----- Original Message ----- 
From: MANG UCUP 
To: maya ; Zaman 
Sent: Monday, March 08, 2010 00:28
Subject: [Mayapada Prana] Tuhan itu hasil ciptaan Otak?

Pertanyaan: “Apakah Tuhan yang menciptakan Otak ataukah Otak yang menciptakan 
Tuhan?” 

Filsuf Perancis Rene Descrates (1596 -1650) yang mendapatkan julukan sebagai 
Penemu Fisalfat Modern berpendapat: “Aku berpikir, maka aku ada”, dalam bahasa 
Latin “Cogito ergo sum” atau dalam bahasa Perncis “Je pense donc je suis”. 
Berdasarkan kesimpulan tersebut saya juga bisa menyatakan: “Tuhan itu ada, 
karena aku berpikir, bahwa Tuhan itu ada”. 

Memang pikiran itu hanyalah salah satu aktivitas dari fisik otak, tetapi 
cobalah renungkan arti dari kalimat ini: “Aku menetapkan PIKIRANKU untuk 
membeli sepeda” (I made up my MIND to buy a bike). Orang tidak akan berkata: 
“Aku menetapkan OTAKKU untuk membeli sebuah sepeda” (I made up my BRAIN to buy 
a bike). Jadi kesimpulannya pikiran inilah yang mengendalikan otak (mind over 
matter) atau secara tidak langsung terbuktikan, bahwa Tuhan itu sebenarnya 
adalah hasil ciptaan dari pikiran kita.

Bahkan menurut Dean Hamer (Kepala Struktur Gen di U.S. National Cancer 
Institute) dalam bukunya “The God Gene” menyatakan, bahwa ia telah berhasil 
menemukan Tuhan di dalam gen manusia atau ranah Tuhan atau saklar Tuhan yang 
ada di dalam otak manusia. Jadi ini sesuai dengan apa yang ditulis oleh 
Maththew Alper dalam bukunya “The God Part of the Brain” jadi kita tidak perlu 
mencari Tuhan di surga, karena Tuhan itu sebenarnya hanya bersemayan dan berada 
di dalam otak kita saja. 

Pendapat Hamer ini juga didukung oleh Robert Thurman profesor studi agama 
Buddha yang berpendapat bahwa penemuan itu memperkuat salah satu konsep Buddha 
yang populer, bahwa manusia itu mewarisi gen spiritualitas dari inkarnasi kita 
yang terdahulu. 

Menurut Alper dalam bukunya “The God Part of the Brain”, bahwa manusia itu 
secara halus telah disetel atau digiring sedemikian rupa untuk berpaling pada 
suatu realitas spiritual dan untuk mempercayai kuasa-kuasa yang melampaui 
keterbatasan dari realita fisik kita. Hal ini bisa terjadi karena instink yang 
diwariskan secara genetika.

Misalnya karena adanya perasaan takut mati sehingga secara alami menimbulkan 
sebuah insting bagi keyakinan religius dalam diri manusia perdana. Untuk 
mengatasi rasa gelisah dan takut mati inilah otak besar kita mencari jalan 
keluar bagaimana caranya agar mampu mempertahankan kehidupan setelah kematian. 
Dari situlah awal timbulnya pikiran manusia untuk menciptakan Sang Tuhan.

Disamping itu, karena adanya rasa takut inilah juga yang telah menimbulkan 
kepercayaan dalam seperangkat mekanisme di dalam otak manusia, sehingga kita 
yakin dan tanggap akan adanya doa kesembuhan, sehingga akhirnya menimbulkan 
plasebo efek bagi sang pasien. 

Mungkin sudah tiba saatnya dimana para ahli memperdalam dan mempelajari 
mengenai disiplin ilmu anyar – suatu teologi genetika (Genotheology) yang baru 
untuk mencari jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut diatas.

Majalah Time dalam edisi Jumat Agung (8 April 1966) memuat artikel dengan judul 
“Is God Dead?” dimana mereka memprediksikan, bahwa agama akhirnya akan mati 
dibunuh oleh Sains.

Bagaimana pendapat Anda?
################################################################################################
HMNA:
Manusia mencipta tuhan di dalam benaknya. Itulah dia yang disebut ila-h(un). 
Itulah yang dinafikan (ditolak) dalam laa ila-ha, pada hakekatnya tidak ada itu 
ila-hun hasil ciptaan manusia dalam benaknya, yang Ada adalah Yang mencipta 
manusia dan alam semesta, Dia punya Proper Name adalah Allah. Sebab sewaktu 
manusia belum ada di permukaan bumi ini, ila-hun itu juga tidak ada, karena itu 
adalah hasil ciptaan manusia dalam benaknya. Jadi ma'na laa ila-ha illaLla-h, 
adalah tidak ada ilah (=sesembahan) hasil ciptaan manusia dalam benaknya, Yang 
Ada adalah Allah. Itulah Syahadat pertama ummat Islam. Sedangkan syahadat kedua 
adalah Muhammadan RasuwluLlah, artinya Muhammad Utusan Allah. Lengkapnya 
Syahadat ummat Islam: Asyhadu an laa ila-ha illaLla-h, wa asyhadu anna 
Muhammadan RasuwluLlah.

Allah adalah proper name, nombre propio, nama asli, nama diri, maka tidak untuk 
diterjemahkan. Nama asli ALLAH ini mengandung keunikan, uniqueness, el ùnico, 
satu-satunya, the One and Only One. Karena Allah adalah proper name tidak 
dijabarkan dari akar kata dalam bentuk fi'il (verb) atau isim (noun). Beda hal 
nya dengan kata ila-h(un) yang dijabarkan dari akar kata Alif-Lam-Ha = 
ila-h(un) dalam bentuk singular, a-lihat(un) dalam bentuk plural), berbentuk 
isim = "sesembahan" hasil imajinasi manusia, yaitu berhala, atau manusia yang 
dipertuhankan seperti Jesus dalam theologi Trinitas. Jika kita menyebut Tuhan = 
God, maka kata god, singular = tuhan, bisa dijamakkan, menjadi gods /dewa2, 
yang ini maskulin / male gendernya. Sedang kalau digenderkan feminin/female, 
menjadi goddess/dewi2. Jadi kata God ini lebih bisa membiaskan kejamakan dan 
juga jenis kelamin. Sedangkan Allah, Yang Proper Name, tidak terikat pada ilmu 
nahwu (grammar), tidak dijabarkan dari akar kata tiga huruf, tidak kejamakan, 
tidak laki-laki (der), tidak perempuan (die), tidak banci / onzijdig (das).

###############################################################################################################

Mang Ucup
Email: mang.ucup<at>gmail.com
Homepage: www.mangucup.org 

Kirim email ke