Arthur G. Gish Berani Menghadang Tank Israel

SEORANG kakek berjanggut lebat berdiri sambil mengangkat kedua tangannya
di hadapan tank tentara Israel yang tengah menderu dan bersiap
memuntahkan hulu ledaknya. Moncong senjata tank berkekuatan ledakan
dahsyat itu tinggal berjarak beberapa inci saja dari dada pria bertopi
merah dan sweater biru itu. Pria tersebut bergeming dan malah menyeru
tentara yang berada di balik kemudi tank agar menghentikan langkahnya.
Aksi kakek itu menuai amarah tentara Israel. Mereka bahkan meludahi sang
kakek agar segera mundur dari jalur tank.

Setelah bersitegang beberapa lama, tank Israel itu mundur dan
mengurungkan niatnya membombardir pasar di Al Manara, Hebron, Tepi Barat
Palestina. Amuk tentara yang membabi buta melumatkan pasar sepanjang dua
blok itu perlahan berhenti. Sesaat setelah kejadian itu, Gish tertunduk
lesu. Berlutut dan berdoa. "Aku merasa sendiri, lemah, tak berdaya. Aku
hanya bisa menjerit kepada Tuhan," ujar Gish (68).

Juru foto dari Kantor Berita Associated Press (AP) beruntung berhasil
merekam drama menegangkan itu. Keesokan harinya, 31 Januari 2003, foto
fenomenal itu menjadi headline di setiap surat kabar di dunia. Sejak
saat itu, kakek bernama Arthur G. Gish itu kian dikenal dunia sebagai
aktivis perdamaian.

Peristiwa yang membikin jantung berdegup seperti itu tak sekali dua kali
dialami Gish. Maklum sejak 1995, Gish terjun di tengah situasi konflik
di Hebron. Banyak kalangan yang menilai langkah Gish sebagai langkah
konyol. Memasuki daerah konflik agama yang tak kunjung usai dan telah
menelan ribuan nyawa selama kurun waktu berabad-abad. Konflik yang
diwariskan dari sejak kematian Nabi Ibrahim, Perang Salib, hingga
pendudukan Israel karena dipicu munculnya Paham Zionisme.

Gish adalah seorang berkebangsaan Amerika Serikat yang aktif sebagai
anggota Christian Peace Maker (CPM) yang bermarkas di Ohio, AS. Satu hal
yang disentuh Gish adalah nurani setiap warga di Palestina, baik itu
kalangan Muslim, Kristen, maupun Yahudi, bahwa sesungguhnya nurani
mereka mendambakan perdamaian. Oleh karena itu, kekerasan atas alasan
apa pun tidak dibenarkan.

Catatan harian Gish di Hebron yang penuh dengan drama itu dibukukan
dengan judul Hebron Journal: Stories of Nonviolent Peacemaking yang
dicetak oleh Herald Press di Kanada pada tahun 2001 cetakan pertama. Di
Indonesia, Hebron Journal telah dialihbahasakan oleh Penerbit Mizan Juli
tahun ini.

Berdasarkan catatan Gish, setidaknya ada tiga peristiwa yang selalu
dijadikan alasan mereka berkonflik. Pertama, pembantaian Yahudi pada
1929 oleh kaum Muslim. Kedua, pendudukan Tanah Palestina oleh Israel
pada 1948, dan pembunuhan kaum Muslim oleh Israel di Masjid Ibrahim pada
1994. Selain itu, serentetan dosa sejarah yang ditandai
peristiwa-peristiwa pembantaian tidak pernah usai hingga saat ini.

Perdamaian seakan menjadi hal yang utopis meski agama yang tengah mereka
bela itu mengajarkan dan mengutamakan perdamaian. Gish dkk. menerjunkan
diri untuk memutus dendam kesumat tiga golongan yang mengaku umat Allah
itu dengan cinta. Tanpa senapan, tanpa bom, bahkan tanpa caci maki.

Dalam situasi konflik, apakah tentara Israel yang menyakiti kaum Muslim
Palestina atau sebaliknya, Gish berusaha hadir dan menghentikan
pertikaian. Misalnya, Gish secara aktif mengawal anak-anak Muslim
Palestina berangkat ke sekolah ketika tentara Israel menghalang-halangi
anak-anak tersebut pergi ke sekolah. Di peristiwa lainnya, Gish mengawal
truk air yang akan mengirimkan air bersih untuk keluarga Muslim
Palestina ketika tentara Israel dan pemukim Israel menyabotase
pengiriman air bersih ke wilayah Muslim.

Ajaibnya, perilaku kasar tentara Israel terhadap Muslim Palestina selalu
berhenti tatkala Gish hadir di tengah-tengah mereka. Efek itu ia namakan
"Grandmother's Effect". Gish dkk. yakin bahwa cucu tidak akan berani
bertindak kurang ajar di depan neneknya. Dalam banyak peristiwa, Gish
dkk. kerap berperan sebagai nenek dan tentara Israel sebagai cucu.

Pikiran Rakyat berkesempatan mewawancarai Gish di sela lawatannya ke
Indonesia atas undangan Penerbit Mizan. Di Indonesia, Gish dijadwalkan
mengunjungi beberapa kota, di antaranya Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung
selama 11 hari. Di kota-kota itu, Gish selalu menyempatkan diri ceramah
di masjid-masjid. Berikut petikan wawancara dengan Gish seusai ceramah
di Masjid Mujahiddin, Jln. Sancang, Kota Bandung, pekan lalu.

Foto Anda yang fenomenal menunjukkan Anda tengah menghadang tank Israel
di Pasar Al Manara. Apa yang Anda pikirkan saat itu?
Entahlah. Itu terjadi begitu cepat. Saya tidak punya waktu untuk
berpikir. Saya hanya digerakkan oleh semangat Tuhan. Saya tahu, bisa
saja saya ditembak oleh mereka. Saya tidak bisa membiarkan mereka
menembaki para pedagang dan Muslim Palestina. Sesaat setelah itu, saya
lemas sekali dan tidak percaya apa yang saya lakukan. Saat itu, banyak
wartawan yang memotret di antaranya dari Associated Press (AP). Keesokan
harinya, tiap koran memasang foto itu.

Ketika Anda tiba di Hebron, apakah Anda bekerja sama dengan kelompok
Kristen di sana. Dan mengapa memilih Kota Hebron?
Harus Anda ketahui, bahwa tidak ada komunitas Kristen di Hebron.
Komunitas Kristen hanya ada di kota-kota seperti di Jerusalem, Ramallah,
Betlehem. Saya datang ke Hebron pada 1995. Saat itu, di Hebron adalah
kota yang paling terbanyak mengalami kekerasan. Terutama setelah
pembantaian 29 lelaki dan anak-anak Muslim yang tengah sembahyang di
Masjid Ibrahim oleh Baruch Goldstein, seorang pemukim Yahudi dari Kiryat
Arba. Banyak NGO (nongovernment organization) di Betlehem, Jerusalem,
dan kota-kota lain. Akan tetapi tidak di Hebron. Makanya kami pilih
Hebron.

Selama di Hebron, apakah Anda tinggal bersama warga Muslim Palestina?
Tidak. Kami punya rumah sendiri. Namun, kami tinggal di antara
permukiman keluarga Palestina. Maka, kami pun banyak menghabiskan waktu
dengan mereka.

**

Sebagaimana ditulis dalam Hebron Journal, hampir setiap hari, Gish dan
rekannya di CPT (Christian Peacemaker Team, tim bagian dari CPM),
menyusuri jalanan Hebron. Gish kerap bertemu dengan tentara Israel yang
tengah menganiaya warga Palestina. Gish dengan sigap menghampiri
tentara-tentara itu hanya untuk meminta mereka menghentikan kekerasan.
Ia tidak akan pergi hingga tentara itu menghentikan aksinya. Pernah
suatu kali, tentara Israel tetap memukuli warga Palestina itu.
"Akhirnya, saya mendekatkan muka saya tepat ke muka tentara itu. Saya
pandangi dia. Akhirnya, mereka berhenti menganiaya warga Palestina,"
ucap Gish yang pernah mendekam di balik jeruji sel tahanan polisi Israel
itu lalu tertawa.

Ketika tiba di Hebron, apa yang Anda katakan kepada warga Palestina atau
pemukim Israel yang ada di sana mengenai diri Anda?

Saya perkenalkan diri sebagai anggota CPT. Kami katakan, kami tidak
memihak siapa-siapa. Bagi kami, tidak ada musuh. Semuanya adalah saudara
dan harus saling menghormati karena Tuhan Allah. Mereka semua tahu topi
merah yang kami kenakan dan bahwa kami adalah CPT.

Anda meyakini prinsip Grandmother's Effect. Tapi kadang banyak
"cucu" yang nakal dan membandel pada neneknya. Apa yang Anda lakukan?
(tertawa kemudian terdiam sejenak)

Masalah saya terbesar di sana adalah mengatasi kemarahan saya. Banyak
ketidakadilan di sana yang membuat saya sangat marah. Tapi kalau saya
marah, pasti akan lebih mudah bagi saya untuk melakukan kekerasan juga.
Oleh karena itu, tantangan terbesar saya di sana adalah mengatasi
kemarahan saya. Hal pertama yang saya lakukan ketika marah adalah
identifikasi kemarahan kita itu, jangan disangkal bahwa kita marah. Akui
saja bahwa kita marah. Tapi, jangan sampai melakukan kekerasan. Hadapi
semuanya dengan cinta. Kemudian kami sharing dengan anggota yang
lainnya. Perjuangan terberat kami di daerah konflik adalah mengalahkan
diri sendiri.

**

Di Ohio, Gish dikenal sebagai tokoh perdamaian tidak hanya setelah
aktivitasnya di Hebron. Sejak tahun 1960-an, Gish muda sudah aktif
menentang Perang Vietnam. Ia dan istrinya, Peggy Gish, terkenal sebagai
dua sejoli cinta damai. Setiap Senin, selama 25 tahun terakhir, Gish dan
Peggy melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Kepala Pemerintahan
Ohio.

Tentu saja, aksi mereka itu dilakukan jika mereka kebetulan berada di
tanah kelahirannya itu. Pasalnya, sejak 1995, setiap musim dingin, Gish
pergi ke Hebron selama tiga bulan. Sedangkan Peggy yang juga aktivis
perdamaian CPT, bertugas di Irak.

Anda dan isteri selalu berunjuk rasa di Ohio setiap Senin. Mengapa
Senin? Dan apa yang Anda suarakan?
Ya, saya telah melakukannya selama 25 tahun ini bersama istri saya.
Setiap Senin, pukul 11.30 sampai 12.30 siang karena itu waktunya makan
siang dan banyak orang lalu lalang di jalanan. Saya tidak ingat mengapa
harus hari Senin. Kami menyuarakan perdamaian.

Lalu, bagaimana respons pemerintah setempat?
Mereka mengabaikan kami. Meski saya kenal wali kotanya dengan baik, saya
juga sering berbicara dengan mereka. Dengan polisi yang menangkapku juga
baik dan saya juga respek pada mereka walau mereka sering menahanku
selama beberapa jam. Setidaknya setahun sekali pasti saya ditahan dan
harus menyelesaikannya di pengadilan.

Apakah itu taktik Anda untuk merekrut orang muda agar bergabung ke CPT?
Ya. Tapi saya seringnya melakukannya secara tidak langsung. Saya sering
ceramah di setiap kota di AS. Tanpa saya ajak, mereka akan tertarik
sendiri ke CPT.

Peggy bertugas di Irak. Sementara Anda di Hebron. Kapan Anda berangkat
lagi ke Hebron?
Peggy di Irak sudah 9-10 minggu. Empat minggu lagi pulang. Saya akan
pergi ke Hebron lagi mungkin Desember. Dia pergi ke Irak pada saat musim
dingin dan musim panas. Kalau saya, hanya di musim dingin.

Mengapa Anda berdua tidak bareng saja?
Kami punya masalah berat. Hati Peggy ada di Irak, sedangkan hati saya di
Hebron. Masalah kedua, yaitu kami sama-sama keras kepala.

Dari siapa Anda mewarisi sifat-sifat antikekerasan seperti ini? Apakah
diajarkan orang tua Anda?
Ya. Orang tua saya bilang bahwa perang itu salah. Bahwa kita harus
menghormati orang dari golongan apa pun, tanpa kekerasan. Orang tua saya
bilang supaya saya tidak jadi tentara. Saya dibesarkan di lingkungan
gereja dan itu bagian terpenting dalam hidup saya. Di sekolah, kita
malah diajarkan untuk mendukung militer dan imperialisme. Padahal, di
gereja tidak diajarkan seperti itu.

**

Selain sebagai aktivis perdamaian, Gish dan Peggy juga dikenal sebagai
sosok sangat bersahaja. Di Ohio, kakek nenek dari tiga orang cucu itu
berprofesi sebagai petani pakcoy dan paria. Kedua jenis sayuran itu
mereka tanam tanpa menggunakan pupuk kimia sedikit pun. Gish mendapat
bibit kedua sayuran itu dari satu keluarga Asia yang bermukim di Ohio
dan ia menanamnya atas permintaan keluarga Asia tersebut.

Selama lawatannya di Indonesia, Gish tidak senang jika harus bermalam di
hotel, terlebih hotel berbintang. Ia memilih bermalam di rumah penduduk
asli. Selama di Bandung khususnya, Gish bahkan sempat "merengek" ingin
membantu petani di bilangan Ciwastra yang sedang mencangkuli lahan
sawahnya.

Di sela istirahat di Masjid Mujahiddin, Kota Bandung, Gish sempat
menunaikan ibadah salat Zuhur. Ya, sebagai penganut Kristen, Gish juga
kerap salat lima waktu, salat Jumat, bahkan berpuasa. Dalam ceramahnya,
Gish kerap mengutip ayat-ayat Kitab Suci Alquran menunjukkan bahwa ia
juga sedikitnya menguasai kitab suci umat Islam. "Bagi saya, bentuk
ritual apa pun, pada intinya berserah pada Allah," ucapnya.

Ini kunjungan Anda pertama kali ke Indonesia. Bagaimana menurut Anda
mengenai Indonesia mengingat citra Indonesia cukup muram di mata
internasional?
I love Indonesia. Di sini tempatnya indah. Masyarakatnya baik. Saya
benar-benar jatuh cinta kepada masyarakatnya. Mereka yang menganggap
buruk itu seharusnya datang langsung ke Indonesia dan menghabiskan
waktunya bersama masyarakat.

Selama di Indonesia, mayoritas "audience" ceramah Anda adalah kalangan
Muslim. Apakah Anda tidak mengunjungi komunitas Kristen di sini?

Tentu saja saya mau. Tapi waktu saya sangat terbatas. Saya diundang
Mizan dan saya hanya 11 hari. Tapi saya sudah berkomunikasi dengan salah
satu pemimpin Kristen di sini. Saya ingin sekali bisa berkomunikasi
lebih banyak.

Apa pesan Anda kepada masyarakat Indonesia?
Palestinian sangat menghargai support dari masyarakat seperti Indonesia.

Apa yang bisa kami lakukan?
Educate yourself sehingga bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi sana.
Bergabunglah bersama organisasi-organisasi solidaritas. Anda tidak usah
datang langsung ke sana, apalagi menambah kekerasan. Aplikasikan
prinsip-prinsip perdamaian di mana Anda berpijak. (Lina
Nursanty/"PR")***

sumber:
http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=25\
904


Kirim email ke