Saya sangat sangat setuju sekali Pak Dohan ..andai saja semua manusia di dunia 
ini merasa sejiwa dengan Alam Semesta ya...Amiiin



----- Original Message ----
From: dohan satria <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, October 23, 2008 1:57:01 PM
Subject: Re: [Mayapada Prana] Fw: Rumah Jiwa


Terimaksih sharingnya ,.
Alangkah indahnya Bila masing masing manusia benar benar merasa menjadikan 
"Alam Semesta ini" menjadi Jiwa satu dan Jiwa satunya..

Salam Sejati
do2

--- On Thu, 23/10/08, Rudianson <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: Rudianson <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: [Mayapada Prana] Fw: Rumah Jiwa
To: "alumni fe'88" <[EMAIL PROTECTED] .com>, "Alumni FXplus" 
<AlumniExFedExplusRP [EMAIL PROTECTED] com>, "FonsVitae alumni" 
<FonsVitaeAlumni@ yahoogroups. com>, Batak_Cyber@ yahoogroups. com, 
indobackpacker@ yahoogroups. com, [EMAIL PROTECTED] .com, FEUNSJAKARTA@ 
yahoogroups. com, [EMAIL PROTECTED] s.com, kho-ping-hoo@ yahoogroups. com, 
mayapadaprana@ yahoogroups. com, psikologi_transform [EMAIL PROTECTED] .com, 
Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, [EMAIL PROTECTED] .com, "Ary aryajati" 
<[EMAIL PROTECTED] com>, "joko heroe" <[EMAIL PROTECTED] com>, 
urantia-indonesia@ yahoogroups. com
Date: Thursday, 23 October, 2008, 12:58 PM


Just share,
dari milis sebelah,
thanks mod...

brgds
________________________________
 Rumah Jiwa 

"Kediamanmu akan menjadi tempat tinggal jika membuat Anda dan jiwa yang tinggal 
di dalamnya merasa tentram. “
-- Phillip Moffitt, penulis dan pendiri Life Balance Institute, tinggal di 
Amerika

INI satu kisah tentang sembilan bersaudara yang telah berhasil dalam meraih 
karir dan cita-cita yang diimpikan. Dari kesembilan bersaudara tersebut, hanya 
seseorang yang memiliki rumah sangat sederhana. Delapan bersaudara yang lain, 
rumahnya tergolong mewah dan lapang. Bahkan berlantai dua. Lantas, ada apa 
dengan rumah sederhana itu?

Rumah itu tak luas. Tergolong rumah mungil dengan nama generik: tipe 36. Namun 
kok anehnya, orang yang tinggal di sana selalu berwajah ceria, senang, dan 
hampir tak ada cekcok. 

Tidak hanya itu. Di waktu-waktu tertentu, saat liburan sekolah tiba, rumah 
sederhana itu tiba-tiba penuh sesak dengan anak-anak. Usut punya usut, mereka 
adalah keponakan si empunya rumah, Pak Joko, itulah nama pemilik rumah 
sederhana itu. Mereka datang ke sana, dari berbagai tempat. Dalam setiap acara 
dan kegiatan, para saudara dekat dan jauh mereka, lebih senang memilih dan 
menginap di rumah tersebut. Bukan semata karena mereka tak punya uang untuk 
sekadar menginap di rumah yang sempit itu. Dengar-dengar, ayah mereka hidup 
berkecukupan. 

Pernah beberapa kali, ketika kakak dan adiknya Pak Joko mengadakan hajatan dan 
menyediakan lantai duanya yang lebih lapang dengan beberapa kamar untuk 
menginap, mereka malah memilih untuk menginap di rumah Pak Joko. Mereka pun 
diantar ke rumah itu dengan mobil yang masih mengilap dan baru modelnya.

Tapi memang begitulah faktanya. Mereka justeru lebih senang jika bertandang dan 
bertamu ke rumah Pak Joko walau rumahnya tergolong sederhana. Itulah yang 
dirasakan saudara-saudara Pak Joko. Ya, tapi kenapa mereka mau berdesakan di 
sana?

Pakde Joko, begitulah mereka memanggilnya. Pria berambut keriting dengan 
kacamata yang selalu nangkring di hidungnya itu punya cara asoy untuk 
menjadikan rumahnya selalu membuat betah pengunjungnya.

