HR Pentakosta : Kis 2:1-11;
Gal 5:16-25; Yoh 15:26-27
“Kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan
Aku.”
Hari ini juga diimani sebagai
hari pendirian Gereja Katolik (Umum), paguyuban Umat Allah, orang-orang yang
beriman kepada Yesus Kristus, yang satukan oleh Roh Kudus. Hari ini umat
perdana/purba menerima anugerah Roh Kudus, yang dijanjikan oleh Yesus, “Roh
Penghibur dan Kebenaran, yang bersaksi tentang Yesus Kristus”. Penghiburan
yang membawa ke persaudaraan sejati atau persatuan umat Allah tersebut
dikisahkan dalam Kisah Para Rasul :”Bukankah
mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea?Bagaimana mungkin kita
masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu
bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam,
penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia,Frigia dan Pamfilia,
Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene,
pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi,
orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa
kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah."(Kis
2:7-11). Maka baiklah di Hari Raya Pentakosta ini kita mawas diri perihal
persaudaraan atau persatuan kita sebagai orang beriman, yang ditandai atau
diwarnai oleh aneka penghiburan dan kebenaran.
“Jikalau
Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar
dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena
kamu dari semula bersama-sama dengan Aku." (Yoh 15:26-27)
Para rasul
bersaksi dengan kata-kata perihal “perbuatan
besar yang dilakukan Allah” dengan
bahasa mereka sendiri dan banyak orang dari aneka suku dan bahasa dapat
memahami dan mendengarkan dalam bahasa mereka masing-masing. Bahasa merupakan
sarana komunikasi utama, entah bahasa lisan atau bahasa tubuh, dan dengan
berkomunikasi secara terbuka atau transparan, artinya saling mengkomunikasikan
isi hati masing-masing lahirlah kebersamaan hidup damai sejahtera dan bahagia,
penuh dengan penghiburan. Kita, dengan telah menerima Sakramen Inisiasi, juga
telah menerima anugerah Roh Kudus, Roh Penghibur dan Roh Kebenaran, maka kita
juga dipanggil untuk mewartakan ‘perbuatan
besar yang dilakukan Allah’.
“Perbuatan besar yang dilakukan Allah” kiranya menjadi nyata dalam kehidupan
bersama
yang dijiwai oleh cintakasih, dalam hidup orang yang saling mengasihi dengan
segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh/kekuatan. Untuk
saling mengasihi dengan baik orang harus berani memboroskan waktu dan tenaga
bagi yang dikasihi, sebagaimana dalam peristiwa Pentakosta banyak orang dari
berbagai daerah berkumpul alias memboroskan waktu dan tenaga untuk mendengarkan
‘perbuatan besar yang dilakukan Allah’ yang disampaikan oleh para rasul. “Kamu
juga harus bersaksi, karena kamu dari
semula bersama-sama dengan Aku”, demikian sabda Yesus kepada para rasul,
kepada kita semua. Marilah kita menjadi saksi atau teladan dalam memboroskan
waktu dan tenaga dalam hidup saling mengasihi, dengan saling membagikan
pengalaman atau sharing perihal ‘perbuatan
besar yang dilakukan Allah’, entah yang terjadi dalam diri kita yang lemah
dan rapuh maupun di dalam lingkungan hidup dan kerja kita setiap hari.
Dalam saling memboroskan waktu
dan tenaga untuk curhat perihal ‘perbuatan
besar yang dilakukan Allah’ kita
akan saling terhibur dan bersama-sama menemukan kebenaran-kebenaran. Apa yang
disebut benar senantiasa berlaku secara
universal, sebagaimana dialami oleh jemaat Perdana dalam peristiwa
Pentakosta, dimana mereka mendengarkan kebenaran-kebenaran yang diwartakan oleh
para rasul. Dalam saling curhat tersebut kiranya kita semua juga diingatkan
atau disegarkan perihal aneka ajaran, nasihat, petuah yang telah kita terima
dalam aneka kesempatan pendidikan atau pembelajaran; kita juga diingatkan dan
disegarkan perihal ajaran-ajaran Yesus, yang kiranya dapat dipadatkan dalam
ajaran untuk saling mengasihi satu sama lain. Dalam curhat dan bercakap-cakap
kita saling belajar dan mengajar. Berbagai kesalah-pahaman dapat diatasi dengan
cuthat atau bercakap-cakap bersama.
“Jikalau
kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah
kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki”
(Gal 5:25-26)
Hidup dari dan oleh Roh berarti
bersahabat atau bersaudara dengan siapapun dan apapun, dimanapun dan kapanpun,
dan cara hidup atau cara bertindaknya dijiwai oleh dan berbuahkan
keutamaan-keutamaan seperti “kasih,
sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23)..
Persahabatan atau persaudaraan sejati kiranya mendesak dan ‘up to date’ untuk
kita hayati dan sebar-luaskan,
lebih-lebih di Indonesia dimana sedang sibuk berkampanye dalam rangka pemilu
Capres dan Wapres. Jika dicermati rasanya ada sementara tokoh politik dan
bangsa yang ‘gila hormat’, yang
diperkuat dengan gila harta benda dan gila kedudukan atau jabatan. Berbagai
komunikasi dan koalisi yang diselenggarakan setelah pemilu anggota legislatif
dan sebelum pencalonan presiden dan wakil presiden nampak hanya untuk mengejar
kehormatain duniawi, harta benda maupun kedudukan atau jabatan. Maka panggilan
bagi kita semua untuk hidup dan bertindak dijiwai oleh Roh serta menghayati
keutamaan-keutamaan di atas sungguh mendesak dan ‘up to date’.
Di tengah-tengah
hiruk-pikuk/kesibukan ‘gila hormat atau kuasa’ masa kini, perkenankan saya
mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal keutamaan ‘penguasaan diri’.
Menguasai atau mengendalikan diri sendiri kiranya
tidak mudah. Jika orang tidak dapat menguasai atau mengendalikan diri sendri,
maka menguasai orang lain berarti menindas, sebaliknya jika orang dapat
menguasai diri sendiri, maka menguasai orang lain berarti melayani dan didalam
melayani pasti dijiwai oleh keutaman-keutamaan di atas. Di dalam kesempatan ini
perkenankan saya mengingatkan dan mengajak mereka yang pada saat ini sedang
berkuasa, misalnya di dalam keluarga dan tempat kerja dimana kita semua
memboroskan waktu dan tenaga kita:
1)
Orangtua/kepala keluarga: Para
orangtua atau kepala keluarga hendaknya menjadi teladan dalam hal melayani,
melayani anak-anak atau anggota keluarga, yang berarti dengan segala upaya atau
usaha senantiasa membahagiakan dan menyelamatkan anak-anak atau anggota
keluarga. Sebagai tanda atau buah bahwa pelayanan itu sungguh terjadi atau
dilaksanakan adalah anak-anak atau anggota keluarga tumbuh berkembang, semakin
cerdas dan dikasihi oleh Tuhan maupun sesamanya. Kelak kemudian hari anak-anak
ketika menjadi dewasa akan lebih cerdas atau baik daripada orangtuanya. Bahwa
di dalam keluarga juga terjadi pelayanan yang baik adalah semua anggota
keluarga berfungs secara aktif di dalam memenuhi kebutuhan keluarga.
2)
Pemimpin kantor/tempat kerja: Para pemimpin di tempat
kerja atau kantor kami harapkan menghayati kepemimpinan partisipatif, dimana
pemimpin melibatkan secara aktif semua
bawahan-nya dalam perjalanan hidup kantor atau tempat kerja. Berikut saya
sampaikan tujuh prinsip manajemen ala Jawa , yaitu : “Titi-> teliti, hati-hati,
Toto -> teratur, Titis-> tepat,
berfokus, efektif dan efisien, Temen-> jujur, tulus , Tetep-> konsisten,
mantap, Tatag-> tabah, Tatas-> tegas.” (lih :
“Apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali
menjadi debu.Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau
membaharui muka bumi Biarlah renunganku manis kedengaran kepada-Nya! Aku hendak
bersukacita karena TUHAN.”
(Mzm 104: 29b-30.34)
Jakarta, 31 Mei
2009
Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke
Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer