"Ada Kolam, ada Ikan
Aku Islam, bukan Taliban.
Ada Ulam, ada Ubi
Aku Islam, bukan Wahhabi
Ada Angsa makannya Urab
Kita Indonesia bukannya Arab."
(Fatwa Majlis al-Fesbuqiyah)
***

Menjelang momen Pemilihan Umum, sebuah pesta demokrasi lima tahunan yang
segera digelar, nampaknya iklan-iklan politik kian membanjiri
media-media massa kita. Pelbagai partai seakan berlomba menampilkan visi
dan misi mereka sedemikian sempurna dan serba ideal. Klaim-klaim memikat
serta janji-janji manis yang menghibur itu, terus terang masih
menerbitkan tanda tanya besar dalam diri saya, apakah itu semua sesuai
dengan realitas yang sebenarnya?

Iklan politik yang menarik perhatian saya diantaranya adalah yang
diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS), sebuah partai besar Islam yang
selama ini ditengarai berada di lingkaran utama kepemimpinan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) disamping PD dan beberapa partai besar
berbasis Islam lainnya.

Dalam beriklan, PKS terlihat begitu apik mengemas gagasannya melalui
plesetan bergaya pop, sebut saja Partai Kita Semua, Partai Kalem dan
Santun, Palestina Kita Sayangi dan seterusnya seraya menampilkan
orang-orang yang beragam, dari yang berjilbab hingga pria funky dengan
tataan rambut bercat.

Barangkali pencitraan keberagaman yang ditampilkan tersebut adalah dalam
kerangka mewujudkan visi dan misi PKS sebagai "Partai Dakwah Penegak
Keadilan dan Kesejahteraan dalam Bingkai Persatuan Ummat dan
Bangsa". Partai ini biasa dikategorikan sebagai kelompok
"moderat" (Collins, 2004; ICG, 2005), dalam pengertian menerima
demokrasi dan bekerja dalam kerangka konstitusional dan non-kekerasan
demi memperoleh simpati masyarakat.

Dalam sebuah kesempatan di Hotel Inna Grand Bali Beach tahun lalu,
Presiden PKS Tifatul Sembiring juga menandaskan,"Sesuai dengan
ketentuan dalam undang-undang, partai politik tidak boleh membatasi diri
pada ras, suku dan agama. Karena itu dari non-muslim tetap akan
diakomodir." Menurut dia, kader non-muslim itu tidak hanya bisa
menjadi pengurus partai. Namun, lanjut dia, juga bisa dijadikan sebagai
caleg, meskipun non-muslim.

Saya merenungkan kata-kata Presiden PKS tersebut kemudian ditemalikan
dengan tuturan pengalaman seorang teman bernama Arbania Fitriani di
media ini beberapa waktu lalu. Rupanya saya menemukan adanya kejanggalan
dan ketidakselarasan antara idealisme partai tersebut dengan pengalaman
teman tadi. Arbania Fitriani dalam kesaksiannya mengaku seorang "Ex
PKS Cadre" dengan amat berani membeberkan secara gamblang seputar
"bau busuk" partai yang cukup lama ditinggalkannya itu dengan
pelbagai alasan yang diyakininya tepat.

Dari tulisannya berjudul "Benarkah PKS Pro Rakyat Indonesia?",
di sini saya kutipkan poin-poin yang dianggap penting. Arbania
menegaskan: (1) Agenda utama PKS adalah menghancurkan budaya Indonesia
melalui invasi budaya Arab Saudi. (2) PKS ini sebagai perpanjangan
tangan dari Kerajaan Saudi tujuan utamanya adalah agar kekuasaan Arab
bisa mencapai Indonesia (yang kaya sumber daya alam itu) mengingat
satu-satunya sumber devisa Arab adalah minyak yang diperkirakan akan
habis pada tahun 2050 dan melalui jamaah haji. (3) Mereka (para kader
PKS) menduduki posisi-posisi strategis dalam pemerintahan agar dapat
lebih memudahkan agendanya. Sentimen keagamaan terus dipakai untuk
meraih simpati masyarakat.

Dalam tulisan ini, saya tidak dalam kapasitas untuk menghakimi tentang
siapa yang benar dan siapa yang salah. Sudah semestinya, hak jawab
diberikan kepada PKS untuk mengklarifikasi "penemuan" Arbania
tersebut. Sudah sepantasnya pula, suara lirih Arbania diberikan ruang
yang luas untuk mengungkap kebenaran lain. Saya pribadi sebagai warga
negara yang tidak rela negara ini bubar, mengajak kepada seluruh anak
bangsa agar sungguh-sungguh melihat persoalan ini dengan serius namun
tetap dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih.

Sebagaimana diingatkan Guillarmo O'Donnel (1993), bahwa transisi menuju
demokrasi tidak selalu berlangsung mulus. Pendapat O'Donnel
menemukan relevansinya dengan situasi politik saat ini di negeri kita.
Saya mengkhawatirkan partai-partai terutama yang berbasis agama tertentu
akan memanfaatkan momentum demokrasi untuk mendesakkan agenda
formalisasi syariat yang nyata-nyata bertentangan dengan falsafah negara
dan konstitusi. Ini namanya pembajakan demokrasi. Membajak demokrasi
lewat pemilu.

Seperti kita ketahui, pemilu adalah mekanisme yang sah untuk meraih
kekuasaan dan legitimasi. Bagi para pembajak ini, demokrasi identik
dengan kekuasaan itu sendiri. Saya teringat fenomena IM (Ikhwanul
Muslimin) dan Hamas di Mesir yang belum dipercaya sebagian rakyat, bahwa
mereka akan setia pada demokrasi. IM dan Hamas diyakini akan menjadikan
demokrasi sebagai alat untuk meraih kekuasaan belaka, lantas mendesakkan
agenda-agenda bias agama. Bagi partai-partai berbasis agama ini,
demokrasi sekedar sarana memuluskan mimpinya menuju pemerintahan
Allah-krasi.

Di Iran, peran ulama yang meraih kekuasaan dan malah melanggengkan
hegemoni konservatisme barangkali layak dijadikan pelajaran. Tahun 1979,
tatkala mereka melakukan revolusi Islam, sesungguhnya pemerintahan baru
yang lebih demokratis dan memihak rakyat amatlah diidam-idamkan rakyat.
Namun dengan pelembagaan ulama dalam wilayat al-faqih yang bertindak
sebagai otoritas utama pemerintah, rakyat harus menelan rasa kecewa,
karena yang terjadi tak sesuai harapan.

Dengan semena-mena para ulama memecat orang yang sebetulnya didukung
rakyat tapi dianggap merintangi aspirasi mereka. Sebagai contoh
bentuk-bentuk hegemoni itu bisa diungkap disini, diantaranya kasus
pencoretan calon anggota legislatif dari kalangan reformis, pengusiran
Bani Sadr, pengucilan kekuasaan Mohamad Khatami, serta pelarangan protes
mahasiswa dan pengebirian kebebasan pers. Kembali, momentum demokrasi
bagi mereka hanyalah jalan meraih kekuasaan untuk pemuasan ambisi
pribadi dan kelompoknya.

Ditarik lagi ke belakang, sistem khilafah yang pernah diuji coba dalam
pemerintahan Dawlah Umawiyah dan Dawlah Abbasiyah justru hanya
melahirkan sejarah kelabu yang menyengsarakan rakyat. Atas nama syariat,
tindakan represif berupa mihnah (inkuisisi) pun dijalankan.

Mark Woodward (2001) dan Peter G Riddel (2002) misalnya, dalam
mengelompokkan respon Islam atas perubahan pasca Orde Baru sepakat
menyebut jenis Islam konservatif sebagai Islamisme atau Islamis. Gerakan
ini tidak hanya mengusung Arabisme dan konservatisme, tetapi juga di
dalam dirinya terdapat paradigma ideologi Islam Arab. Tidak heran kalau
Jihad dan penerapan Syariat Islam menjadi karakter utama dari kelompok
ini. Kelompok ini juga tidak segan-segan membentuk barisan Islam
paramiliter untuk melawan siapa saja yang diidentifikasi sebagai musuh
Islam yang tentunya berdasarkan definisi mereka sendiri.

