Repubrika
Rabu, 12 April 2006

Playboy dan Dunia yang Tercengang 



  Sehari setelah Playboy Indonesia terbit, Sabtu (8/4) lalu Hugh Hefner, 
pendiri 'kerajaan' Playboy itu, berulang tahun ke-80. Bertelekan pada sofa 
berlapis bulu tebal, dikelilingi ratusan model yang hanya berbalut bikini, 
sementara sampanye dan kaviar tak henti mengaliri tenggorokan, Hefner terlihat 
sangat bungah di mansion bergaya Gothiknya di Los Angeles, Amerika Serikat. 
  Tentu bukan karena seorang gadis pirang membantunya memotong kue dan 
menyuapinya sepotong demi sepotong. Prosesi itu pasti terlalu lumrah, bahkan 
membosankan, di usianya yang menginjak delapan dekade. Ada hal lain yang 
seharusnya membuat kakek berpiyama sutra itu bergirang hati. 
  Benar atau tidak, yang pasti pada ulang tahun ke-80 itu Hefner memperoleh 
'kado istimewa', persembahan Erwin Arnada dan kawan-kawan dari Indonesia. 
Hefner sangat layak bergembira. Revolusi seks yang dipeloporinya sejak 1950-an, 
berhasil menaklukkan Indonesia, salah satu negeri Muslim terbesar di dunia.
  Bukankah kini Hefner, dalam usia yang secara logika telah di rembang petang, 
bisa menyatakan diri sukses membuat gaya hidupnya menjadi universal, merambah 
hingga pojok-pojok dunia yang tadinya dianggap paling musykil sekalipun? Siapa 
akan membantah, keberhasilan Playboy terbit di Indonesia -- meski dengan 
kemasan tak terlalu vulgar -- merupakan sukses besar bagi imperium bisnis 
Playboy. 
  ''Ini merupakan momen spesial, karena ultah ke-80,'' kata Hefner dalam sebuah 
wawancara televisi. Meski tak menyebut Indonesia, Hefner menambahkan, ''Saya 
tidak pernah merasa sebaik ini.''
  Wajar saja, karena mungkin 'Mr Playboy' merasa menemukan tempat untuk memulai 
eksperimen baru. Sebagaimana dikutip AFP yang meliput pesta semalam suntuk itu, 
Hefner memang telah menggerakkan perubahan baru di masyarakat Barat. Betapa 
permisivitas, keserbabolehan, telah dimulai ketika pemuda Hugh Hefner merancang 
majalah pertamanya itu pada 1953. Setelah itu, revolusi seks pun bergulir tak 
tertahan, bahkan tidak terduga oleh Hefner. 
  ''Ada tiga penemuan besar dalam sejarah kemanusiaan,'' kata Hefner, suatu 
kali. ''Penemuan api, roda, dan ...Playboy,'' katanya, setengah berkelakar. 
  Di lain pihak, wajar pula jika dunia Islam -- bukan hanya Indonesia -- 
tercengang dengan lolosnya Playboy di negeri ini. ''Negara berpenduduk Muslim 
terbesar di dunia mulai mengedarkan Playboy, sebuah majalah porno asal 
Amerika,'' bunyi teras berita harian Al Rayah, Qatar, pekan lalu. Judul yang 
dipampangnya pun bombastis, ''Negeri Muslim Terbesar di Dunia Terbitkan Majalah 
Playboy.''
  Sementara, situs harian Arab Saudi, Al Watan, menulis dengan judul lain, 
''Banyak Protes Atas Penerbitan Playboy Indonesia''. Tetapi, intinya tetap 
bernada cemas. Lihat saja mereka menulis, ''Dikhawatirkan majalah porno itu 
akan berkembang sebagaimana di negara asalnya, meski pada edisi pertama 
Indonesia itu tidak terdapat gambar telanjang,'' tulis Al Watan. Kekhawatiran 
itu juga tecermin di harian Jordania, Al Ra'yu. ''Edisi pertama itu memang 
tidak memuat gambar porno. Tetapi, semua tahu itu majalah porno. Langkah 
sengaja pada edisi pertama itu tampak merupakan kecerdikan penerbitnya,'' tulis 
Al Ra'yu. 
  Kekhawatiran itu bahkan telah merebak ke negara tetangga, Malaysia. Hanya 
sehari setelah terbitnya Playboy di Indonesia, pihak Bea dan Cukai negara itu 
memberlakukan pemeriksaan ketat terhadap para pendatang dari Indonesia. Tidak 
hanya orang Indonesia, tetapi terutama warga Malaysia yang baru pulang dari 
Indonesia. 
  ''Kita tidak akan menoleransi siapa pun yang mencoba menyelundupkan Playboy 
Indonesia ke sini,'' kata Dirjen Bea Cukai Malaysia (KDRM), Datuk Abdul Rahman 
Abdul Hamid. Abdul Rahman berjanji, pihaknya akan menerapkan hukuman berat, 
berupa denda maksimum 20 ribu ringgit, dan atau hukuman maksimal tiga tahun 
untuk para penyelundup Playboy atau barang berbau pornografi lainnya. 
  Ia juga menyatakan, pemeriksaan ketat itu diberlakukan pada setiap pintu 
masuk menuju Malaysia, antara lain, Bandara Internasional Kuala Lumpur, Bandara 
Bayan Lepas, Pulau Pinang, serta Bandara Sutan Ismail di Senai, Johor. Bagi 
pendatang lewat laut, mereka akan diperiksa di Pelabuhan Malaka, Pelabuhan 
Stulang, Johor, serta semua pelabuhan yang ada. 
  Layakkah kekhawatiran itu? Di luar pemeriksaan ketat, praktisi media senior, 
Farid Gaban, menyepakati hal tersebut. Farid, yang gigih mempertahankan 
sikapnya bahwa Playboy tidak hanya sebuah majalah, melainkan gaya hidup, juga 
mempertanyakan keistimewaan yang diperoleh Playboy Indonesia untuk 'tampil 
lain'. 
  ''Membeli franchise sebuah majalah asing, setahu saya, tidak semata membeli 
brand tapi juga serangkaian standard operating procedure (SOP): tata cara 
beroperasi secara bisnis, dalam pemasaran, penyajian, bahkan dalam keseluruhan 
corporate culture,'' tulis Farid dalam sebuah polemik di dunia maya. Hal itu, 
menurutnya, berlaku sebagaimana McDonald's, Starbucks, atau National 
Geographics Indonesia. 
  Jadi, menurut Farid, bagaimana Playboy Indonesia bisa demikian istimewa untuk 
keluar dari corporate culture Playboy, seperti tecermin dari pesta ulang tahun 
Hefner tadi?
  Atau, benar sebagaimana kekhawatiran banyak pihak. Playboy versi Indonesia 
saat ini sedang berselimut, sebelum membuka jati diri pada saatnya kelak. 
(dsy/afp ) 
                        
---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. PC-to-Phone calls for ridiculously low rates.

[Non-text portions of this message have been removed]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke