskin di Sumatera setelah Aceh, tindakan tanggap darurat mencegah bahaya kelaparan jadi keharusan!" timpal Amir. "Kilah seperti dilakukan kepala Dinas Kesehatan Makassar bahwa para korban bukan mati akibat kelaparan, melainkan karena diare, tidak layak dipakai dalam kondisi kritis itu!"* *"Juga berdasar pada peringatan dari Dr. Yosef Hartadi dari FKUI (gizi.net/Suara Pembaruan, 25-1-2008) dari 5,1 juta balita penderita gizi buruk di Indonesia dewasa ini, 54 persen atau sekitar 2,6 juta anak terancam meninggal!" tegas Umar. "Konon lagi di Lampung, kasus balita bergizi buruk yang sampai ke rumah sakit sudah banyak! Singkat kata, sikap tanggap untuk cepat mencegah bahaya kelaparan lebih baik daripada menanti kondisi tidak tertolong lagi! Makassar dan Sulawesi Selatan yang lebih makmur saja mengalami itu, apalagi Lampung yang miskin!"* *"Tapi itu saja tidak cukup!" potong Amir. "Kepada para pembuat kebijakan publik diharapkan bisa mengubah orientasinya dalam usaha mengatasi balita gizi buruk, dari sekadar retorika tanpa prioritas anggaran, menjadi berorientasi pada tindakan lebih konkret! Karena sekalipun balita yang masuk rumah sakit banyak akibat demam berdarah, chikungunya atau diare, semua itu terjadi juga akibat kondisi fisik yang rentan karena malanutrisi--kurang gizi!"* *"Dari segi jumlahnya, bahkan jika ancaman kematian balita yang disebut Dr. Yosef diambil rata-rata per provinsi, 2,6 juta bagi 33 provinsi, balita yang terancam di setiap provinsi, termasuk Lampung, cukup besar!" tegas Umar. "Sebab itu, aku sependapat agar para pejabat dan politisi lebih serius memfokuskan tindakan mencegah bahaya kelaparan, terutama pada balita!"* *"Paling tidak, para pejabat dan politisi bersikap tenggang rasa pada mereka yang tengah menderita, mengurangi kecenderungan mumpung berkuasa hingga selalu lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau golongannya ketimbang kebutuhan warga miskin!" tukas Amir. "Tenggang rasa dalam menjalankan kekuasaan juga bisa dicerminkan dengan perencanaan matang pada setiap kebijakan menyangkut kaum lemah, bukan setelah lahan usaha mereka diubrak-abrik, baru dicari alternatifnya!"* *"Tenggang rasa juga dilakukan dengan tidak selalu mudah iming-iming!" tegas Umar. "Seperti pada warga nelayan yang telah berpekan-pekan tidak melaut akibat cuaca buruk, diimingi bantuan--tapi ditunggu sampai bola mata memutih, bantuan tidak kunjung datang! Bayangkan jika di antara mereka ada yang sudah berhari-hari tidak makan barang sebutir nasi pun!"* -- ********************************** Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist ************************************

