Nih ada komentar dari Wafa Idrisi yang hampir mirip dengan komentar saya
hanya matan-nya sahaja yang beza.

Wafa Idrisi comments:
"Saya sepakat, terorisme jelas terlaknat. Apalagi membunuh orang yang
tidak berdosa. Soal keterkaitan Hendro, Salafi, JK dan JIL, dari tulisan
tersebut sangat suspicious, prejudice, dan tidak ada logika yang kuat
dan bukti yang kongkret soal keterkaitan antar mereka (Hendro, Salafy,
JIL dan JK). Alangkah baiknya kalau tulisan ini bisa memberikan fakta
yang utuh, berdasarkan fact news dilapangan yang dapat mencerdaskan
pembaca. Dari beberapa statement yang ditulis, penulis tidak menyebutkan
sumbernya, hanya ditulis Menurut Sumber SAKSI. Apakah ini bisa
dipertanggungjawabkan? Apalagi tulisan ini juga kental terhadap
pembelaan kalangan tarbiyah, yang seolah-olah Sayyid Qutb, Qaradhawi,
Hassan al-Banna, milik mereka. Para ulama tersebut_Hafidazhumullah
ajma'in- milik semua umat Islam. <br> <br>Saya termasuk yang juga tidak
setuju dengan cara-cara dakwah kelompok yang mengaku salafi. Mereka
terkadang tidak mengedepankan adab, merasa paling benar. Disaat umat
Islam sedang bersatu melawan hegemoni Amerika yang zalim, kelompok yang
mengaku salafy justru menuding-nuding para mujahid Islam sebagai
khawarij. Bahkan denga kata-kata yang kasar. ( silahkan Anda baca buku
:&quot;Mereka Teroris&quot; karya Luqman Ba'abduh, sebuah buku bantahan
terhadap buku Imam Samudera) dalam buku itu pengarang menyebut kalangan
yang ia cap sebagai khawarij (Tersebut nama-nama: Yusuf Qaradhawi,
abdullah Azzam, Hassan al-banna, Sayyid Qutb, Usamah bin ladin, Safar
hawaly, Salman Audah,Abu Bakar Ba'asyir dan Abdullah sungkar) sebagai
&quot;ANJING_ANJING JAHANNAM!&quot; Naudzubillah tsumma nau'udzubillah!
Apakah ini dakwah salafy? Menyebut para ulama mujahid sebagai
&quot;ANjing&quot; <br> <br>Kepada Saudara rizky, penulis artikel ini,
alangakah lebih cerdas jika tulisan Anda tidak sekadar praduga,
suspicious dan cenderung tak berdasar fakta. Selamat untuk SAKSI"



-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of Teguh, Imanullah (PSU)
Sent: Friday, December 09, 2005 4:29 PM
To: [email protected]
Subject: [media-dakwah] Bola Liar Setelah "AZAHARI"?

Dari Majalah SAKSI, menarik disimak dan dikomentari kalo ada yang mau
komentar...

Dan komentar saya: ada di akhir tulisan analisa dari Rizky Ridyasmara di
Majalah SAKSI dibawah ini.

 

==================================================

Bola Liar Setelah "AZAHARI"?

Senin, 05 Desember 05 - by: saksi 

 

Usai penyergapan di Malang, pemberantasan teroris bagai bola liar yang
ditendang kesana kemari oleh banyak pihak. Ke mana arah bola itu
berakhir?

 

Rabu sore, 9 November 2005, Doktor Azahari dikabarkan tewas. Sepekan
kemudian, Wapres Jusuf Kalla mengumpulkan 12 ulama NU dari Jawa Timur di
kediamannya untuk nonton VCD penyergapan di Batu-Malang dan VCD
pernyataan tiga pelaku bom Bali II. Acara nonton VCD ini dilanjutkan
dengan ulama-ulama lainnya secara marathon keesokan harinya.. 

 

Para ulama yang nonton bareng Jusuf Kalla menyatakan penafsiran jihad
seperti yang ditayangkan VCD tersebut salah kaprah. Mereka bahkan
berinisiatif membentuk Satgas Ulama Anti Teror yang salah satu misi
utamanya "meluruskan" makna jihad ke tengah masyarakat. Menteri Agama
Maftuh Basyuni bahkan menyatakan akan meninjau ulang keberadaan
buku-buku keislaman, khususnya yang mengajarkan jihad. 

 

Tanggal 20 Novembernya, dalam wawancara ekslusif dengan LKBN Antara,
mantan Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Letjen (Pur) AM.
Hendropriyono mendesak pemerintah melarang pemikiran dan buku-buku Sayid
Quthb. Hendro juga minta pemerintah turut campur tangan dalam penentuan
kurikulum pesantren. Belum cukup dengan itu, Hendro juga menyerukan
pemerintah agar melarang keberadaan organisasi-organisasi Islam yang
dianggapnya radikal. 

 

"Di Arab Saudi dan negara lain, kurikulum di sekolah agama atau
madrasah, termasuk di Pakistan, diganti," ujar Hendro tanpa menyebutkan
bahwa pemerintah Saudi dan Pakistan memang telah menjadi sekutu bagi
Amerika. 

 

Sebelumnya, Wapres Jusuf kalla, yang juga "juragan" Partai Golkar ini,
bahkan meminta agar pemerintah secara resmi melarang buku-buku dan
pemikiran Hasan al Banna serta Sayid Quthb. 

 

Nyaris bersamaan waktunya, kelompok Ahlul Sunnah Wal Jamaah (ASWJ) yang
lebih populer disebut kelompok Salafy dalam situs resminya
(www.salafy.or.id) malah secara terang-terangan menuding kelompok yang
dianggapnya kaum khawarij antar alain gerakan Ikhwanul Muslimin, Hasan
al Bana, Yusuf Qaradhawy, Sayyid Quthb, Abdullah Azzam, dan Usamah bin
Ladin sebagai dalang aksi teror bom bunuh diri di Indonesia. 

 

"Ketahuilah, Salafy - Ahlussunnah wal Jama'ah dan Ulamanya MENGECAM
KERAS perbuatan anarkhis, peledakan membabi-buta, teror bom bunuh diri,
dst. Hal ini diakibatkan oleh racun yang ditebar oleh tokoh Khawarij
plus Ikhwanul Muslimin (IM), Hasan al Banna dan diamini kadernya Sayyid
Quthb, Yusuf Qardhawi, Usamah bin Ladin, Abdullah Azzam, termasuk
pembebeknya, Imam Samudra, Amrozy, Dr. Azahari Husin, Nurdin M. Top,
dkk," demikian isi halaman depan situs Salafy itu. 

 

Dan sangat kebetulan, jika ini memang sekadar kebetulan, pada waktu
bersamaan di berbagai toko buku bererdar sebuah buku berjudul "Sayid
Quthb Sumber Teroris" yang diterbitkan oleh penerbit Az-Zahri di
Ciputat. Setelah ada ikhwan yang menyelidiki lokasi penerbitan itu,
ternyata ini memang penerbit buku-buku JIL (Jaringan Islam Liberal) yang
berkiblat ke Tel Aviv dan Washington. 

 

Bila ditarik benang merahnya, maka akan ditemukan sebuah komposisi yang
amat menarik: mantan Ka BIN Hendropriyono, Ketua Partai Golkar dan
Wapres Jusuf Kalla, Kelompok Salafy, dan Kelompok JIL, bersatu-padu
bersama-sama ingin mengganyang gerakan Ikhwanul Muslimin. Mereka
berempat berada dalam satu barisan menuding IM beserta tokoh-tokohnya
menjadi dalang sekaligus inspirator aksi teror bom bunuh diri di
Indonesia yang dilakukan Amrozi cs. 

 

Kesamaan pandangan Hendro dengan Jusuf Kalla tidaklah mengherankan.
Keduanya sama-sama warisan produk Orde Baru, jadi satu paradigma dan
satu ilmu. 

 

Kesamaan pandangan Hendro dengan Salafy juga tidak mengherankan.
Bukankah ketika Ambon masih bergolak, di tengah masyarakat kuat
berhembus kabar bahwa Hendro diam-diam merestui pembentukan Laskar Jihad
pimpinan Ustadz Jafar Umar Thalib. Sebab itu, Laskar Jihad bisa dengan
leluasa menggelar latihan para militer di daerah Kemang, Bogor. Walau
kemudian setelah tiba di medan jihad di Ambon-menurut para veteran Ambon
lainnya-para anggota Laskar Jihad ini tidak pernah terlibat langsung
dalam qital sesungguhnya. 

 

"Mereka kebanyakan hanya menggelar kerja bakti, bikin got, dan
sebagainya. Walau ke mana-mana membawa pedang. Menurut mereka, itu
bagian dari sunnah Rasul. Jadi walau musuh pakai M16, mereka tetap pakai
pedang. Mereka bahkan tidak pernah kompak dengan mujahidin lain, ada
mujahidin di luar mereka yang digebuki oleh mereka itu," ujar sumber
SAKSI. 

