Borok-Borok Sufi
Salim Al-Hilali dan Ziyad Ad-Dabij 

Halaman dua dari tiga tulisan 
SYARI'AT DAN HAKIKAT 

Para pemimpin sufi mengatakan, bahwa setiap ayat
mempunyai unsur lahir dan bathin. Atau, Islam itu
terdiri dari syari'at dan hakikat. Syari'at, bila
dibandingkan dengan hakikat, laksana buih. Hakikat
merupakan tingkatan paling sempurna, puncak dan sangat
tinggi dalam tangga peribadahan Islam. 

Cara agar mampu untuk mencapainya adalah dengan
memiliki ilmu laduni, kasyaf Rabbani serta Faidh
Ar-Rahmani. Dalihnya, hadits yang diriwayatkan imam
Bukhari dari Abu Hurairah : 

"Artinya : Aku menghafalkan dari Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam dua kantung ilmu. Adapun
salah satunya telah aku sebarkan. Sedangkan lainnya,
bila ku sebarkan akan dipotong tenggorokan ini".
(Hadits Riwayat Bukhari dalam kitab Fitan). 
Padahal ini sebagai isyarat dari beliau rahimahullah
tentang akan tidak adanya kaitan antara ilmu batin dan
ilmu zhahir. Kalau tidak begitu, pasti beliau akan
mencantumkannya dalam Al-'Ilm. Sesungguhnya, Al-Hafidz
Ibnu Hajar telah menerangkan masalah tersebut secara
rinci dalam kitabnya, Fathu Al-Bari I/216. 
Oleh karena itu, barangsiapa menyatakan Islam terdiri
dari lahir dan batin, berarti dia telah menyangka
Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam
mengkhianati tugas kerasulannya. Tapi, inilah
kenyataannya. Mereka berkeyakinan, Rasulullah hanya
menyampaikan yang zhahir saja. Sedang, yang batin
beliau beritahukan kepada orang-orang tertentu. 13) 

Demi Allah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam berlepas dari yang mereka kaitkan
kepada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan
Allah, malaikat Jibril serta orang-orang shalih dari
kalangan yang beriman menyaksikan yang demikian itu.
Berfirman Allah Subhanahu wa Ta'ala : 

"Artinya : Pada hari ini Aku sempurnakan untukmu
agamamu, dan Aku lengkapkan untukmu semua ni'mat-Ku
serta Aku ridhai bagimu Islam sebagai agama".
(Al-Maidah : 3). 
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam telah meminta
persaksian di hadapan segenap manusia muslim yang
berkumpul di bawah Jabal Ar-Rahmah pada hari haji
akbar. Kata beliau, "Sesungguhnya, kalian akan ditanya
tentang aku. Maka, apakah yang akan kalian katakan ?"
Jawab mereka : "Kami bersaksi bahwa engkau telah
menyampaikan risalah Rabb-mu dan telah menunaikannya.
Engkau telah menasehati umatmu dan menunaikan
kewajibanmu". 
Lantas beliau bersabda seraya mengacungkan telunjuknya
ke arah langit dan menggerak-gerakkannya ke hadapan
manusia : "Ya Allah, saksikanlah. Ya Allah,
saksikanlah". (Potongan dari hadits Jabir bin Abdullah
tentang hajinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam. Di-tahqiq ulang Syaikh Muhammad Nashiruddin
Al-Albani dalam Hijjah An-Nabi, hal. 37-41). 

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun telah
menyatakan secara terang-terangan, dan hal ini sebagai
hujjah nyata guna menampar setiap pendusta dan yang
suka berbuat dosa. Kata beliau : 

"Artinya : Sesungguhnya seorang nabi tidak mengenal
main isyarat (dengan mata)". (Hadits Shahih Riwayat
Imam Ahmad, Abu Dawud, dari Anas. lihat Shahih
Al-Jami' II/303). 
Maksudnya memberi isyarat dengan isyarat rahasia. Hal
ini agar tidak ada seorangpun yang berburuk sangka
yang menyebabkan tumbuhnya keyakinan, bahwa dalam
agama Allah ada rahasia yang tidak banyak diketahui
manusia. 
Yang semakna dengan hadits ini adalah sabdanya : 

"Artinya : Sesungguhnya tidak selayaknya bagi seorang
nabi mempunyai mata yang khianat". (Hadits Shahih
Riwayat Abu Dawud, Nasa'i dan Hakim dari Sa'id. Lihat
Shahih Al-Jami' II/307). 
AL-HULUL WA AL-ITTIHAD 
Sebagaimana kelompok sufi berkhayal, siapa saja yang
menempuh jalan ilmu batin, pada akhirnya akan mencapai
tingkatan melebur bersama dzat Allah. Ketika itulah ia
menempati dzat tersebut, hingga bercampur sifat
ketuhanan dengan tabiat kemanusiaan. Bentuk lahirnya
manusia, tetapi hakikat batinnya adalah sifat
ketuhanan. 

