Ada juga ketakutan yg sifatnya psikologis yg sulit diobatin didalam ketakutan global sekarang ini. Yang mungkin berkembang dng materialisme, hedonisme sekarang ini sebagai akibat arus informasi yg mudah spt kata pak Wal.
Takut miskin misalnya, shg akhirnya orang rela dng sukanya melakukan upaya agar ga miskin. Kalau itu dilakukan dng jalan genah tentu baik sekali, termotivasi agar ga miskin. Sayangnya ada juga individu yg saking cemasnya ga bisa hidup setara dng yg diimpikan atau dilihat orang lain, dan buntutnya mencari jalan pintas yg tidak benar karena malas bekerja dng giat. Saking cemas dan takut akhirnya menjadi pembenaran dalam menjalankan short cut yg tidak benar itu. Saya dan kawan kawan mengalami / menyaksikan peristiwa dimana si "bung TakutMiskin" ini malah jadinya seperti orang yg dng Split Personality. Tangan kanan spt yg tidak tahu apa yg dilakukan tangan kiri ibaratnya. Sudah tidak tahu lagi mana yg benar menurut nurani dan nilai universal. Malah "bung TakutMiskin" ini yg kami tahu, mendewakan dirinya sendiri, membuat proyeksi proyeksi yg indah dimata umum tentang dirinya misalnya. Rasanya kalau "takut" ini dihadapi akan menjadi tidak takut. Nothin to fear but fear itself. salam sejahtera, th --- In [email protected], Wal Suparmo <wal.supa...@...> wrote: > > Salam, > Sepanjang sejarah adanya manusia di dunia, secara abadi selalu dirundung ketakutan. Manusia purba takut di makan binatang buas, tenggelam di sungai,disambar petir dsb. > Hanya karena dunia itu sekarang " menjadi sempit", berkat kemajuan komunikasi dan transportasi, maka sekarang menjadi ketakutan global. Orang purba karena rasa takut tersebut lalu memciptakan Dewa yang menjadi Tuhan dan adalah cikal bakal dari agama2 yang ada sekarang. > Wasalam, > Wal Suparmo

