HR Natal Fajar: Yes 62:11-12;
Tit 3:4-7; Luk 2:15-20
"Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti
yang diberitahukan Tuhan kepada
kita.”
Cicero
adalah seorang komandan perang yang handal dan tangguh, pasukannya senantiasa
menang dalam peperangan atau pertempuran, padahal jumlah anggota pasukan tidak
besar. Perang atau pertempuran pada masa ini antar musuh harus berhadapan muka,
maklum pasukannya adalah pasukan berkuda, sedangkan senjatanya adalah pedang
atau panah. Waktu itu Cicero
memimpin tentara berjumlah 100 (seratus) tentara dan harus menghadapi pasukan
musuh yang berjumlah besar, lebih dari 1000 (seribu) tentara. Cicero
harus memutar otak alias berpikir matang untuk menyusun strategi perang.
Setelah berpikir dan mempertimbangkan banyak hal akhirnya Cicero
memutuskan strategi perang sbb: “Pasukannya
tidak perlu langsung melawan berhadapan dengan pasukan musuh, melainkan mereka
diperintahkan menyusup ke daerah musuh melalui jalan lain, dan setiap
tentara/orang harus ‘menculik’ anak atau bayi dari musuh”. Perang atau
pertempuran memang belum
dimaklumkan dan pasukan nampak masih dalam persiapan, tetapi anak buah Cicero
telah menyusup ke daerah lawan melalui jalan lain tanpa membawa senjata dan
memang masing-masing tentaranya berhasil menculik seorang anak atau bayi. Dengan
penculikan anak atau bayi tersebut, maka para ibu menangis dan berteriak-teriak
menyusul atau menemui suam-suami mereka yang siap perang. Para
ibu menceriterakan bahwa tentara musuh telah menculik anak-anak mereka.
Mendengar dan memperhatikan laporan, tangis dan derita para ibu atau
isteri-isteri mereka, maka pasukan yang semula siap perang dan membunuh
‘betekuk-lutut’, alias tidak jadi perang, malainkan memaklumkan perdamaian
dengan Cicero dengan harapan anak-anak atau bayi mereka dikembalikan. Dan
memang perdamaian sungguh terjadi karena anak-anak atau bayi tersebut. Dalam
hati para tentara ada bisikan luhur: untuk apa hidup dan berjuang, bukankan
untuk anak-anak kita. Anak-anak atau bayi telah membuat para orang dewasa untuk
saling bertekuk-lutut dan bersujud membangun dan memperdalam pedamaian
sejati. Hari ini kita rayakan atau
kenangkan kelahiran ‘Seorang Bayi’, Penyelamat Dunia yang diiringi pujian
gembira oleh para malaikat: “Kemuliaan
bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara
manusia yang berkenan kepada-Nya."(Luk 2:14). Mendengar pujinn gembira
tersebut pada gembala yang tertidur di kegelapan malam yang dinginpun terbangun
dan kemudian berseru bersama: "Marilah
kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang
diberitahukan Tuhan kepada
kita.”(Luk 2:15)
"Marilah
kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang
diberitahukan Tuhan kepada kita.” (Luk 2:15)
Dalam (salah satu) Perayaan
Ekaristi Natal hari ini pada umumnya dikhususkan bagi anak-anak bersama dengan
orangtuanya: koor oleh anak-anak, ada persembahan dari anak-anak kepada
Kanak-Kanak Yesus yang terbaring di palungan, pesta anak-anak dst… Dengan kata
lain kepada kita semua diharapkan mengarahkan pandangan dan perhatian kita
kepada anak-anak dan tentu saja juga kepada Kanak-Kanak Yesus yang terbaring di
palungan, bersembah-sujud kepadaNya. Hendaknya diakui, diimani dan dihayati
bahwa anak-anak atau bayi-bayi lebih suci, murni, bersih daripada orang
dewasa/kakak-kakak atau orangtuanya sendiri. Maka marilah, bersama dengan ‘para
gembala’, kita ‘pergi ke Betlekem untuk
melihat apa yang terjadi di sana,
seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita”..