Orang-orang yang berpikiran demikian, misalnya
Al-Hallaj, ibnu Al-Faradh, Ibnu Sab'in dan lainnya
dari kalangan sufi. Berikut ini kami paparkan sebagian
perkataan mereka :
Al-Hallaj berkata : 14)


Maha Suci yang menampakkan sifat kemanusiaannya,
Kami rahasiakan sifat ketuhanannya yang cemerlang,
Kemudian Ia menampakkan diri pada mahluknya,
Dalam bentuk orang yang sedang makan dan minum,
Hingga mahluknya dapat menentukannya, seperti
jarak antara kedipan mata dengan kedipan yang lain.
Siapakah dia ? Dialah Rabbu Al-Arbab
yang tergambar dalam seluruh bentuk pada
hamba-Nya, Fulan. 15) 
Dan Ibnu Al-Faradh berkata : 16)


Tidaklah aku shalat kepada selainku,
dan tidaklah shalatku kepada selainku
ketika menunaikan dalam setiap raka'atku. 
Dan cukuplah bagi orang-orang sufi merasakan kesedihan
tatkala Ibnu Al-Faradh berpayah-payah dibalik
fatamorgana. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
tatkala menceritakan keadaan Ibnu Al-Faradh : "Orang
yang mengucapkan sya'ir tersebut ketika meninggalnya
mengucapkan syair sebagai berikut :


Jika kedudukanku dalam cinta disisi-Mu,
tidak seperti yang pernah aku jumpai,
maka sesungguhnya aku telah membuang-buang umurku.
Angan-angan yang menancap dalam diriku beberapa lama,
dan pada hari ini aku mengiranya sebagai mimpi
kosongku belaka. 
At-Tusturi berkata : 17)


Akulah yang dicintai dan yang mencintai,
tidak ada selainnya. 
Para syaikh tasawuf tersebut mencari-cari dalih dengan
hadits yang berbicara masalah wali. Padahal, segala
dalih dan alasan itu tak mendukung mereka. Misalnya
sebuah hadits : 

"Artinya : Tidak henti-hentinya seorang hamba
mendekatkan diri kepadaku dengan perbuatan-perbuatan
yang disunnahkan hingga Aku mencintainya. Maka jika
Aku mencintainya, Akulah yang menjadi pendengarannya
yang dia gunakan untuk mendengar, dan penglihatannya
yang dia gunakan untuk melihat, dan tangannya yang dia
julurkan, dan kakinya yang dia langkahkan. Maka, jika
ia meminta kepada-Ku, sungguh aku akan beri. Dan jika
ia minta perlindungan kepada-Ku, sungguh Aku akan
melindunginya". (Hadits Riwayat Bukhari, akan tetapi
kami ringkas sesuai dengan makna pembahasan). 
Hadits ini menunjukkan dengan sangat adanya pembedaan
dan pemisahan. Dalam hal ini ada 'Abid (yang
beribadah) dan Ma'bud (yang diibadahi), Sa-il (yang
meminta) dan Mas-ul (yang diminta), 'A-idz (yang minta
perlindungan) dan Mu'idz (yang melindungi). Sedang,
orang-orang sufi tersebut mengaku bahwa Allah berdiam
dalam dzat hambanya. Yaitu, jika Dia menjadi dia dan
keduanya menjadi dua dzat yang menyatu. 
Betapa anehnya ! Bagaimana akal orang-orang sufi
tersebut menerimanya dengan cara membenarkan
kebohongan ini ? Dan bagaimana pula hingga lisan
mereka mengulang-ngulangnya ? Sungguh, Kursi-Nya
seluas langit dan bumi, maka bagaimana mungkin jasad
manusia dapat menampung-Nya ?. 

Adapun hadits berikut : 

"Artinya : Langit dan bumi-Ku sempit bagi-Ku, akan
tapi hati hamba-Ku yang beriman lapang bagi-Ku" 
Maka hadits ini adalah hadits palsu menurut
kesepakatan para ulama ilmu hadits. 
WIHDAH AL-WUJUD 

Pemahaman hulul wa al-ittihad mengantarkan para sufi
pada perkataan wihdah al-wujud. Istilah ini berdasar
pola pikir orang-orang sufi bermakna, bahwa dalam hal
ini tidak ada yang wujud kecuali Allah. Maka, tidaklah
segala yang nampak ini kecuali penjelmaan dzat-Nya
semata. Yaitu, Allah. Maha Suci Allah, Rabb kita, Rabb
yang Maha Mulia dari apa yang mereka sifatkan. 

Ibnu Arabi berkata : "Tidak ada yang tampak ini
kecuali Allah, dan tidaklah Allah mengetahui kecuali
Allah". 

Dan termasuk dalam keyakinan ini adalah orang-orang
yang mengatakan : "Akulah Allah, Maha Suci Aku".
Seperti, Abu Yazid Al-Bustahmi. 18)
Katanya : "Rabb itu haq dan hamba itu haq. Maka,
betapa malangku. Siapakah kalau demikian yang menjadi
hamba ? Jika aku katakan hamba, maka yang demikian itu
haq, atau aku katakan Rabb, sesungguhnya aku hamba". 

Dikatakan pula : 19) "Suatu saat hamba menjadi Rabb
tanpa diragukan, dan suatu saat seorang hamba menjadi
hamba tanpa kedustaan". 

Keberanian mereka kepada Allah sampai puncaknya ketika
tukang sya'ir mereka, Muhammad Baha'uddin Al-Baithar
mengatakan : 20) "Tidaklah anjing dan babi itu
melainkan sesembahan kita, dan tidaklah Allah itu
melainkan rahib-rahib yang ada dalam gereja-gereja". 

Pensyarah kitab Aqidah At-Thahawiyah, Ibnu Abil 'Izzi
Al-Hanafi, berkata : "Perkataan yang demikian itu
mengantarkan manusia pada teori hulul wa al-ittihad.
Hal ini lebih keji daripada kafirnya orang-orang
Nashrani. Karena orang-orang Nashrani mengkhususkan
menyatunya Alllah hanya dengan Al-Masih, sedangkan
mereka memberlakukan secara umum terhadap seluruh
mahluk. Termasuk keyakinan mereka pula, bahwa Fir'aun
dan kaumnya memiliki kesempurnaan iman, sangat
mengenal Allah secara hakiki. 

Termasuk dari cabangnya pula, bahwa para penyembah
berhala berada diatas kebenaran, dan mereka
sesungguhnya beribadah kepada Allah, tidak kepada
lainnya. Keyakinan lainnya, tidak ada perbedaan dalam
penghalalan dan pengharaman antara ibu, saudara
perempuan dan yang bukan mahram. Dan tidak ada
perbedaan antara air dengan khamer, zina dengan nikah.
Semuanya itu berasal dari sumber yang satu. Dan
termasuk cabangnya pula, bahwa para nabi mempersempit
manusia. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka
katakan". 21) 

Keyakinan semacam ini merupakan puncak tertinggi dari
kekafiran, yang dengannya hancurlah seluruh agama,
membatalkan seluruh syari'at, dihalalkan seluruh
perkara yang diharamkan, dan disamakannya orang yang
beriman dengan orang fasik, orang bertaqwa dengan
orang binasa, muslim dengan mujrim, yang hidup dengan
yang mati. Berfirman Allah Subhanahu wa Ta'ala : 

"Artinya : Apakah Kami hendak menjadikan orang-orang
muslim seperti orang-orang yang suka berbuat dosa,
bagaimana kalian dengan apa yang kalian putuskan.
Apakah kalian mempunyai kitab yang dapat dibaca ?"
(Al-Qalam : 35-37). 
Benar, mereka mempunyai kitab selain Al-Qur'an, yaitu
Al-Fushush Al-Hikam dan Al-Futuhat Al-Makkiyah. Dan
telah berfirman Allah Subhanahu wa Ta'ala : 
"Apakah Kami hendak menjadikan orang yang beriman dan
beramal shalih seperti orang-orang yang membuat
kerusakan di muka bumi. Ataukah Kami hendak menjadikan
orang-orang yang bertaqwa seperti orang-orang kafir".
(Shad : 28) 
Dan apa yang kami paparkan di sini bukanlah hasil
istimbath kami dan bukan pula ijtihad. Akan tetapi,
semua itu adalah perkataan mereka yang diucapkan
dengan lisannya. Yang syaikh paling senior diantara
mereka selalu mengulang kekafirannya dan menyatakan
kefasikannya. 
Bila pembaca menghendaki hakikat yang kami paparkan
dan dalil yang kami kukuhkan, maka lihatlah kitab
Al-Fathu Ar-Rabbani dan Al-Faidh Ar-Rahmani, karangan
Abdul Ghani An-Nablisi hal. 84,85,86,87. 

Semoga Allah memaafkan kita. 

Footnote :
13. Ihya'Ulumuddin, AL-Ghazali, I/19
14. Ath-Thawasin. Al-Hallaj, cet. Masoniyah, hal. 139
15. Tablis Iblis, Ibnul Jauzi, hal.145.
16. Majmu' Fatawa, Ibnu Taimiyah, XI/247-248
17. Ma'arij At-Tashawuf Ila Laqaiq At-Tashawuf, Ahmad
Bin 'Ajibah, hal.139.
18. Al-Futuhat Al-Makiyah, I/354.
19. Fushush Al-Hikam, hal.90
20. Shufiyat, hal.27
21. Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, hal.79 
http://www.assunnah.or.id/artikel/masalah/23sufi2.php

Tertarik masalah Ekonomi? Mari bergabung ke milis Ekonomi Nasional
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke