Mg Biasa XV: Yes 55:10-11; Rm 8:18-23; Mat 13:1-23
“ Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"

Ketika Romo Sunarya SJ dipanggil Tuhan mendadak di rumah sakit Elisabeth 
Semarang, maka segeralah tersiar berita tersebut. Saat itu saya bertugas 
sebagai Ekonom Keuskupan Agung Semarang dan menerima tilpon atau pertanyaan 
antara lain: “Apa benar Romo Sumarya, Ekonom Keuskupan dipanggil Tuhan?”, “Saya 
dengar Romo Wonosunarya dipanggil Tuhan?”, dst.. Cukup menarik mencermati 
peristiwa itu, lebih-lebih yang terkait dengan telinga atau indera pendengaran. 
Entah salah informasi atau salah dengar, dan hemat saya yang terjadi salah 
dengar atau yang bersangkutan kurang dapat mendengarkan dengan baik.  Indera 
dari pancaindera yang pada umumnya mulai berfungsi paling awal adalah 
‘pendengaran’, demikian pula ‘pendengaran’ berfungsi sampai mati. Di dalam 
kegelapan mata tidak dapat melihat apa-apa serta tidak mampu membedakan mana 
yang baik utau jelek, merah atau hijau, putih atau hitam, dst.., sebaliknya di 
dalam kegelapan telinga mungkin akan
 berfungsi lebih optimal serta dapat mendengarkan dengan cermat dan tajam. 
Dalam kenyataan hidup bersama saat ini juga dapat kita jumpai dan saksikan 
sekelompok/paguyuban  orang buta namun tidak tuli yang sungguh hidup dan dapat 
menghibur orang lain antara lain dengan nyanyian-nyanyian, sementara itu saya 
pribadi belum pernah menjumpai kelompok/paguyuban orang tuli tetapi dapat 
melihat. Saudara-saudari, umat Islam sangat menghargai indera pendengaran itu, 
antara dengan mendengarkan suara ‘adzan’ ajakan untuk berdoa dan memuliakan 
Tuhan merupakan rahmat atau berkat, dan kiranya dengan mendengarkan suara 
‘adzan’ tersebut berarti juga berdoa. Apa yang didengarkan dengan sepenuh hati 
akan menjiwai atau menghidupi cara hidup dan bertindaknya sehingga menghasilkan 
buah-buah yang berguna bagi keselamatan dan kebahagiaan dirinya sendiri maupun 
orang lain.
 
“Sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, 
ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.”(Mat 13:9)
 
Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk menjadi ‘tanah yang baik’, 
yang ketika ditaburi aneka benih dari Tuhan melalui sesama dan saudara-saudari 
kita maka benih tersebut dapat tumbuh berkembang serta menghasilkan buah 
melimpah ruah. Benih yang kiranya telah ditaburkan ke dalam diri kita, antara 
lain melalui orangtua/ibu kita masing-masing adalah ‘kasih’. Masing-masing dari 
kita adalah buah kasih atau yang terkasih, berasal dari kasih bapak dan ibu 
kita masing-masing, dan benih kecil(embriyo/janin) yang mulai tumbuh berkembang 
dalam rahim ibu terus menerus disirami dengan kasih sampai kini. Dalam dan oleh 
kasih masing-masing dari kita melalui cara hidup atau cara bekerja menghasilkan 
buah-buah keselamatan bagi diri kita sendiri maupun sesama kita.
 
Buah yang berlipat ganda terus menerus hendaknya tidak hanya pertambahan jumlah 
manusia sebagai tanggapan atas perintah Tuhan  "Beranakcuculah dan bertambah 
banyak; penuhilah bumi”(Kej 1:28), tetapi juga buah-buah Roh seperti “kasih, 
sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, 
kelemahlembutan, penguasaan diri.”(Gal 5:22-23), yang benih-benihnya juga 
pernah ditaburkan dalam diri kita masing-masing. Benih-benih atau 
keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai tersebut rasanya ada dalam diri kita 
masing-masing, maka hendaknya jangan dibiarkan atau didiamkan tetapi sirami dan 
pelihara agar semakin kuat dan handal serta afektif, artinya mempengaruhi hidup 
dan cara bertindak kita sendiri maupun orang lain yang hidup dan bekerja 
bersama dengan kita. Karena masing-masing dari kita berharap dan mendambakan 
benih tersebut tumbuh berkembang, maka hendaknya kita saling ‘mendengarkan’ 
pengalaman pertumbuhan dan perkembangan benih yang
 ada dalam diri sesama, sehingga kita saling bekerjasama atau bergotong royong 
menyiram dan memelihara benih-benih tersebut. Dalam kebersamaan dan saling 
mendengarkan kiranya buah yang akan dihasilkan oleh benih tersebut akan 
berlipat ganda, “ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, 
ada yang empat puluh kali lipat”.  Dalam kebersamaan juga kiranya kita dapat 
membantu saudara-saudari kita yang mengalami kesulitan dalam 
menumbuh-kembangkan benih yang telah ditaburkan ke dalam diri mereka. 
 
“Aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan 
dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm 8:18)
 
Kesaksian Paulus kepada umat di Roma ini kiranya baik menjadi permenungan atau 
refleksi kita semua. “Berrakit-rakit ke hulu, berrenang-renang ke tepian, 
bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”,  demikian kata sebuah 
peribahasa Indonesia. “Jer basuki mowo beyo” (=Untuk hidup mulia atau bahagia 
harus berjuang), demikian kata sebuah peribahasa Jawa. Kesaksian dan 
peribahasa-peribahasa ini hendaknya menjadi pedoman atau acuan hidup dan cara 
bertindak kita serta kita binakan atau didikkan pada anak-anak kita. Berbagai 
pengalaman dan pengamatan menunjukkan bahwa mereka yang hidup dan bertindak 
sesuai dengan kesaksian atau peribahasa tersebut dapat menjadi orang yang 
sungguh dewasa baik sebagai pribadi maupun yang beriman, sehingga cara hidup 
dan bertindaknya sungguh fungsional menyelamatkan diri maupun lingkungan hidup 
yang menjadi tanggungjawabnya. Sebaliknya mereka yang ‘bersenang-senang dahulu’ 
akhirnya kemudian menjadi sakit terus
 menerus alias menderita dan sengsara sampai mati. 
 
Hidup dan bertindak sesuai dengan kesaksian dan peribahasa-peribahasa di atas 
antara lain berarti senantiasa mengikuti dan mentaati aneka macam proses yang 
terkait dengan hidup, panggilan dan tugas perutusannya. Memang dalam mengikuti 
proses orang harus siap sedia dan rela untuk berkorban alias bersakit-sakit dan 
berjuang, dan dengan demikian apa yang diimpikan oleh nabi Yesaya ini akan 
menjadi kenyataan alias terwujud. “Seperti hujan dan salju turun dari langit 
dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan 
menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada 
orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak 
akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang 
Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yes 
55:10-11). 
 
Sikap mental setia mengikuti proses dengan penuh pengorbanan dan perjuangan 
rasanya terjadi atau dihayati oleh para petani. Ia mulai dengan mencangkuli 
atau membajak tanah atau sawahnya, menabur benih, menanam serta menyirami, 
menyiangi dan memelihara tanamannya dengan penuh kasih sayang, kesabaran dan 
kelemah-lembutan. Ia menyertai proses pertumbuhan dan perkembangan tanamannya 
sampai menghasilkan buah atau panenan yang diharapkan atau dicita-citakan. Maka 
baiklah jika anda belum pernah terlibat atau berpartisipasi dalam kegiatan atau 
usaha pertanian kami berharap sekali waktu menyempatkan diri berpartisipasi 
dalam atau mencermati kegiatan pertanian. Kepada mereka yang telah mengalami 
atau memiliki pengalaman bertani kami berharap keutamaan-keutamaan yang 
dibutuhkan bagi pemeliharaan benih dan tanaman juga diaplikasikan ke dalam cara 
hidup dan cara bertindak yang lain. Kepada para pelajar atau mahasiswa kami 
berharap dengan penuh pengorbanan, perjuangan
 dan kerendahan hati mengikuti proses pembelajaran serta menjauhkan dari aneka 
kegiatan menyontek atau proses instant dalam pembelajaran. Kepada siapapun yang 
terlibat dalam dunia pendidikan atau sekolah dalam proses pembelajaran kami 
harap juga tidak melakukan ‘jual beli nilai’ melalui aneka usaha dan upaya.
 
“Engkau mengairi alur bajaknya, Engkau membasahi gumpalan-gumpalan tanahnya, 
dengan dirus hujan Engkau menggemburkannya; Engkau memberkati 
tumbuh-tumbuhannya.Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu, jejak-Mu 
mengeluarkan lemak; tanah-tanah padang gurun menitik, bukit-bukit 
berikatpinggangkan sorak-sorai; padang-padang rumput berpakaikan kawanan 
kambing domba, lembah-lembah berselimutkan gandum, semuanya bersorak-sorai dan 
bernyanyi-nyanyi” 
(Mzm 65:11-14)
Jakarta, 13 Juli 2008


      

Kirim email ke