----- Original Message ----- 
  From: djoko pranyoto 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, June 01, 2009 10:42
  Subject: Re: [Mayapada Prana] Egoisnya Perbankan Nasional, neo-liberalism vs 
real economy





  Bank Indonesia punya otoritas penuh atas kebijaksanaannya, pemerintah tidak 
punya hak mencampurinya, hanya DPR yang dapat menanyakan segala kebijaksanaan 
BI.
  #############################################################
  HMNA:
  Itulah kecelakaan yang menimpa bangsa Indonesia kalau BI ditangai oleh 
budak-budak bermazhab neo-liberalisme.
  #############################################################
  wassallam




------------------------------------------------------------------------------
  From: H. M. Nur Abdurahman <[email protected]>
  To: [email protected]
  Sent: Monday, June 1, 2009 9:04:30 AM
  Subject: [Mayapada Prana] Egoisnya Perbankan Nasional, neo-liberalism vs real 
economy



  TR:

  Egoisnya Perbankan Nasional, 

  neo-liberalism vs real economy

  Dua data menarik mengemuka pekan ini. Pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia 
masih mencetak angka positif; 4,37 persen di tengah negara-negara lain yang 
cenderung negatif. Kedua, adalah pertumbuhan tingkat konsumsi nasional yang 
mencapai 5,84 persen.

  Dari kacamata pemerintah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani, 
tingkat pertumbuhan ini masih rapuh. Alasannya karena laju investasi Indonesia 
masih cenderung melambat. Selain itu neraca ekspor-impor nasional masih 
bersaldo minus. 

  Ini akibat merosotnya permintaan luar negeri, khususnya pasar-pasar ekspor 
utama kita; AS dan Eropa yang belum pulih dari krisis ekonominya. Dari sudut 
pandang Capres Jusuf Kalla (JK), justru fenomena ini membuktikan bahwa 
kemandirian ekonomi dalam negeri; vis a vis sektor riil, sangatlah berperan 
besar pada ketahanan ekonomi nasional, sesuai dengan misinya yang diungkapnya 
di depan forum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia . 

  Kedua sudut yang berbeda tersebut tentu berangkat dari dua pola pikir dan 
mazhab ekonomi yang berbeda. Yang berpandangan ekonomi masih rapuh, tentu 
mendasarkan diri pada mazhab neo-liberalisme bahwa mesin ekonomi bertumpu di 
sektor finansial dan luar negeri. 

  Di sisi lain terjadi penumpukan dana pihak ketiga di perbankan nasional. 
Setiap bulan dana pihak ketiga yang seharusnya tersalur pada kredit usaha, 
tertumpuk sekitar Rp 26 triliun, sehingga pada Maret 2009, jumlah duit nganggur 
itu mencapai Rp 276 triliun. 

  Walau jumlah itu hanya 20,6 persen dari total kredit yang tersalur pada 
masyarakat, namun jumlah dana nganggur itu cukup spektakuler. Lebih dari 
sepertiga dana yang dibutuhkan untuk memulihkan krisis ekonomi di AS. 

  Karena itulah wajar bahwa Wakil Presiden juga capres Jusuf Kalla, sempat 
marah kepada kalangan perbankan nasional. Perbankan nasional seperti hidup di 
negeri yang terpisah dari republik ini. Perbankan seolah tidak peduli pada 
kebutuhan dana sektor riil. 

  Perbankan nasional benar-benar egois dan congkak, sehingga pemerintah seolah 
tak punya taji menghadapi ulah mereka. Ini karena model ekonomi yang bermazhab 
neo-liberalisme. Imbauan pemerintah agar perbankan menurunkan suku bunga 
kreditnya dianggap sebagai angin lalu. Semua diserahkan pada mekanisme pasar. 

  Perbankan mau aman sendiri, tidak berani mengambil risiko dan berlindung pada 
prinsip prudential (kehati-hatian) . Sangat beda antara hati-hati (prudent) 
dengan penakut. Jika perbankan menumpuk 10 kali lipat dana wajib minimum yang 
diharuskan otoritas moneter, itu bukan sikap prudent. 

  Di sisi lain PJS Gubernur Bank Indonesia, Miranda Swaray Gultom, cenderung 
membela pihak perbankan dengan menyebutkan dana tersebut adalah dana yang tidak 
terserap oleh kalangan usaha dan industri. Dari pernyataan itu, benarkah 
pemerintahan yang dipimpin Presiden SBY saat ini berpihak pada sektor riil dan 
kemandirian dalam negeri? 

  Dana perbankan yang nganggur itu, seharusnya untuk mendorong usaha dan 
industri nasional. Dana itu tidak tersalur karena perbankan nasional 
menghalangi bisnis sektor riil mengakses dana tersebut, dengan menaikkan 
tingkat risiko. 

  Dari gejala liberalnya dunia perbankan nasional ini, kita seharusnya banyak 
belajar bahwa kita membutuhkan sebuah pemerintahan yang lebih mampu 
mengendalikan perbankan. Pemerintah yang lebih tahu esensi kekuatan ekonomi 
nasional. Pemerintah yang paham pada strategi ekonomi nasional. 





  

Kirim email ke