 

Yang mengagetkan adalah kesamaan sikap antara Salafy dengan aktivis JIL.
Ini baru berita. Yang satu mengaku sebagai satu-satunya pewaris Ahlul
Sunnah Wal Jamaah (ASWJ) yang sah, sedang yang lainnya merupakan Ahlul
Amrikiyah wa Israiliyah Wal Jamaah (AAIJ). Keduanya yang seharusnya
bagai air dan minyak, ternyata bisa bersatu dengan begitu padu dan
kokoh. Ini menimbulkan pertanyaan, apakah JIL sudah tobat hingga menjadi
golongan Ahlul Sunnah Wal Jamaah, atau jangan-jangan terbalik? Ini bisa
menjadi penelitian harakah Islamiyah yang sangat menarik. 

 

Salafy dalam situsnya secara overacting juga menulis, "Salafy bukan
Teroris, Teroris bukan Salafy". Ini aneh, padahal seingat penulis belum
ada pihak mana pun yang menuding Salafy terkait aksi terorisme di
Indonesia. Yang ada adalah pernyataan Kapolri Jenderal Pol Sutanto yang
menegaskan bahwa aliran dana terorisme di Indonesia berasal dari Saudi.
Mengapa Salafy terkesan begitu "sensi" mendengar pernyataan Kapolri itu.
Adakah Saudi punya hubungan istimewa dengan Salafy? hingga Salafy merasa
perlu memproklamirkan diri bukan teroris dan bahkan balik menuding IM
beserta tokoh-tokohnya sebagai dalang terorisme. 

 

Padahal siapa pun tahu, Saudi sudah lama anti dengan IM, sebab itu tidak
masuk akal jika Saudi mau mengucurkan dana ke IM. Di LIPIA saja, lembaga
pendidikan tinggi milik Kerajaan Saudi yang ada di Jakarta, sudah lama
mahasiswa-mahasiswa yang berafiliasi dengan IM di injak-injak dan
terus-menerus diperlakukan diskriminan oleh sesama mahasiswa dan staf
pengajar yang memiliki guru besar di Saudi. Ini bukan rahasia umum lagi.


 

Sasaran tembak mereka, Jusuf Kalla, Hendro, Salafy, dan JIL, agaknya
sudah demikian terang, siapa lagi jika bukan kalangan tarbiyah yang
memang sering mengkaji buku-buku dan pemikiran Hasan al Bana, Yusuf
Qaradhawy, Sayid Quthb, Abdullah Azzam, dan sebagainya. Mereka sama-sama
punya kepentingan, baik kepentingan jangka pendek seperti Pemilu 2009
misalnya (jangan lupa, Kalla adalah juragannya Partai Golkar yang ingin
mengkuningkan Indonesia kembali, sedang Hendro merupakan kader PDIP yang
ingin mengembalikan Megawati duduk di kursi RI-1 lagi), atau pun
kepentingan jangka panjang yang entah apa. 

 

Selain menuding IM dan tokoh-tokohnya yang begitu ikhlas dalam
memperjuangkan dan meninggikan kalimah Allah selama hayat dikandung
badan, orang-orang ini juga minta agar penafsiran jihad "diluruskan" dan
kurikulum pesantren diawasi secara ketat. Dengan demikian, secara
implisit mereka sesungguhnya menuduh Islam sebagai sumber masalah
terorisme. 

 

Hal yang sama sebenarnya sudah diucapkan oleh Bush dan Condoleeza Rice
yang dengan "lebih jujur" menyerukan agar kurikulum pesantren diubah
sehingga lebih permisif terhadap nilai-nilai Barat, idem tito dengan
seruan-seruan JIL. 

 

Dalam hal permintaan untuk "menertibkan" buku-buku, Menteri Agama Maftuh
Basyuni bahkan sudah menurunkan tim untuk mulai memeriksa sejumlah buku
yang dicurigai mengajarkan paham ekstrem. Kriteria ekstrem sendiri tidak
disebutkan secara eksplisit. 

 

Kepada SAKSI, Sekjen Depag RI Dr. Faisal Ismail mengatakan, "Saat ini
tim Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Agama dan Diklat
Keagamaan Departemen Agama RI terus melakukan kajian yang mendalam."
Faisal menjelaskan bahwa dari kajian itu tim akan memberi rekomendasi
kepada Menteri Agama terkait dengan buku-buku jihad yang bakal dilarang
dari peredaran. 

 

Secara implisit, selaras dengan permintaan Jusuf Kalla, maka buku-buku
jihad karangan Abdullah Azzam, Sayid Quthb, Hasan al Bana, dan lainnya
diduga kuat akan segera dilarang. Jika ini terjadi maka sudah jelas
bahwa gerakan reformasi telah gagal dan Orde Baru kembali berkuasa,
dengan ganti nama tentunya. 

 

Anggota DPR Yuddi Chrisnandi mengecam niat pemerintah yang akan melarang
buku-buku tertentu. "Nggak zamannya sekarang melarang-larang orang untuk
membaca. Harus jelas kriterianya buku apa saja yang harus dilarang.
Apakah nanti bukunya Che Guevara, Yasser Arafat, dan Saddam Husein
merupakan buku teroris sehingga karyanya tak bisa dibaca. Biarkan
masyarakat menilai sendiri mana buku yang pantas dibaca dan mana yang
tidak," sergah Yuddi. 

 

Sayangnya, baik Jusuf Kalla dan Hendropriyono sama sekali tidak mendesak
pemerintah agar juga melarang buku-buku porno, buku-buku yang
terang-terangan menghujat Rasulullah SAW seperti buku "Lubang Hitam
Agama" karya Sumanto al Qurtubi, aktivis JIL, dan sebagainya. 

 

Operasi penumpasan terorisme setelah penyergapan sarang teroris di Batu,
Malang, kian hari kian liar tak terkendali. Kuartet Hendro, Kalla,
Salafy, dan JIL jelas menuding kalangan tarbiyah. Diam-diam, Kepala BIN
Syamsir Siregar minta agar RUU Intelijen segera disahkan dan minta agar
intelijen diberi kewenangan menangkap orang yang dicurigai. Teve pun
tiap hari menayangkan berita-berita tentang teroris. Lantas jika
demikian, apa yang sebenarnya harus diwaspadai? Kenaikan BBM berkala,
tentu saja.

 

 

 

Rizki Ridyasmara  

Majalah SAKSI

http://www.majalahsaksi.com/suarasaksi/?pilih=lihat&id=43

 

Komentar: dari saya adalah nasehat bagi saudara-saudaraku yang mengaku
paling "salafi", tulisan diatas menjadi koreksi atas dakwah kalian
terutama di Indonesia.

 

Fenomena ini membuka tsaqofah (wawasan) kita bahwa salafi atau
ahlussunnah atau wahabi atau disebut pula sunni (semuanya bermakna sama)
seharusnya tidak sekedar pengakuan saja. Singkatnya jangan mengaku
paling Salaf sendirian.

 

Mengaku bermanhaj salaf tapi tidak berakhlak salaf hal itu terlihat
dalam metode dakwah dikalangan sebagian "Salafi" mudah sekali mentahdzir
kelompok ahlussunnah lain dengan cara yang KASAR. 

Saran saya sebaiknya kelompok lain yang dianggap salah oleh yang mengaku
"Salafi" perlakukan sebagaimana saudara menasehati sesama saudaranya
dengan ahsan (baik). Bahkan klimaksnya saya mendapatkan laporan dari
ikhwan FPI di Petamburan bahwa ada kata-kata ANJING yang ditujukan
kepada Syaikh Abdullah Azzam di buku mereka yang berjudul  "Mereka
Memang Teroris" yang merupakan buku bantahan terhadap buku karya Imam
Samudra yang berjudul "Aku Melawan Teroris". 

 

Wah...wah...wah...dari sebutan khawarij meningkat menjadi ANJING???
Tidak adakah kebaikan atas Syaikh Abdullah Azzam sehingga layak disebut
ANJING? Sudah sekasar itukah?

 

Pengalaman pribadi saya dengan ikhwan salaf yang mengaku paling "salafi"
adalah ketika mereka mencela ikhwan PKS sampai keluar batas, saya
katakan ke dia bahwa ini bukanlah akhlak ahlussunnah sampai dia
tercengang dan melihat heran kepada saya karena saya memang temannya
yang bermanhaj sama (sama-sama salaf).

Saya nasehati dia dengan singkat. Walau begitu saya tetap bertemu dan
berteman dengannya.

 

Kalo menasehati yang baek-baek aja lah kalimatnya diatur yang manis
semanis martabak. Jangan asal copy paste artikel yang tak di edit dulu.
Pertimbangkan sasaran dakwah yang dihadapi dan jangan dipukul rata bahwa
semuanya adalah orang sesat. Kali aja ada yang memang baru belajar
Islam. Dan pada dasarnya kalo orang muslim yang jujur sedang belajar
insya Allah mau menerima masukkan agama asalkan baek-baek aja
menyampaikannya.

 

The last comment: Emangnya yang mau ke surga yang mengaku "Salafi" aja?

 

Sekian mohon maaf bagi para Salafi yang merasa paling salaf di milis
ini.

 

Wassalamu'alaikum

Dari Abu Fahmi, salafi paling kritis :-)



[Non-text portions of this message have been removed]




Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links



 




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke