...  "Nur Muhammad".. Nur itu artinya cahaya, sinar yg menerangi....   mosok 
klo sinar lampu brarti sinar itu sendiri sama dg lampu...?   wong lampu yg 
menghasilkan sinar....  dari mana bisa menterjemahkan "Nur berarti 
percikan"...?!...dari hongkong..?!!.... menterjemahkan aja kagak bisa....  
huuuu ..payaaah..!!   




________________________________
From: leonardo rimba <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, February 22, 2009 10:57:02 AM
Subject: [Mayapada Prana] Saya bingung apa masalahnya sehingga saya bingung


T = Mas Leo,

Saya baru nemu cara berkomunikasi dengan banyak orang di sini. Setelah apa yang 
diajarkan Mas Leo, banyak sudah yang saya baca dan saya terjemahkan dalam benak 
saya (tapi benak itu apa ya, dan di mana). Ah... ternyata hanya sebutan saja.

Kata-kata Mas Leo "jalani saja" sungguh luar biasa, akhirnya saya rada-rada 
mudeng dengan apa yang disampaikan dan juga gambar yang disuguhkan di e-mail 
saya lewat telkomnet.

J = Well, benak is mind, pikiran, adanya di alam astral alias non fisik. Otak 
hanyalah counterpart fisik dari mind atau pikiran. 

Pikiran kita bukan berada di dalam otak tetapi di alam astral, yg lalu 
diterjemahkan oleh otak fisik kita ke terminologi inderawi sehingga kita dapat 
mengerti, blip blip blip, blip blip blip...

T = Manusia itu ada tiga wujud mungkin: jasad, sukma, jiwa, gitu ya Mas Leo?

J = Ada yg bilang seperti itu: jasad, sukma dan jiwa. 

Ada yg bilang tubuh, jiwa dan roh. Body, soul and spirit. 

Ini konsep dari Yunani Kuno yg digunakan oleh para penulis Perjanjian Baru di 
dalam Alkitab sehingga akhirnya menjadi konsep baku di dalam pemikiran 
metafisik Nasrani dan Dunia Barat. 

Islam juga mengambil alih konsep Yunani dan Nasrani, terutama pengertian 
tentang "roh asal" yg di dalam Islam disebut sebagai "Nur Muhammad", dan di 
dalam Nasrani disebut sebagai "Firman". Bahasa Yunani-nya sendiri adalah 
"Logos".

Jadi Logos itu memang ada dari semula, dan logos itu kemudian menjadi manusia, 
tetapi logos itu tetap, dan ada hubungan antara logos yg kekal itu dan si 
manusia yg memiliki batas-batas antara kelahiran dan kematian. 

Manusia itu lahir dan mati, tetapi Logos yg meng-hidup-kan si manusia itu 
tetap, memang ada dari semula dan akan tetap ada.

Yohanes 1:1 menulis: "In the beginning was the Word, and the Word was with God, 
and the Word was God."

Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama Allah, dan Firman itu Allah. 
And the word became flesh, dan Firman itu menjadi manusia.

Di dalam Nasrani, Firman atau Allah yg menjadi manusia itu di-dogma-kan sebagai 
Nabi Isa Al Masih alias Yesus Kristus. 

Di dalam Islam, yg di-percayai sebagai inkarnasi dari Logos itu namanya Nabi 
Muhammad. Bahkan kata Yunani "Logos" sudah di-Islam-kan dengan nama "Nur 
Muhammad" yg di-dogma-kan sebagai berasal dari Allah, percikan dari Allah 
sendiri.

Percikan dari Allah apa lagi namanya kalau bukan Allah sendiri? Percikan dari 
air apa namanya kalau bukan air? Percikan api apa namanya kalau bukan api?

T = Lalu peran jasad, sukma, dan jiwa masing-masing berbeda. 

Jasad adalah mesin dengan berbagai organnya, sukma adalah energy / tenaga yang 
diberikan yang kuasa, dan jiwa mungkin gabungan keduanya, karena jiwa itu 
tempat tinggalnya sukma sedangkan jiwa menggerakkan raga.

Alhasil hidup itu hanya singgahnya sukma di kala nyasar masuk dalam jasad bayi 
yang akan lahir, Allah masih mengawasi gerak-gerik bayi yang lahir dengan 
terhubungnya jiwa ditandai dengan bergeraknya cakra mahkota (ubun-ubun). 