Ingat dan sadari bahwa beberapa
penjahat sering mengarahkan pandangan dan perhatiannya pada anak-anak untuk
‘diculik’ dan dijadikan ‘tameng’ atau alat untuk memeras uang sebanyak mungkin
dari para orangtuanya. Beberapa orangtua juga telah bertekuk-lutut serta
menyerahkan
sebagian besar harta atau uangnya kepada penjahat demi anak-anaknya. Maka
baiklah sekarang kita arahkan pandangan dan perhatian kita kepada anak-anak,
dengan kata lain kita wujudkan sembah-sujud dan kebaktian kita kepada
Kanak-Kanak Yesus dengan bersembah-sujud dan
berbakti kepada anak-anak. “Kita harus
mengajarkan nilai kepada anak-anak kita karena inlah amal yang paling nyata dan
paling efektif yang dapat kita perbuat untuk kebahagiaan mereka” dan
nilai-nilai itu antara lain “kejujuran, keberanian, cinta damai,
keandalan diri/potensi, disiplin diri/tahu batas, kemurnian/kesucian,
setia/dapat dipercaya, hormat, cinta/kasih sayang, peka/tidak egois, baik
hati/ramah, adil/murah hati” (lihat:
Linda & Richard Eyre: Mengajarkan Nilai-nilai kepada anak-anak,
Gramdia - Jakarta 1997, hal
xvii- xxvii).
“Metode terbaik untuk mengajarkan nilai kepada anak-anak adalah contoh
tentang siapa kita dan yang kita berikan. Contoh selalu menjadi guru yang
paling baik - dan yang kita perbuat selalu berdampak lebih luas, lebih jelas,
dan lebih berpengaruh daripada yang kita katakana” (ibid, hal xxviii-xxix).
Perhatikan dan cermati bahwa anak-anak akan melihat dan mendengarkan dengan
cermat,
tekun dan penuh penyerahan diri pada apa yang anda katakan dan perbuat; dan apa
yang dilihat dan didengarkannya akan sangat berpengaruh pada perkembangan dan
pertumbuhan kepribadiannya. Itulah kiranya yang ‘diberitahukan Tuhan kepada
kita’ ketika kita berada di depan anak-anak
“Ketika
nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada
waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah
kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan
oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya
kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang
yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal,
sesuai dengan pengharapan kita.” (Tit 3:4-7)
Kelahiran Yesus, Penyelamat
Dunia, di tengah-tengah kita merupakan ‘kemurahan
Allah, kasihNya kepada manusia’, hal yang sama kiranya juga kita imani dan
hayati ‘kelahiran seorang anak’ di tengah-tengah kita. Dialah dan juga
anak-anak menjadi ‘pengharapan kita’ semua, maka marilah kita senantiasa
bergembira,
ceria , bergairah, dan dinamis karena kemurahan Allah yang penuh pengharapan
ini. Kita wujudkan kegembiraan, keceriaan dan kegairahan kita dengan berbuat
baik kepada sesama agar mereka juga bergembira, ceria dan
bergairah dalam hidup yang sarat dengan tantangan dan hambatan pada saat ini.
Namun ingat dan hayati bahwa jika kita dapat berbuat baik kepada orang lain
tidak lain merupakan rahmat Allah, Allah yang hidup dan berkarya dalam diri
kita yang lemah dan rapuh ini.
Hari ini kita kenangkan “Juruselamat
Dunia”, dan kepada kita semua dianugerahi panggilan dan tugas pengutusan untuk
menjadi ‘juruselamat dunia’ juga. Maka dimana ada bagian dunia, seluk beluk
dunia tidak selamat di situlah kita dipanggil untuk menyelamatkannya. Ingat dan
hayati kita kenangkan atau rayakan adalah Penyelamat ‘Dunia’ bukan penyelamat
orang Kristen atau Katolik. Maka marilah kita wujudkan bersama-sama kidung
pujian para malaikat “damai sejahtera di
bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.". Memang pertama-tama
dan terutama bagian dunia yang harus kita selamatkan adalah lingkungan hidup
kita sehari-hari, yaitu keluarga maupun tempat kerja dan terutama adalah
kelauarga atau komunitas kita masing-masing, dimana kita menjadi anggotanya.
“Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang
yang tulus hati. Bersukacitalah karena TUHAN, hai orang-orang benar, dan
nyanyikanlah syukur bagi nama-Nya yang kudus.”
(Mzm 97:11-12)
.
“SELAMAT
NATAL 2008 DAN TAHUN BARU 2009”
Jakarta,
25 Desember 2008
Ign.Sumarya SJ
___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/