Pak Joko tak pernah menyuguhkan kemewahan dan fasilitas layaknya hotel 
berbintang lima. Keluarga Pak Joko hidup secara sederhana. Jika tamu-tamu 
datang, Pak Joko beserta isterinya hanya menyuguhkan minuman teh dan kopi panas 
ditambah makanan khas daerah.

Tetapi yang paling penting yang diberikan Pak Joko kepada tamu-tamunya ialah 
sikapnya yang justru membentuk rumahnya yang sederhana menjadi rumah jiwa. 
Rumah jiwa, rumah yang diisi oleh keramahan, ketulusan, kesederhanaan, 
kenyamanan, dan keikhlasan yang ditampilkan oleh Pak Joko beserta keluarganya. 

Keramahan. Itulah yang dilakukan Pak Joko setiap kali menerima saudara dan 
tamunya. Pak Joko selalu menyambut dengan penuh kehangatan. Dengan tawa dan 
senyum yang tak pernah lepas setiap kali ia berjumpa dengan orang lain. Pak 
Joko sendiri memang pandai bergaul kepada setiap orang. Berbicara dengan penuh 
canda dan persahabatan kepada setiap orang tanpa kecuali.

Ketulusan. Pak Joko tak pernah menolak bahkan mengeluh sedikitpun kepada siapa 
saja yang bertandang ke rumahnya. Ia tak pernah membedakan status seseorang 
yang hadir di rumahnya. Semua ia layani dengan penuh ketulusan. 

Kesederhanaan. Itu jugalah yang ada pada keseharian Pak Joko. Hidupnya 
betul-betul sederhana, jauh dari kemewahan. Ia melayani saudara dan tamunya apa 
adanya. Pak Joko tak pernah membuat sesuatu menjadi ada kalau memang tidak ada, 
atau istilahnya, mengada-ada yang tidak ada. Begitu juga sebaliknya, Pak Joko 
tak pernah menyembunyikan yang ada menjadi tidak ada. Malah, saudaranya yang 
selalu membawakan oleh-oleh dan panganan ringan untuk disantap bersama.

Kenyamanan. Setiap orang yang berkunjung ke rumahnya selalu merasa nyaman. 
Kalau orang seberang bilang, feel like at home. Merasakan seperti rumah 
sendiri. 

Dan ini yang paling penting, keikhlasan. Pak Joko selalu menerima siapa saja 
yang hadir di rumahnya dengan penuh keikhlasan. Tanpa pamrih sekalipun.

Dengan kata lain, rumah Pak Joko merupakan pantulan jiwa Pak Joko sendiri. 
Memang begitulah sejatinya sebuah konsep rumah. Bukan dalam pengertian fisik 
rumah itu sendiri. House is not a home but home is more than a house. Rumah 
bukanlah sebuah tempat tinggal biasa, tetapi lebih dari itu. 

Rumah yang baik adalah rumah yang diisi oleh jiwa-jiwa yang baik. Jiwa-jiwa 
yang penuh dengan ketenangan. Penuh ketulusan, keikhlasan, dan memiliki 
kedamaian. Itulah mengapa ada istilah ‘rumahku adalah surgaku’. Atau kalau 
orang bule bilang, ‘home sweet home’. Setiap orang yang merasa harus pergi dari 
rumah tersebut karena sudah waktunya, akan merasakan ingin kembali lagi.

Sebuah rumah juga haruslah dapat memberikan unsur surgawi dan inspiratif bagi 
pemiliknya. Pribadi-pribadi dalam rumah itulah yang harus dapat 
mengekspresikannya. Menjadikannya sebagai rumah jiwa yang indah. Bila itu 
terjadi, sekecil atau sebesar apa pun suatu rumah, maka akan memberikan 
keteduhan dan ketenteraman bagi para penghuninya. ’A house is a home when it 
shelters the body and comforts the soul’ atau dapat dikatakan, kediamanmu akan 
menjadi tempat tinggal jika membuat Anda dan jiwa yang tinggal di dalamnya 
merasa tentram.

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda membangun rumah jiwa disana? (201008)

Sumber: Rumah Jiwa oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta  
________________________________
 Dapatkan nama yang Anda sukai! 
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail. com.  

________________________________
 Get your new Email address!  
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!    


      

Kirim email ke