Definisi lain tentang Islamisme adalah sebentuk keyakinan yang
memposisikan Islam sebagai sistem kehidupan yang total dan integral
dalam seluruh aras kehidupan, termasuk politik, sebagai subordinasi dari
agama (Roy, 1993; Kramer, 1997; Monshipuri, 1998). Dalam konteks ini,
maka "specificity" Islam ---meminjam istilah Gellner
(1981)---dipahami sebagai cetak-biru dari sebuah tertib sosial. Dus,
konsep al-diin wa al-daulah dan dakwah adalah password kaum Islamis
untuk masuk ke dalam pelbagai aktivitas politik.

Di masa lalu, kaum Islamis bersekte Wahhabi acapkali memakai cara-cara
kasar dan kekerasan. Karenanya, ketika tiga tokoh utama Wahhabi
Indonesia, yakni Haji Miskin dari Luhak Agam, Haji Piobang dari Luhak
Lima Puluh Kota dan Haji Sumanik dari Luhak Tanah Datar, menyebarkan
doktrin Wahhabi di tempat kelahiran mereka, Minangkabau, akhirnya justru
meletupkan perang Padri karena mendapatkan perlawanan dari kaum Adat
yang memegang teguh tradisi mereka. Perilaku Wahhabi tersebut jelas
mengingkari sabda Nabi Saw, "Inni bu'itstu bi hanfiyatil samhah"
(Saya diutus dengan membawa agama yang cenderung toleran). Karena itu,
perilaku yang mengarah kepada kekerasan, terorisme, kedzaliman,
keangkuhan, diskriminasi, intoleransi selalu dianggap sebagai
"contradicto in terminis" dengan agama.

Sejarah kelam tersebut tidak perlu terulang lagi di negeri ini.
Berkali-kali para kiai NU (Nahdlatul Ulama) menegaskan bahwa Indonesia
dengan Pancasila dan NKRI-nya merupakan keputusan final. Fatwa MUI
(Majelis Ulama Indonesia) beberapa waktu silam juga menyatakan bahwa
NKRI sudah final. Bagi NU, Pancasila bukanlah ideologi transisi yang
terpaksa diterima karena keadaan politik belum memungkinkan untuk
menegakkan ideologi definitif, ideologi Islam misalnya. Sudah ada
konsensus di kalangan NU, bahwa ideologi Pancasila bagi negara Indonesia
adalah qath'i.

K.H. Hasyim Muzadi (2007), menyebut dewasa ini gerakan transnasional
semacam Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, dan al-Qaeda sebagai bagian
dari international political movement (gerakan politik dunia) yang tak
memiliki akar budaya, visi kebangsaan, dan visi keumatan itu ditengarai
sedang merongrong keutuhan negara ini. Menurut Hasyim,
organisasi-organisasi tersebut telah menjadikan Islam sebagai ideologi
politik dan bukan sebagai jalan hidup.

Agak senada dengan pandangan NU, pada suatu kesempatan Presiden SBY
menegaskan kembali adanya empat pilar yang harus dipertahankan di negara
ini, yakni Pancasila, UUD l945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Namun
pernyataan di atas nyaris kehilangan maknanya, ketika presiden membuka
Rakernas MUI belakangan ini, ia menyatakan akan mengikuti fatwa-fatwa
MUI, termasuk dalam hal pemberantasan aliran sesat. Hal ini sebenarnya
sangat ironis karena panduan kerja seorang presiden adalah konstitusi
dan undang-undang, bukan fatwa MUI. Pernyataan presiden tersebut
mengindikasikan betapa ia memilih cara pragmatis dalam menghadapi kaum
Islamis.

Ahmad Suaedy (2008) mengemukakan pemerintahan SBY sekarang ini diduga
kuat memiliki pemahaman yang sejalan dengan Islamis. Imbuhnya lagi, SBY
tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang Islam dan gerakan Islam.
Sehingga apapun yang menguntungkannya akan diambil, bahkan dalam hak
yang prinsipil sekalipun seperti hak untuk beragama dan berkeyakinan.
Jika tidak ada keberanian untuk mengubah orientasi pemerintahan sekarang
atas gerakan Islamis, lanjut Suaedy, mereka akan segera masuk lebih
dalam ke dalam keseluruhan badan negara dan pemerintahan ini.

Saya bisa membayangkan, jika ada kaum Islamis hendak mengubah Pancasila
dengan ideologi Islam dan merontokkan NKRI lantas menyulapnya menjadi
dawlah islamiyah atau khilafah islamiyah, maka mereka harus bertumbukkan
dengan para kiai NU dan mesti berhadap-hadapan dengan ormas keagamaan
terbesar itu. Benturan ini mungkin saja tak terelakkan.

Belasan tahun silam, seperti dituturkan Abd Moqsith Ghazali (2007),
dalam suatu pertemuan di Auditorium PP Salafiyah Syafiiyah Asembagus
Situbondo, dengan suara lantang dan bergetar membaca Al-Qur'an surah
Thaha ayat 17-21, Kiai As'ad (kini telah Almarhum) mengumpamakan NU
sebagai "Tongkat Musa" yang siap melawan pihak-pihak yang
merongrong keutuhan NKRI.

Keinginan sekelompok kaum Islamis, baik yang mengaku atau memungkiri
bersekte Wahhabisme untuk mengubah ideologi negara, konstitusi dan
meruntuhkan NKRI dengan membajak demokrasi, menurut saya adalah
orang-orang yang enggan berterima kasih, tidak bersyukur.

Kaum Islamis "berwajah ganda" itu telah mengkhianati bangsa ini.
Adalah sikap yang menggelikan, di satu sisi mereka jumawa mengecam
demokrasi sebagai sistem kafir, namun di saat yang sama menikmati pula
fasilitas demokrasi tanpa memberi sumbangsih apapun. Mentalitas hipokrit
semacam ini terkena tamparan hadis yang beken, "man lam yasykur
al-nas lam yasykur al-Lah", barangsiapa tak mensyukuri manusia (yang
telah berbuat baik pada dia), maka dia sama saja tak mensyukuri Tuhan.

Simak saja. Kendati motif makar kaum Islamis begitu jelas, di negara
yang demokratis ini toh mereka dibiarkan bebas. Suatu reaksi yang tak
pernah mereka dapatkan di negara-negara lain yang konon "islami"
itu. Di Arab Saudi yang berpaham Wahhabi, hukuman yang pantas untuk
pembuat makar tak lain kecuali dipancung kepalanya di lapangan terbuka.
Mereka tidak berterima kasih malah membombardir NKRI yang telah
memberikan udara kebebasan seperti itu.

Hemat saya, partai-partai Islamis ini hadir semata-mata karena persoalan
strategi sembari memancing di air keruh. Kaum Islamis ada yang menempuh
jalan pintas berbekal senjata, ada juga yang melalui pintu demokrasi
yang berliku. Realitasnya partai-partai Islamis belum memberi kontribusi
kerakyatan yang jelas. Sebagaimana dibilang Arbania," Saat ini PKS
belum menghasilkan produk yang dapat memajukan ekonomi, menyelesaikan
permasalahan kesehatan, pendidikan, pencegahan bencana alam, korupsi,
traficking, tayangan TV yang semakin memperbodoh masyarakat, dan
permasalahan lain yang lebih riil dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat
kita".

Barangkali opini Arbania itu bisa dikait-kelindankan dengan sebuah
survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia tahun 2006 lalu,
diketahui bahwa akuntabilitas dan pertanggungjawaban partai politik
(termasuk yang berbasis agama) terhadap pemilihnya sangat rendah. Dengan
demikian, pemilih tidak mengetahui kebijakan partai politik dan
alasan-alasannya terkait dengan isu penting, seperti impor beras dan
kenaikan harga bahan bakar minyak. Padahal agama begitu mempersoalkan
posisi tanggung jawab dalam konteks kepemimpinan dan perwakilan. Dalam
kaidah ushul fiqh tertera "tasharruful imam manuuthun bil
mashlahah" yang berarti kebijakan dan performance pemerintah
haruslah selalu mengacu kepada pemenuhan kemaslahatan rakyat.

Demikianlah, arus konservatif agama atau khususnya Islamisme baik
bersekte Wahhabisme, Talibanisme, Salafi radikal, Islamis berwajah ganda
maupun lainnya tak pelak lagi merupakan ancaman serius bagi rumah NKRI
yang dihuni bangsa ini. Jika kawanan pencuri sudah menjarah dan melukai
seisi rumah, lalu mereka pun memperkosa Ibu Pertiwi, maka sikap lembek
kita sebagai anak-anaknya tak bisa dibenarkan. Hukum dan keadilan mesti
ditegakkan sebagaimana disitir dalam Al-Qur'an "Berbuat adillah
karena keadilan itu lebih dekat pada ketakwaan" (QS, al-Ma'idah
[5]: 8).

Untuk menghalau gerakan mereka, demikian menurut K.H. Hasyim Muzadi,
sekurangnya ada dua hal yang harus dilakukan. Pertama, pemantapan
ideologi negara Pancasila. Dan semua gerakan politik di negeri ini harus
berasaskan dan berdasarkan Pancasila, bukan yang lain. Kedua, perlunya
mengukuhkan sendi-sendi Islam moderat hingga ke level bawah masyarakat.
Yaitu, sejenis Islam yang berpandangan toleran (tasamuh) terhadap
pluralitas yang ada di Indonesia. Akhirul kalam, marilah kita
bermunajat,"Ya Ilahi, Tuhan segala agama, lindungilah negeri kami
dari tangan-tangan jahil. Amin".[]

Arief Rahman
Desa Kecomberan-Cirebon, 28 Februari 2009
******************************************

Erfen Gustiawan Suwangto
<http://www.facebook.com/s.php?k=100000080&id=1023848844>  at 11:09am
March 1
Sungguh kita harus merapatkan barisan untuk mencegah disintegrasi
bangsa. Saya rasa kita juga harus menyiapkan strategi yang lebih riil
untuk mengatasi hal ini, dimulai dengan berhati-hati dalam memilih saat
pemilu nanti. Selanjutnya para nasionalis & demokratlah yang harus duduk
dalam pemerintahan NKRI.

Prihandoyo Kuswanto
<http://www.facebook.com/s.php?k=100000080&id=1147810022>  at 11:14am
March 1Setelah mencermati tulisan diatas ,banyak pencerahan yang kita
dapat ,sementara ini kita melihat Islam adalah Arabia ,kenapa kita tidak
melihat Islam merah putih ,saya sudah menduga sebelum nya semarak nya
Hibult Tahir yang menjadi Anderbownya PKS,arti dari Hisbult Tahir
sendiri adalah Partai Pembebasan, didirikan di Yerosalem.saya juga tidak
habis pikir ada partai dari luar sana bisa hidup dan bergerak secara
politik dinegeri ini. Pemerintah apa tidak mengerti apa memang ada nya
pembiaran atas nama Demokrasi .Jika NKRI yang hapir pupus ini tidak
membawah kesadaran kita kembali ke RUMAH PANCASILA maka NKRI akan
benar-benar PUPUS, sementara politkus dan pemimpin hanya berebut
kekuasaan dan menghalalkan segala cara sungguh sangat ironis negeri ini
.Mari kita kibarkan Islam dan Merah Putih, Bukan Islam Arabia ,dan bukan
yang lain-lain.

Arie Harjanoviar
<http://www.facebook.com/s.php?k=100000080&id=1571862744>  at 11:22am
March 1stuju, mas arief.. kita harus waspada.. & lantang bersuara!

Irzal Yanuardi <http://www.facebook.com/s.php?k=100000080&id=1350570565>
at 12:07pm March 1ini yang namanya internasianalisme arabian bersembunyi
dalam internasinalisme arab,,,,,,,
jelas kami menolak budaya luhur bangsa yang sangat beradab ini
diintegrasikan dalam buadaya arab yang sangat tidak beradab,



Kirim email ke