Bayi berkembang dan jiwa merasuk menyatu dengan raga, jadilah mata fisik pelan 
bisa melihat, telinga fisik pelan mendengar, bahkan rasa sentuhan di pipi atau 
rasa hangat ompol dari pipis yang keluar dari kemaluan, tapi fisik masih belum 
sepenuhnya bisa bergerak seperti kemauan jiwa, bla... bla... bla... 

Jiwa semakin dalam merasuk dan semakin pintar mengolah raga, jadilah manusia 
laki-laki dan perempuan, tetapi sukma itu apa jenis kelaminnya. Duer.... 
bingung aku... 

J = Jenis kelaminnya maskulin DAN feminin sekaligus. Kalau maskulin saja 
seperti tubuh kita secara fisik, maka itu jelas tidak mungkin. Kalau feminin 
saja seperti tubuh fisik juga tidak mungkin. 

So, tubuh rohani kita bukan feminin maupun maskulin, melainkan keduanya 
sekaligus. Saya secara fisik seorang pria, tetapi roh saya pria DAN wanita 
sekaligus, maskulin dan feminin at the same time.

Allah sendiri dibilang sebagai pencipta, dan menciptakan manusia laki-laki dan 
perempuan. Tapi apa seksualitas dari Allah sendiri? Menurut saya, karena Allah 
itu roh, dan bisa menciptakan manusia fisik pria dan wanita, maka seharusnya 
Allah itu BISEKSUAL alias pria dan wanita sekaligus, feminin dan maskulin.

Secara logis seharusnya begitu, karena kalau Allah hanya maskulin saja sehingga 
wanita harus tunduk pada pria, maka jenis Allah seperti itu jelas sangat bias. 
Agama-agama yg bilang bahwa Allah itu maskulin terbukti sangat menekan 
seksualitas, terutama seksualitas para wanita yg dianggap sebagai ancaman.

Masyarakat di mana Allah adalah pria harus bersifat patriarkal seperti 
masyarakat Yahudi di masa lalu, masyarakat Nasrani di Eropa masa lalu, dan 
bahkan masyarakat Islami di Timur Tengah sampai saat ini. 

Dan mereka bersifat patriarkal (sangat membela kaum pria dengan mengorbankan 
kaum wanita) karena Allah itu di-konsepsikan sebagai Allah yg maskulin, pedahal 
Allah itu keduanya sekaligus, maskulin dan feminin. Karena maskulin dan feminin 
akhirnya menjadi netral. 

Masyarakat yg telah mencapai pengertian bahwa Allah itu maskulin DAN feminin 
akhirnya bisa menjadi netral juga dengan cara menerima kesetaraan gender, 
persamaan HAM antara wanita dan pria. Masyarakat Barat di masa sekarang adalah 
masyarakat yg telah banyak membuang konsep Allah yg patriarkal sehingga 
akhirnya masyarakatnya menjadi lebih manusiawi, ada kesetaraan gender, ada 
penghargaan terhadap HAM, ada penghapusan diskriminasi, ada kesetaraan status 
di depan hukum, ada pemerintahan bersih. Sedikit demi sedikit mereka menjadi 
netral dan tidak lagi patriarkal.

Dan semuanya itu dibawa oleh berubahnya konsep tentang Allah, dari Allah yg 
maskulin menjadi Allah yg maskulin DAN feminin sekaligus. 

T = Jadilah perkataan pada diriku seperti Mas Leo sampaikan "Jalani Saja".... 

Betul jalani saja toh sukma tetap ada mengawasi dan membimbing. Hanya jiwa dan 
raga terbengong bengong, setelah matinya raga dan jiwa tempat bernaungnya sukma 
hanya tinggal membeku busuk dan menjadi tanah. Lalu mau jadi apa lagi sukmaku 
ya, mau masuk ke jasad siapa atau apa lagi ya... 

J = Ngapain dipikirin? Saya cuma bisa bilang bahwa basic-nya kita ini roh dan 
BUKAN fisik. Yg fisik cuma sementara saja karena ada saat lahir dan mati. 
Tetapi yg roh itu abadi, tidak diciptakan dan tidak akan musnah. Kesadaran anda 
itu tetap ada walaupun fisik anda mati, anda ada karena anda ada, selalu 
seperti itu. 

Kita bilang bahwa Allah ada karena ada, selalu ada. Apa bedanya anda dengan 
Allah? Kesadaran anda itu adalah Allah yg melihat dari dalam mata anda. 
Kesadaran saya adalah Allah yg melihat dari dalam mata saya. Karena kita 
melihat dari dalam mata Allah, maka kemana pun kita mencari Allah tidak akan 
bertemu. 

Kita hanya akan selalu bertemu dengan manifestasi dari Allah. Manifestasi Allah 
bagi saya adalah anda, dia, mereka, tetapi saya sendiri tidak akan pernah 
bertemu dengan Allah karena Allah melihat dari dalam mata saya. 

Allah sadar bahwa diri-Nya itu Allah, dan sadarnya itu di dalam saya. Allah 
sadar bahwa dirinya itu Allah, dan sadarnya itu di dalam anda.

Kita diajarkan oleh agama-agama untuk mengetuk jalan masuk menuju Allah, dan 
banyak orang seumur hidup bahkan sampai mati mengetuk terus dan tidak 
dibukakan. 

Saat ini banyak orang sudah sadar bahwa kalaupun pintu itu terbuka kita akan 
tahu bahwa kita mengetuk bukan dari luar, melainkan dari dalam. 

T = Saya adalah manusia yang sedang menghadapi masalah, berhadapan dengan 
masalah, menjalani masalah, menyelesaikan masalah, tapi saya bingung apa 
masalahnya sehingga saya bingung. Mungkin bagi sebagian orang ini bukan masalah 
karena dengan mudahnya menyelesaikannya. 

Saya teringat dengan masalah yang dihadapi anak saya ketika baru saja belajar 
pake kaos kaki, baginya itu masalah besar karena saya mengharuskan dia bisa dan 
dalam tempo sesingkat-singkatny a dia harus bisa memakainya.

Saya diam memperhatikan sembari senyum, dalam benak saya: "Gitu Aja nggak 
bisa"... He.. he.. he... Manusianya saya meremehkan masalahnya, tapi mungkin 
bagi anak saya itu sesuatu yang teramat besar dan berat.

Dari situ saya mencerna dan mencoba berpikir: apa masalahnya sehingga saya 
menganggap apapun yang tidak bisa saya kerjakan, selesaikan, takut menghadapi, 
atau tidak sesuai dengan keadaan itu masalah, untuk penghibur saya berkata 
dalam hati (emang hati bisa berkata) ah... mungkin ini jalan hidup yang harus 
saya hadapi dan pasti Tuhan akan memberikan hikmah dari peristiwa ini....

Lagi-lagi mentok. Pasrah dan menunggu dulu untuk bisa melewati peristiwa ini 
dan menemukan hikmahnya. Lalu saya mencoba cari jalan keluarnya dengan berdo'a, 
memohon keringanan. 

Suatu saat saya terlepas dari masalah saya karena ternyata saya biasa 
menghadapi itu, sama ya saat saya menyuruh anak saya pake kaos kaki, karena 
saya biasa makanya saya bisa, anak saya nggak biasa makanya dia tidak bisa, dan 
ujung-ujungnya menjadi masalah.

He.. he.. he.. mungkin karena tidak biasa itu disebut masalah, kalau biasa itu 
hikmah. Bisa karena biasa, makanya cari-cari masalah agar kita terbiasa karena 
akan menjadi hikmah dan bukan lagi masalah. Salam semoga damai karena ini 
hikmah jangan jadi masalah.

J = Iyalah, kalau sudah biasa maka namanya bukan masalah melainkan hikmah. 
Hikmah itu wisdom, kebijaksanaan, kemampuan untuk mengambil yg pas.

Leo
Komunitas Spiritual Indonesia <http://groups. yahoo.com/ group/spiritual- 
indonesia>.


Bunda Maria dan bayi Yesus yg di-dogma-kan sebagai inkarnasi dari Logos, 
Firman, atau Allah. Berdasarkan dogma itu, dibuatlah turunan bahwa kalau 
manusia percaya Yesus maka Yesus akan hidup di dalam manusia itu, dan manusia 
itu tidak bisa mati. Pedahal, semua manusia itu memang seperti Yesus, to begin 
with, memang berasal dari Logos, Firman, atau Allah. Dari dahulu, sekarang, 
sampai kapan pun, manusia itu memang selalu bersatu dengan Allah di dalam 
kesadarannya. So, that's how religion works, membuat suatu dogma dari hal yg 
sudah jelas. Allah di dalam kesadaran manusia, lebih dekat dari urat leher 
manusia, itu fakta yg sangat basic, dan selalu berlaku tanpa manusia harus 
di-jejalkan dengan segala macam syariat. So, kenapa bingung? 

________________________________
New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does! 



      

Kirim email ke