Humornya Gus Dur sesuai dengan kenyataan



Perbedaan dalam berbagai hal termasuk aliran dan agama, kata mantan
Presiden RI ini, sebaiknya diterima karena itu bukan sesuatu masalah.




Jika sudah bisa menerima perbedaan maka akan lebih terbuka dalam
berdialog, bahkan kata Gus Dur, lahir lelucon seperti yang dilontarkan
seorang kyai, bhiksu, dan pendeta.




"Pendeta mengatakan; Kami dekat sekali dengan Tuhan. Jadi kami
memangil, Allah Putra Allah Bapa. Si bhiksu menimpali; Kami juga dekat.
Bukan manggil Bapak, tapi Om. Lha bagaimana dengan Anda, pak kyai? Pak
Kyai menjawab; Boro-boro deket, manggil-nya aja mesti pake speaker TOA diatas 
menara,"
urai Gus Dur diiringi tawa seisi ruangan.


      

Kirim email ke