Mg Paskah VII ( Hari
Komunikasi Sedunia) : Kis 1:15-17.20a.20c-26;
1Yoh 4:11-16; Yoh 17:11b-19
“ Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci
mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia”
Kasus pembunuhan Nasrudin dengan
terlibatnya Antasari, Ketua KPK (entah benar atau tidak bahwa Antasari terlibat
dalam pembunuhan Nasrudin), begitu cepat tersebar dan menjadi bahan pembicaraan
atau gunjingan banyak orang. Aneka sarana komunikasi yang canggih dan modern
rasanya mendukung kecepatan penyebaran kasus pembunuhan tersebut, entah melalui
email/internet, HP , media cetak atau elektronik maupun secara lisan dari mulut
ke mulut. Komunikasi merupakan salah satu kekuatan dan kuasa yang dapat
mempengaruhi hidup bersama; apa yang dikomunikasikan, entah baik atau benar,
pada umumnya mempengaruhi percakapan dan sikap bertindak orang. Jika dicermati
kiranya berita yang jelek atau jahat lebih mudah tersebar dan terkomunikasikan
daripada berita yang baik atau benar. Berbagai berita cetak yang bersifat jahat
atau miring-miring sedikit pada umumnya lebih menarik dan diminati banyak
orang, demikian juga generasi muda yang mulai mengenal dan dapat memanfaatkan
sarana komunikasi intenet pada umumnya juga cenderung untuk mencari berita atau
gambar yang kurang baik alias porno. Dengan kata lain ‘dunia’ ini rasanya lebih
teegerak atau termotivasi oleh berita-berita jelek atau jahat daripada
berita-berita baik (lihat dan perhatikan kasus bencana alam, entah tsunami,
banjir bandung atau badai topan,
dst..). Memang kasus atau peristiwa yang tidak baik tersebut juga menjadi
kesempatan bagi orang-orang baik untuk berbuat baik alias
memberitakan Kabar Baik atau ‘memberitakan
Firman Tuhan’.
“Aku
telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena
mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia” (Yoh 17:14)
Yesus adalah seorang
“Komunikator”, dan kiranya Ia dapat menjadi teladan para komunikator di dalam
menyebarluaskan atau mewartakan apa yang baik dan menyelamatkan. Yesus dapat
berkomunikasi dengan baik dengan semua orang: anak-anak, orangtua, pejabat atau
penguasa, pemimpin, rakyat kecil, orang miskin atau orang kaya, yang pandai
atau yang bodoh, yang sehat atau yang sakit atau yang berdosa, dst.. Ia adalah
Komunikator Kabar Baik, yang membahagiakan, menyelamatkan, memperbaiki atau
memperbaharui. Memang ada yang menolak untuk diperbaiki atau diperbaharui
antara para tokoh dan pejabat hidup bersama, entah hidup beragama atau
bermasyarakat, yang gila akan harta benda/uang, kuasa/kedudukan/jabatan atau
kehormatan duniawi. Demikian juga para koruptor membenci ajaran dan
kedatanganNya. “Aku telah memberikan
firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari
dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia” , demikian sabdaNya.
Pada Hari Komunikasi Sedunia ini
kita diajak mawas diri perihal panggilan dan tugas pengutuan kita sebagai
komunikator-komunikator Kabar Baik, apa yang baik, menyelamatkan dan
membahagiakan. Dalam berkomunikasi antara lain kita menggunakan bahasa tubuh
atau bahasa lisan, dan bahasa tubuh kiranya lebih mengena dan mengesan karena
lebih menyertakan pribadi kita seutuhnya daripada bahasa lisan. Ketika kita
sedang berbicara dengan seseorang, kita sering menduga bahwa apa yang kita
katakan menyenangkan atau penting bagi pendengar. Tetapi kenyataannya, yang
terpenting adalah apa yang dikatakan tubuh kita, bukan mulut kita. Bahasa tubuh
itu antara lain senyuman, lirikan atau kerlingan mata, ciuman, belaian,
sentuhan dst.. Bahasa tubuh dimiliki oleh semua orang, anak-anak atau orang
dewasa atau kakek-nenek, binatang maupun tanaman. Mereka yang sedang saling
mengasihi kiranya dapat memahami dan menikmati betapa mengesan dan nikmatnya
bahasa tubuh itu dan apa yang telah dirasakan dan dinikmati sungguh
mempengaruhi dan menjiwai cara hidup dan cara bertindak. Maka baiklah kita
semua dalam berkomunikasi dengan tubuh alias dalam berbahasa tubuh hendaknya
dalam dan oleh cintakasih.
Dalam Hari Komunikasi Sedunia ini
kami juga mengingatkan dan mengajak siapapun yang bergerak atau bekerja atau
berprofesi dalam karya komunikasi, entah eleketronik maupun cetak maupun kita
semua para penerima produk komunikasi.untuk mawas diri. “Kewajiban moral utama
untuk dengan tepat menggunakan upaya-upaya komunikasi
social ada pada para wartawan, pengarang, actor, penulis scenario, pelaksana,
penyusun acara, distributor, produsen, pemasar, resensor, dan orang-orang lain,
yang dengan cara mann pun juga berperan-serta dalam pelaksanaan dan penyaluran
komunikasi” (Vat II : Dektit tentang upaya-upaya komunikasi sosial, no11).
“Hendaknya para penerima, terutama di
kalangan kaum muda, berusaha, supaya dalam memakai upaya-upaya komunikasi
social mereka belajar mengendalikan diri dan menjaga ketertiban. Kecuali itu
hendaklah mereka berusaha memahami secara lebih mendalam apa yang mereka lihat,
dengar dan baca. Hendaklah itu mereka percakapkan dengan para pendidik dan para
ahli, dan dengan demikian mereka belajar memberi penilaian yang saksama.
Sedangkan para orangtua hendaknya menyadari sebagai kewajiban mereka: menjaga
dengan sungguh-sungguh, supaya tayangan-tayangan, terbitan-terbitan tercetak
dan lain sebagainya, yang bertentangan dengann iman serta tata susila, jangan
sampai memasuki ambang pintu rumah tangga, dan jangan sampai anak-anak
menjumpainya di luar lingkup keluarga” (ibid no 10).
"Ya
Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa
yang Engkau pilih dari kedua orang ini,untuk menerima jabatan pelayanan, yaitu
kerasulan yang ditinggalkan Yudas yang telah jatuh ke tempat yang wajar
baginya."(Kis 1:24-25)
Kutipan di atas ini adalah doa
umat Allah atau beriman dalam rangka penggantian seorang rasul, jabatan
pelayanan Seorang rasul memang bertugas
untuk mewartakan Kabar Baik dengan semangat pelayanan, bukan penguasaan. Tugas
ini antara lain pada masa kini dilakukan oleh para ketekis atau guru agama,
entah resmi sesuai dengan jabatannya atau relawan/volunteer. Seorang rasul
kiranya menyadari atau menghayati apa yang dikatakan oleh Yohanes ini: “Kita
telah mengenal dan telah percaya akan
kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di
dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (1Yoh
4:16), maka dalam melaksanakan pelayanannya ia
dijiwai oleh kasih Allah.
Hemat saya kita semua juga
memiliki tugas rasuli ini, menjadi pewarta-pewarta Kabar Baik melalui cara
hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun. Dalam hidup dan kerja
kita senantiasa berkomunikasi dengan yang lain, entah sesama manusia, harta
benda maupun binatang dan tanaman. Marilah kita saling berkomunikasi dalam
kasih dan oleh kasih, sehingga kita hidup dan bertindak saling mengasihi, entah
dengan bahasa tubuh atau bahasa lisan. Komunikasi dengan bahasa tubuh dimulai
dengan memandang/melihat, mendengarkan, menyapa, menyentuh, membelai, mencium
dst.. dan bagi suami isteri akhirnya bersetubuh, saling menyerahkan diri dalam
dan oleh kasih. Para bapak-ibu atau suami-isteri kiranya
memiliki bahasa komunikasi tubuh yang mendalam dan mengesan, maka hendaknya
mereka dapat menjadi saksi komunikator kasih dalam hidup sehari-hari bagi
anak-anaknya, tetangga, rekan dan sesama manusia. Komunikasi yang memiliki akar
kata bahasa Latin “communicare” dapat berarti membagi sesuatu dengan
seseorang, memberi bagian dalam, memberikan
sebagian kepada seseorang,bertukaran, tukar-menukar. Tindakan-tindakan
itulah yang terjadi ketika kita saling berkomunikasi.
“Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap
batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala
kebaikan-Nya!...tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih
setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat,
demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita” (Mzm 103:1-2.11-12)
Jakarta, 24 Mei
2009
Lebih bersih, Lebih baik, Lebih cepat - Yahoo! Mail: Kini tanpa iklan.
Rasakan bedanya! http://id.mail.yahoo.com