Salam, Mas Sony... tulisan anda bagus sekali, Terus terang membaca tulisan anda saya jadi merasa satu langkah lebih dalam memahami makna kesadaran dalam rasa diri saya.
banyak sekali kita melihat klaim kesadaran telah dicapai oleh teman-teman, namun dari beberapa tulisan rasanya kok masih jauh sekali dari klaim-klaim mereka. apakah kesadaran itu memang harus benar-benar disadari..? bukan di klaim...... dan keasadaran itu tujuannya tentu agar kita mengenal diri ( baca : TAU DIRI ) lebih dari itu, Saya jadi lebih mengerti mengapa ada satu kalimat dalam sebuah Ketetapan maha karya yang menuliskan " ALM, Inilah Satu Ketetapan, yang tidak ada keraguan didalamnya, dan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang sadar / menyadari" dan rupan-rupanya, sang nabi2 sejak jaman komputer belum ada, internet belum ada, kampus-kampus belum ada listrik belum ada bahkan masih pake obor, mereka sudah mengajarkan kita agar menjadi manusia yang sadar dan menyadari, bukan manusia takut ( ditakut2i) seperti kebanyakan ajaran yang kita temui sehari- hari. dan akhirnya kita memang menjadi sangat maklum ketika ada satu kalimat yang mengatakan " sesungguhnya manusia yang paling mulia adalah manusia yang paling sadar / menyadari ( Taqwa) " sekali lagi terimakasih tulisannnya Mas, Salam Alaykum Pada Kam, 25/2/10, Sony H Waluyo <[email protected]> menulis: Dari: Sony H Waluyo <[email protected]> Judul: [Mayapada Prana] Pikiran dan Kesadaran Kepada: "Sony H Waluyo" <[email protected]> Tanggal: Kamis, 25 Februari, 2010, 3:20 AM Sekedar mencoba menyadari pengalaman2 batin... yg saat saya coba ekspresikan, saya selalu kesulitan utk mengatakannya. .. seolah tak ada kata2 yg tepat utk menjelaskannya. .. Mungkin beberapa rumusan ajaran mampu mendekati makna kesadaran itu, dg sedikit polesan sana sini, atau kombinasi sana-sini... tetapi tetaplah gagal merumuskan apa arti kesadaran itu sendiri... Jika saya diam, apakah saya benar-benar telah sadar?... Saya hanya bisa mulai mengukurnya saat saya ekspresikan dlm bentuk kata2 dan perbuatan... Namun nampaknya satu potong kalimat atau satu bentuk perbuatan sama sekali tdk mewakili kesadaran saya itu... dan celakanya setiap ekspresi dlm kata2 harus keluar melalui pikiran.... Apakah saya harus diam atau bicara... utk sebuah rumusan kesadaran dan mengukur kesadaran saya sendiri?... Bila Sang Pencipta itu memiliki kesadaran, apa wujudnya?... Bila setiap ciptaan adalah ekspresi kesadaranNya… dan setiap ciptaan adalah percikan dari diriNya, apakah setiap ekspresi kesadaran ciptaanNya mjd bagian dari kesadaranNya? ... Akhirnya saya sering hanya bisa menerima setiap penjelasan satu demi satu...keping- demi-keping. .. melihat sisi baik-buruk dari setiap rumusan kesadaran dan pikiran...hanya itu sampai saat ini yg bisa saya lakukan... Love & light always be with you... Sony H Waluyo * You are what you think about. Beware of your mind. [kesadaran ada di rasa, sulit utk memahaminya dg pikiran. Kita bisa bebas menyimpulkan apa yg kita lihat dan rasakan. Namun tetaplah sulit mendefinisikan rasa garam dengan kata2, tapi dg rasa di lidah semua orang sepakat itulah rasa garam, asin itu pasti asin, pahit itu pasti pahit. Demikian juga saat dirasa di hati, kasih itu pasti kasih. Olah rasa akan dg jelas mendefinikan kesadaran. Olah rasa...olah kesadaran... intuisi yg akan bermain...menyalurk an cahaya... cahaya adalah ilmu pengetahuan dan pengetahuan mjd landasan utk bertindak bijaksana dlm mengolah alam dan kehidupan]. ============ ====== "Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang! http://id.mail.yahoo.com"

