Dari: Wal Suparmo <[email protected]>
Topik: Bls: [Koran-Digital] Syaefudin Simon, mantan pengikut Komunitas Eden : 
Lia Eden dan Agama Masa Depan
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 24 Desember, 2008, 9:03 AM







Salam,
Sejak permulaan Lia EDAN ( Eden) memulai propaganda agamanya sudah salah dengan 
menyebut TOKOH EMAJINER seperti JIBRIL yang berasal dari Timur 
Tengah.Sebenarnya di dunia Timur, tokoh DEWI KWAN IM mungkin lebih tepat 
apalagi Lia Eden seorang wanita.Tetapi bagaimanapun ideenya sangat creatif dan 
tidak boleh ditertawakan dalam mencari trobosan bagi manusia dan dunia yang 
sekarang dikacaukan oleh agama.Lia Eden lahir 100 tahun terlalu DINI(cepat), 
karena  gagasannya mungkin baru akan terlaksana 100 tahun yang akan datang.Maka 
karena itu, agama2 dari Timur Tengah selalu sangat mengidam-idamkan terjadi 
KIAMAT sebelum  gagasan Lia Eden itu menjadi kenyataan.
Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Rab, 24/12/08, korandigital <[email protected]> menulis:

Dari: korandigital <[email protected]>
Topik: [Koran-Digital] Syaefudin Simon, mantan pengikut Komunitas Eden : Lia 
Eden dan Agama Masa Depan
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 24 Desember, 2008, 8:40 AM







Lia Eden dan Agama Masa Depan


Syaefudin Simon, mantan pengikut Komunitas Eden 
Sastrawan Danarto, sewaktu masih aktif di komunitas Lia Eden, pernah bertanya 
kepada saya. Seandainya sosok yang mengaku Jibril itu bukan Jibril yang 
sebenarnya, apa yang akan terjadi pada komunitas Kerajaan Eden? "Bubar. 
Komunitas Lia Eden tidak ada artinya sama sekali!" jawab saya. 
Danarto tampaknya perlu mempertanyakan sosok yang mengaku Jibril yang konon 
"selalu" menyertai Lia Aminudin dan mendominasi seluruh urusan Kerajaan Eden 
tersebut. Sosok yang mengaku Jibril inilah yang sesungguhnya menjadi 
"episentrum" yang mengendalikan jemaah Lia Eden sehingga ketika Jibril 
memberikan instruksi yang aneh-aneh, seperti menyebarkan surat-surat yang 
berisi wahyu penghapusan semua agama, anggota Komunitas Eden tak bisa berbuat 
lain kecuali menaatinya tanpa reserve. 
Ketaatan buta terhadap Jibril ini bagi Komunitas Eden adalah sebuah 
keniscayaan, karena Jibril adalah "tangan kanan" Tuhan dan penyampai wahyu 
Tuhan kepada manusia melalui rasul-rasul-Nya . Itulah sebabnya, bila seseorang 
melanggar perintah Jibril, sama artinya melanggar perintah Tuhan. Bagi para 
pengikut agama-agama Semit seperti Islam, Kristen, dan Yahudi--meminjam istilah 
Karen Amstrong--konsekuensi tersebut bisa dimengerti karena Jibril adalah sosok 
sentral yang menjadi perantara wahyu dan pembimbing para rasul. Tapi sejauh 
manakah orisinalitas Jibril yang hadir dalam sosok Lia Eden, itulah yang 
menjadi pertanyaan para pengikut agama-agama Semit di atas. 
Dengan latar belakang inilah--di mana Jibril menjadi episentrum Jamaah Lia 
Eden--kita bisa memahami sepak terjang Komunitas Eden tersebut. Lia Aminudin, 
seperti diceritakan dalam ceramah-ceramah, risalah-risalah, dan buku-bukunya 
yang dikirimkan kepada publik, dinyatakan telah dipilih Tuhan untuk memimpin 
sebuah era baru bahwa umat manusia akan diperintah langsung oleh Jibril melalui 
sebuah Kerajaan Tuhan (Kingdom of God). Kehadiran Kingdom of God ini, menurut 
Lia Eden, merupakan penggenapan wahyu Tuhan dalam kitab-kitab sucinya yang 
pernah dibawa para rasul (Al-quran, Injil, Taurat, Zabur, Veda, Avesta, 
Tripitaka, Tao The King, Lun Yu, dan kitab-kitab suci yang lain). 
Dalam agama Islam maupun Kristen, misalnya, kehadiran Kerajaan Tuhan ini telah 
lama dibicarakan orang. Dalam Islam, misalnya, ada kepercayaan bahwa kelak di 
akhir zaman akan muncul Imam Mahdi dan Isa Al-Masih yang akan memerintah umat 
manusia dengan keadilan yang sempurna. Dalam agama Kristen, kepercayaan seperti 
itu juga muncul, yakni Yesus akan menjadi raja dalam Kingdom of God yang akan 
menegakkan keadilan yang sempurna kepada umat manusia. 
Membubarkan agama 
Menurut "wahyu" yang turun kepada Lia Eden, kekacauan dunia disebabkan oleh 
konflik-konflik yang muncul dalam umat beragama. Umat beragama dengan keimanan 
terhadap tuhannya masing-masing telah menyebabkan bumi penuh pertikaian, 
peperangan, dan ceceran darah. Karena itu, untuk menciptakan perdamaian di 
dunia, maka faktor penyebab kekacauan itu--yaitu agama--harus dibubarkan. Dalam 
konteks inilah, mengapa Lia Eden mengirimkan surat-surat yang berisi deklarasi 
penghapusan agama-agama di dunia. Dalam kaitan ini, agama Islam dituduh sebagai 
"biang kerok" dari munculnya kekerasan dan terorisme di dunia saat ini. Karena 
itu, wahyu tentang penghapusan agama pertama-tama ditujukan kepada agama Islam. 
Setelah itu, agama-agama lain juga harus dihapuskan karena, bagaimanapun, agama 
adalah faktor pemicu konflik dan kekerasan di tengah kehidupan manusia. 
Jamaah Lia Eden sendiri telah lama diperintahkan keluar dari "agama-agama" 
formal, seperti Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, dan Buddha. Mereka memilih 
"Bertuhan tanpa agama". Dengan cara demikian, manusia bisa dipersatukan tanpa 
hambatan perbedaan label keimanan; tanpa hambatan perbedaan label agama yang 
sering menimbulkan kekacauan dan peperangan. 
Bertuhan tanpa agama sebetulnya sudah lama menjadi fenomena keberagamaan 
modern. Kaum perenialis--yang juga menjadi klaim diri dari Komunitas 
Eden--telah lama melakukan pendekatan keagamaan seperti itu. Meski demikian, 
ada perbedaan yang menonjol antara fenomena perenialisme modern dan 
perenialisme Komunitas Eden. 
Kaum perenialis modern merefleksikan keimanannya terhadap Tuhan (yang tak 
bernama ) dengan memperbesar cinta kemanusiaan (humanisme), menegakkan 
demokrasi, dan memperjuangkan tegaknya HAM. Kaum perenialis modern adalah 
orang-orang yang bekerja keras dengan mengedepankan profesionalisme untuk 
mempertinggi kualitas hidup manusia. Bagi kaum perenialis modern, bekerja untuk 
mewujudkan cita-cita (tegaknya humanisme, demokrasi, dan HAM) adalah sebuah 
keniscayaan dalam membentuk dunia baru yang damai dan sejahtera. Tanpa adanya 
kemakmuran ekonomi, intelektualitas, dan kedewasaan kultural, perenialisme 
modern tidak akan berkembang. Dengan demikian, demokrasi dan HAM merupakan 
tujuan utama gerakan perenialisme. Karena itu, jika pun akan lahir agama baru 
dari rahim perenialisme modern, agama baru itu niscaya akan mengusung demokrasi 
dan HAM sebagai basis keimanannya. Lebih jauh lagi, seperti ditulis Neale 
Donald Walsch dalam bukunya yang inspiratif, Conversation
 with God, agama baru di masa datang haruslah agama yang mengedepankan 
prinsip-prinsip keimanan untuk menyelamatkan bumi dari kehancuran. Karena itu, 
basis keimanan agama masa depan adalah kesadaran manusia terhadap pentingnya 
penegakan demokrasi, HAM, dan perbaikan lingkungan hidup. 
Ini berbeda dengan Komunitas Eden. Di satu sisi, mereka memperjuangkan 
perenialisme--bahkan secara ekstrem mendeklarasikan pembubaran agama demi 
tegaknya perenialisme--tapi di sisi lain mereka mendeklarasikan kehadiran 
Kingdom of God, dengan pemimpinnya "Bunda Maharaja Lia Eden" yang setiap 
kata-katanya harus ditaati tanpa reserve. Dalam Kingdom of God, prinsip-prinsip 
demokrasi dan HAM justru dienyahkan. Titah Maharaja Lia Eden sebagai 
"personifikasi Jibril", yang merupakan "tangan kanan" Tuhan, tak bisa diganggu 
gugat. Mereka, para pengikut Kingdom of God, hanya tahu satu kata: sami'na wa 
ato'na (kami dengar dan kami taat) apa yang diperintahkan oleh Sang Raja, 
betapapun perintah itu tidak rasional, tidak demokratis, dan tidak humanis. 
Itulah anomali perenialisme Komunitas Eden: gagal merespons dan memberikan 
perspektif agama masa depan. Kegagalan ini terjadi karena perenialisme yang 
diusung Komunitas Eden melawan arus peradaban manusia saat ini. 
Kita tahu, sejarah kemunculan agama-agama baru di dunia selalu memperbaiki 
kondisi-kondisi agama yang ada sebelumnya dengan fokus memberikan "penghargaan" 
terhadap manusia yang makin rasional, dewasa, dan mempercayai kedaulatan ilmu 
pengetahuan. Sebaliknya, apa yang dilakukan Komunitas Eden? Mereka lebih 
mempercayai ramalan-ramalan masa depan, menghidupkan kultus, dan puncaknya 
meyakini kedatangan Sang Mesiah yang mempunyai otoritas tunggal dalam 
menyelamatkan bumi dan mengatur kehidupan manusia. Dan Sang Mesiah itu, menurut 
Komunitas Eden, kini sudah hadir dalam sosok Lia Aminudin. 
Dari perspektif inilah kita bisa memahami pertanyaan Danarto di atas. Siapakah 
sosok yang mengaku Jibril itu jika dia bertindak anomalis terhadap perkembangan 
dan arus peradaban manusia modern? Bukankah kehadiran Jibril pada masa-masa 
lalu selalu tepat merespons perkembangan zaman dengan menghadirkan agama-agama 
yang membebaskan manusia dari kejumudan dan kultus individu? Jibril, dalam 
Kingdom of God, sayangnya, justru datang dengan isu-isu yang sebaliknya: 
mengenyahkan demokrasi dan menghidupkan kultus. Sebuah isu yang tidak akan laku 
dalam komunitas manusia modern saat ini. *
 


      Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari 
Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! 
http://id.messenger.yahoo.com/invite/

Kirim email ke