--- Pada Kam, 15/1/09, Imelda <[email protected]> menulis:
Dari: Imelda <[email protected]>
Topik: FW:  kasih
Kepada: 
Tanggal: Kamis, 15 Januari, 2009, 2:18 AM




 
 


 

 







   

   



   

Thanks & Be st
Regards, 

IMELDA 

PT. Stretchline 

Telp. (62 21) 552
2111 (ext. 220) 

Fax. (62 21) 552
2333 

Email: [email protected] 

   

 



   

   

   


 
  
  
   
    
    
    Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran.
    Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak
    perempuanmu tersayang untuk makan. Aku taruh koran dan melihat anak
    perempuanku satu2nya, namanya Sindu tampak ketakutan, air matanya banjir di
    depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas
 India 
    /curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang
    baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku
    masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling
    effect”. 
    
    Aku mengambil
    mangkok dan berkata Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa
    sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah.  
    Aku bisa merasakan
    istriku cemberut di belakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia
    menghapus air mata dengan tangannya, dan berkata “boleh ayah akan saya
    makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok tapi semuanya akan saya
    habiskan, tapi saya akan minta” agak ragu2 sejenak “akan minta sesuatu sama
    ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan
    saya?”  
    Aku menjawab
    “oh pasti, sayang.”  
    Sindu tanya
    sekali lagi, “betul nih ayah ?”  
    “Yah pasti
    sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai
    tanda setuju.”  
    Sindu juga
    mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu
    yang merengek sambil berkata tanpa emosi, janji kata istriku. Aku sedikit
    khawatir dan berkata: “Sindu jangan minta komputer atau barang2 lain yang
    mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.”  
    Sindu menjawab
    : jangan khawatir, Sindu tidak minta barang2 mahal kok. Kemudian Sindu
    dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad
    menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri
    dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya.  
    Setelah Sindu
    melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap, dan semua
    perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata Sindu
    mau kepalanya digundulin/dibotakin pada hari Minggu. Istriku spontan
    berkata permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin. Juga
    ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak
    nonton TV dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita.  
    Aku coba
    membujuk: Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih
    melihatmu botak. Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, tidak ada yah, tak ada
    keinginan lain, kata Sindu. Aku coba memohon kepada Sindu : tolonglah
    kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami.  
    Sindu dengan
    menangis berkata : ayah sudah melihat bagaimana menderitanya saya
    menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi
    permintaan saya. Kenapa ayah sekarang mau menarik/menjilat ludah sendiri?
    Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi
    janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja
    Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya rela
    memberikan tahta, harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.  
    Sekarang aku
    memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku : janji kita harus ditepati.
    Secara serentak istri dan ibuku berkata : apakah aku sudah gila? Tidak,
    jawabku, kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar
    bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu, permintaanmu akan kami penuhi.
    Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus.
     
    Hari Senin,
    aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke
    kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas
    lambaian tangannya.  
    Tiba2 seorang
    anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak : Sindu tolong tunggu saya.
    Yang mengejutkanku ternyata, kepala anak laki2 itu botak.  
    Aku berpikir
    mungkin”botak” model jaman sekarang. Tanpa memperkenalkan dirinya seorang
    wanita keluar dari mobil dan berkata: “anak anda, Sindu benar2 hebat. Anak
    laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya, dia
    menderita kanker leukemia.” Wanita itu berhenti sejenak, nangis
    tersedu-sedu, “bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena pengobatan
    chemo therapy kepalanya menjadi botak jadi dia tidak mau pergi ke sekolah
    takut diejek/dihina oleh teman2 sekelasnya. Nah Minggu lalu Sindu datang ke
    rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin
    terjadi. Hanya saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan
    rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh
    diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”  
    Aku berdiri
    terpaku dan aku menangis, malaikat kecilku, tolong ajarkanku tentang kasih. 
    
   
  
   
  
 


   



 




      Nikmati chatting lebih sering di blog dan situs web. Gunakan Wizard 
Pembuat Pingbox Online. http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke