http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.03.02124557&channel=2&mn=158&idx=158

 *"Smart Card" dan Pemiskinan Rakyat*
**
*Senin, 3 Maret 2008 | 02:12 WIB *

*Ilyani S Andang*

*Rencana pemerintah membatasi pembelian premium dengan smart card sekali
lagi merupakan pukulan bagi konsumen. Setelah kenaikan harga BBM tahun 2005
yang berdampak kian beratnya biaya hidup, pemerintah merencanakan "pemaksaan
pembelian BBM tanpa subsidi".*

*Meski keputusan ini untuk mobil pribadi di Jakarta, Bogor, Depok,
Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), akhirnya rakyat juga yang menderita.
Dapat saja kebijakan itu "dianggap" tidak berkaitan dengan masyarakat miskin
karena masyarakat miskin sudah tidak punya daya beli. Kelas menengah yang
masih mempunyai daya beli kian diturunkan tingkat kesejahteraannya dengan
pembatasan subsidi BBM itu.*

*Ini sungguh berbanding terbalik dengan peningkatan kesejahteraan yang
didapat para anggota DPR, pihak eksekutif, dan yudikatif. Tidak terlihat
sensitivitas untuk "mengencangkan" ikat pinggang di kalangan para pejabat
itu.*

*Dengan beban biaya hidup yang kini kian tinggi, pembatasan premium akan
semakin menambah biaya hidup konsumen. Pada data Indeks Tendensi Konsumen
(ITK), yaitu survei rumah tangga berpendapatan menengah ke atas di
Jabodetabek oleh BPS, tahun 2006 saja menunjukkan, pada triwulan III tahun
2006 nilai indeks konsumsi transportasi konsumen semakin tinggi (138,18).*

*Biaya transportasi masyarakat Jakarta pada 2003 sudah mencapai 30 persen
dari penghasilan (sumber: Center for Indonesian Regional & Urban Studies/
CIRUS). Ini sudah jauh dari angka ideal, yaitu 10-15 persen.*

*Sementara kondisi tabungan rumah tangga menurun secara signifikan dengan
indeks 60,11. Penurunan ini terjadi karena semakin tingginya biaya yang
dikeluarkan untuk transportasi.*

*Angkutan umum minim*

*Bagaimana dengan kendaraan umum? Daya dukung transportasi umum tidak dapat
memenuhi kebutuhan konsumen Jabodetabek. Utamanya masyarakat yang datang ke
Jakarta dari wilayah Bodetabek pada siang hari yang mencapai 6-7 juta orang,
sementara daya dukung angkutan umum hanya 20 persen untuk bus kota dan 2
persen untuk kereta api (sumber CIRUS).*

*Bahkan, 2 persen untuk kereta api itu dapat dilihat dalam kondisi yang amat
tidak aman karena pada jam sibuk pagi dan sore hari, konsumen amat padat
hingga ke atap kereta api. Inikah potret yang diharapkan pemerintah
dialihkan ke pelayanan transportasi publik? Menghadapi risiko kematian,
pelecehan seksual, kecopetan, dan terpapar polusi yang parah di transportasi
publik?*

*Sementara untuk wilayah seputar Jakarta yang telah dilayani busway, berapa
persen daya dukung busway berhadapan dengan kebutuhan konsumen? Kini,
kapasitas busway baru mencakup 210.000 penumpang per hari. Amat tidak
memadai dalam mengangkut kebutuhan jutaan konsumen yang membutuhkan angkutan
di Jakarta per harinya.*

*Perkiraan CIRUS, pada tahun 2007 jumlah perjalanan di Jakarta mencapai 17,5
juta per hari. Jadi, dari data ini menunjukkan, busway tidak cukup mampu
menjadi angkutan massal kebutuhan penduduk Jakarta.*

*Memiskinkan rakyat*

*Jadi, pembatasan premium akan kian memiskinkan rakyat. Kebutuhan hidup akan
kian membengkak. Padahal, masyarakat sudah amat terbebani tingginya biaya
kebutuhan pokok. Tahun 2006, kenaikan harga beras mencapai 25 persen, harga
minyak goreng naik mencapai 60 persen (sumber BPS). Data BPS DKI Jakarta
2006 menyebutkan, masyarakat telah terbebani biaya pendidikan dan kesehatan
yang tinggi. Tahun 2006 pengeluaran masyarakat DKI untuk pendidikan naik 21
persen dan untuk kesehatan naik 8,5 persen.*

*Perlu diingat, masyarakat kelas menengah bukan masyarakat yang disubsidi
untuk pendidikan dan kesehatan. Apakah pemerintah berniat menurunkan taraf
kehidupan kelas menengah menjadi masyarakat miskin sehingga mereka berhak
mendapat subsidi? Jika begitu, apa arti tugas pemerintah untuk
menyejahterakan rakyat? Jika terjadi defisit APBN, tidak adakah cara yang
lebih cerdas bagi pemerintah untuk mengatasi masalah yang dihadapi tanpa
membebani rakyat? Bagaimana dengan dana kasus BLBI dan koruptor lainnya?*

*Akan tetapi, jika defisit APBN sudah demikian parah, tidakkah penghematan
dilakukan lebih dulu oleh para pejabat? Berilah contoh terbaik lebih dulu,
setelah itu mungkin rakyat masih mau berkorban.*

*Ilyani S Andang Peneliti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI*


-- 
**********************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist
************************************

Kirim email ke