Ketika Dunia Tersenyum

 

Written by : Ruli Amirullah

 

Malam itu kami sedang beramai-ramai makan di sebuah warung pinggir
jalan. Dan tiba-tiba celetukan yang ada membahas hal-hal yang agak 
“menyeramkan”..

            “Bisa-bisa, suatu saat
kita denger kabar begini, eh si A (nama salah satu teman yang juga hadir
disitu) meninggal, gara-gara penyakit AIDS..”

            Kami pun tertawa
mendengarnya, karena teman tersebut, memang punya kelakuan yang nakal, suka
menggoda setiap wanita yang lewat, hingga dengan hiperbola, dia disebut cowok
murahan oleh yang lain.

            Tidak mau kalah,
celotehan yang agak-agak keterlaluan berlanjut, “Kalau elu  begini kabarnya, Eh 
si B meninggal, gara-gara
emosi..”

            Si B, hanya tertawa
mendengarnya, karena memang dia terkadang suka mudah tersulut emosinya bila
sedang pusing.. “Dari pada elu, eh si C meninggal.. kenapa? Gara-gara masuk 
angin!”
katanya tidak mau kalah, meledek si C yang memang sering bersendawa dengan
alasan masuk angin..

            Saya tersenyum
mendengar celotahan riang mereka, walau agak-agak takjub, bercanda kok serem
yah..

 

They talk about the death…

 

***

Assalamaulaikum Wr Wb,

 

Dear all,

Walaupun seram, tapi kematian
pasti datang bukan kepada kita semua? Saya pernah baca, bahwa di seluruh dunia
ini, setiap 1 detik ada 1,5 orang yang meninggal. Dengan kata lain dalam 2
detik, ada 3 orang meninggal. Dengan berbagai sebab, ketuaan, penyakit, bencana
maupun perang..

 

Bila teman-teman sudah membaca
sampai paragraph ini, berarti sudah melewati 30 detik sejak awal email, dan itu
berarti sudah ada 45 orang di seluruh belahan dunia ini yang meninggal..

 

Kematian pasti datang kepada
kita, cepat atau lambat..

 

Apa yang bisa kita lakukan?

Nothing..

 

Kita hanya bisa mengisi hidup
kita dengan sesuatu, hingga akhirnya malaikat maut datang menjemput kita.
Mengisi dengan apa? Itulah pilihan kita sendiri. Bisa mengisi dengan
biasa-biasa saja. Bagaimana maksudnya biasa-biasa saja? Ya begini, bangun pagi,
berangkat kerja, mengerjakan tugas-tugas rutin, pulang kerja, tidur… begitu
seterusnya.. hingga akhirnya saat kita meninggal, beberapa orang membicarakan
kita..

“Eh, si A meninggal..”

“A.. A yang mana ya?”

“Itu, A yang di bagian marketing, yang sering bareng si C..”

“Oh.. A yang itu.. iya ya.. kasian amat ya, kenapa meninggal?”

“Penyakit, biasalah.. hari gini.. blabla bla…”

Sedih ya.. kita tidak terlalu
dikenal, bahkan dikenalnya karena kita dekat dengan seseorang. Mengapa bisa
begitu? Karena tidak ada sesuatu yang istimewa yang kita berikan pada
lingkungan. Kita hanya memikirkan diri sendiri. Kita hanya menjadi orang yang
biasa saja. Hingga saat kita meninggal, tidak ada yang merasa kehilangan kita…

 

Atau mau diisi dengan kejahatan? Hii..
siapa juga yang mau?? Eh tapi, siapa tau ada percakapan begini saat kita
meninggal..

“Eh, kenal A kan?”

“Ya kenal lah…. Emang kenapa?”

“Si A meninggal!”

“Akhirnya meninggal juga tuh orang..”

“Iya, dunia damai dah rasanya gak ada dia. Blabla bla…”

Mmmm… jangan sampai yang kita di
omongin gitu kalau meninggal… memang dikenal sih, tapi dikenal karena
sifat-sifat kita yang buruk..

 

Atau mau yang seperti ini?

“A meninggal..”

“Innalilahi wa’ina ilaihi rojiun… kenapa??”

“Serangan jantung tadi pas lagi kerja”

“Mengapa ya orang baik selalu cepat meninggalnya? Padahal baru aja
kemaren sore dia Bantu saya saat saya kesusahaan… Semoga semua amalnya diterima
ya…”

“Iya, dia juga dulu pernah Bantu saya, waktu blabla bla…”

Hmmm… indah ya!

Apalagi bila tidak hanya
lingkungan dekat yang membicarakan tentang kita. Tapi juga orang-orang umum..
Seperti yang saya baca saat Ali Alatas meninggal, ucapan belasungkawa ditambah
dengan berbagai kenangan baik meluncur dari banyak kalangan di seluruh dunia.
Puluhan duta besar mengiringi pemakamannya. Semua orang, bahkan yang
bersebrangan dengannya sekalipun, memuji beliau sebagai sosok yang karismatik
dan ulung bernegosiasi..

Mengapa? Karena begitu banyak
yang telah dia berikan kepada sekitar. Bukan hanya sekitar, tapi juga
negaranya, bukan hanya negara tapi juga dunia..

 

Sehingga dunia mengenangnya
dengan senyum…

 

Kita memang tidak pernah bisa
menghindar dari kematian. Saat teman-teman sudah sampai pada bagian ini,
berarti sudah sekitar 270 orang meninggal dunia… kita hanya tinggal menunggu
waktu dan bergabung dengan barisan almarhum yang sudah lebih dulu pergi..

 

Tapi, kita masih ada waktu untuk mengisinya dengan memberikan yang
terindah bagi dunia, sehingga dunia mengenang kita dengan tersenyum..

 

Wassalam..



Ruli Amirullah
Feel the love of Ar Rahmaan
Wanna feel it? Join ESQ Training..
Read my article at : http://ruliamirullah.multiply.com
Contact me at : 085-888-509931
send Email to: [email protected]
Website : www.esqway165.com




      Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke