dan setiap gerakan dan keputusan BI hanya diamini oleh DPR yang sebagian besar 
berasal dari fraksi GOLKAR dan PDI Perjuangan.
Semoga adanya dukungan mayoritas koalisi Fraksi Demokrat   dan Fraksi - Fraksi 
Partai Islam  di tahun kerja 2009-2014, menjadikan DPR lebih takut akan Tuhan 
dan memperhatikan nasib rakyat.
wassallam

 



________________________________
From: H. M. Nur Abdurahman <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Monday, June 1, 2009 9:57:10 AM
Subject: Re: [Mayapada Prana] Egoisnya Perbankan Nasional, neo-liberalism vs 
real economy





 
----- Original Message ----- 
From: djoko pranyoto 
To: mayapadaprana@ yahoogroups. com 
Sent: Monday, June 01, 2009 10:42
Subject: Re: [Mayapada Prana] Egoisnya Perbankan Nasional, neo-liberalism vs 
real economy

Bank Indonesia punya otoritas penuh atas kebijaksanaannya, pemerintah tidak 
punya hak mencampurinya, hanya DPR yang dapat menanyakan segala kebijaksanaan 
BI.
############ ######### ######### ######### ######### ######### ####
HMNA:
Itulah kecelakaan yang menimpa bangsa Indonesia kalau BI ditangai oleh 
budak-budak bermazhab neo-liberalisme.
############ ######### ######### ######### ######### ######### ####
wassallam




________________________________
From: H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrahman@ yahoo.co. id>
To: mayapadaprana@ yahoogroups. com
Sent: Monday, June 1, 2009 9:04:30 AM
Subject: [Mayapada Prana] Egoisnya Perbankan Nasional, neo-liberalism vs real 
economy


TR:
Egoisnya Perbankan Nasional,
neo-liberalism vs real economy

Dua data menarik mengemuka pekan ini. Pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia 
masih mencetak angka positif; 4,37 persen di tengah negara-negara lain yang 
cenderung negatif. Kedua, adalah pertumbuhan tingkat konsumsi nasional yang 
mencapai 5,84 persen.

Dari kacamata pemerintah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani, tingkat 
pertumbuhan ini masih rapuh. Alasannya karena laju investasi Indonesia masih 
cenderung melambat. Selain itu neraca ekspor-impor nasional masih bersaldo 
minus. 

Ini akibat merosotnya permintaan luar negeri, khususnya pasar-pasar ekspor 
utama kita; AS dan Eropa yang belum pulih dari krisis ekonominya. Dari sudut 
pandang Capres Jusuf Kalla (JK), justru fenomena ini membuktikan bahwa 
kemandirian ekonomi dalam negeri; vis a vis sektor riil, sangatlah berperan 
besar pada ketahanan ekonomi nasional, sesuai dengan misinya yang diungkapnya 
di depan forum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia . 

Kedua sudut yang berbeda tersebut tentu berangkat dari dua pola pikir dan 
mazhab ekonomi yang berbeda. Yang berpandangan ekonomi masih rapuh, tentu 
mendasarkan diri pada mazhab neo-liberalisme bahwa mesin ekonomi bertumpu di 
sektor finansial dan luar negeri. 

Di sisi lain terjadi penumpukan dana pihak ketiga di perbankan nasional. Setiap 
bulan dana pihak ketiga yang seharusnya tersalur pada kredit usaha, tertumpuk 
sekitar Rp 26 triliun, sehingga pada Maret 2009, jumlah duit nganggur itu 
mencapai Rp 276 triliun. 

Walau jumlah itu hanya 20,6 persen dari total kredit yang tersalur pada 
masyarakat, namun jumlah dana nganggur itu cukup spektakuler. Lebih dari 
sepertiga dana yang dibutuhkan untuk memulihkan krisis ekonomi di AS. 

Karena itulah wajar bahwa Wakil Presiden juga capres Jusuf Kalla, sempat marah 
kepada kalangan perbankan nasional. Perbankan nasional seperti hidup di negeri 
yang terpisah dari republik ini. Perbankan seolah tidak peduli pada kebutuhan 
dana sektor riil. 

Perbankan nasional benar-benar egois dan congkak, sehingga pemerintah seolah 
tak punya taji menghadapi ulah mereka. Ini karena model ekonomi yang bermazhab 
neo-liberalisme. Imbauan pemerintah agar perbankan menurunkan suku bunga 
kreditnya dianggap sebagai angin lalu. Semua diserahkan pada mekanisme pasar. 

Perbankan mau aman sendiri, tidak berani mengambil risiko dan berlindung pada 
prinsip prudential (kehati-hatian) . Sangat beda antara hati-hati (prudent) 
dengan penakut. Jika perbankan menumpuk 10 kali lipat dana wajib minimum yang 
diharuskan otoritas moneter, itu bukan sikap prudent. 

Di sisi lain PJS Gubernur Bank Indonesia, Miranda Swaray Gultom, cenderung 
membela pihak perbankan dengan menyebutkan dana tersebut adalah dana yang tidak 
terserap oleh kalangan usaha dan industri. Dari pernyataan itu, benarkah 
pemerintahan yang dipimpin Presiden SBY saat ini berpihak pada sektor riil dan 
kemandirian dalam negeri? 

Dana perbankan yang nganggur itu, seharusnya untuk mendorong usaha dan industri 
nasional. Dana itu tidak tersalur karena perbankan nasional menghalangi bisnis 
sektor riil mengakses dana tersebut, dengan menaikkan tingkat risiko. 

Dari gejala liberalnya dunia perbankan nasional ini, kita seharusnya banyak 
belajar bahwa kita membutuhkan sebuah pemerintahan yang lebih mampu 
mengendalikan perbankan. Pemerintah yang lebih tahu esensi kekuatan ekonomi 
nasional. Pemerintah yang paham pada strategi ekonomi nasional. 




      

Kirim email ke