Wa'alaikumussalam warohmatullah wabarokaatuh Terus terang saya juga sedih atas sesuatu yang menimpa saudara kita bapak Amin, tetapi saya sependapat dengan pak Cahyo untuk menunjukkan kearifan dan keadilan dalam Islam. Benar atau tidak benarnya bahwa pelakunya Ny. AKS, sambil menunggu hasil dari para ahlinya, kejadian ini untuk ke depannya menjadi pelajaran bagi saya untuk menyisakan waktunya walau sedikit untuk keluarga dan melakukan komunikasi yang mengarah kepada pembinaan aqidah, akhlak, fikih dan manajemen keluarga sesuai syariat. Tunjukkan sikap adil, sebagaimana pernyataan Rosullullah Sholallahu 'Alaihi wa salam jika anaknya Fathimah mencuri maka akan dipotong tangannya maka saya sepakat lagi dengan pak Cahyo dengan penanganan secara objektifitas jika ternyata bukan Ny AKS pelakunya, kita ucapkan Alhamdulillah, namun jika memang benar Ny AKS pelakunya, maka tegakkan keadilan sesuai hukum syariat. Maka yang diharapkan kita tunggu sekarang adalah penyelidikan yang berjalan adil dan obyektif pula dan hati-hati. Inna lillahi wa inna ilaihi rooji'un, semoga keluarga Pak Iman diberikan ketabahan yang kuat. Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi semua aktivis Islam yang ada dan kaum muslimin pada umumnya. Masya Allah, sampai saat ini saya masih sedih memikirkannya. Semoga Allah melindungi kaum mu'minin dari kejahatan dan marabahaya yang berasal dari dirinya dan juga yang berasal dari luar dirinya, amiin Barokallahu fiekum ajma'in Teguh Imanullah
________________________________ From: cahyo nugroho [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Friday, June 16, 2006 1:27 PM To: Teguh, Imanullah (PSU); Media-Dakwah Cc: [EMAIL PROTECTED] Subject: Re: [media-dakwah] FW: Polisi dan Pers hanya mencari sensasi dalam musibah meninggalnya 3 kakak beradik? Assalamualaikum wr.wb. Saya hanya berandai2, apakah penulis yang kebetulan kenal dengan orangtua dari 3 bersaudara tersebut, juga mampu berprasangka baik pada pemerintah orde baru, tersangka korupsi ataupun pelaku2 kejahatan lainnya? Karena penulis hanya menulis berdasarkan dugaan yang sifatnya sangat subyektif. Saya yang juga berasal dari almamater yang sama dengan kedua orang tua tersebut, sangat sedih dan menyayangkan kejadian ini. Sedih, sakit hati dan penuh tanya. Mengapa pasangan suami-istri yang begitu soleh dan solehah, kehidupan rumah tangganya sakinah mawadah wa rahmah bisa mengalami kejadian seperti ini? Saya juga tidak berani menjustifikasi siapapun dalam hal ini. Alangkah baiknya, jika kita turut mendoakan agar ukhti dan akhi Iman Abdullah ditambah kesabaran dan ketabahan juga ilmu dalam menghadapi masalah ini. "... Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa, dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran..." (Al Maidah:2) Bagaimana pun juga, jika memang ummi dari ketiga bersaudara itu adalah pelakunya, maka harus diberikan hukum yang adil. Mari, kita tunjukan kearifan dan keadilan Islam dalam hal ini. Mereka memang saudara kita, tapi setiap kesalahan ada konsekuensinya. "Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu..." (An-Nisa:135) Semoga simpati dan rasa solidaritas ditujukan pada keluarga akhi Iman Abdullah, bukan hanya karena mereka orang yang beriman, pengurus Masjid Salman atau beragama Islam. Tapi karena rasa persaudaraan dan simpati dari lubuk hati yang paling dalam. Jika, yang membunuh anak2 kandungnya sendiri adalah istri dari seorang preman ato penjahat ato pendeta, apakah kita masih akan memberikan simpati? Semoga kita tetap istiqomah di jalan Allah, menyeru pada yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar. Sungguh, saya pun merasa tidak tega untuk menghujat keluarga akhi Iman Abdullah dan ukhti Aniek. Dan saya pun tentunya belum mampu untuk bersimpati jika istri dari penjahat/preman/pendeta membunuh anak2 kandungnya sendiri. Wallahualam bishowab, Mohon maaf bagi yang tidak berkenan. Cahyo Nugroho "Teguh, Imanullah (PSU)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Yuana Dewi wrote: > > ada baiknya antum memasukkan ini ke suara pembaca di media massa > (umum)...mudah-mudahan pers dan polisi bisa membacanya dan > memperbaikinya...karena mmg sdh sering terjadi sensasi-sensasi yang > tidak adil seperti ini. > > Robikhun > menulis: > June 13, 2006 > Polisi dan Pers hanya mencari sensasi dalam musibah meninggalnya 3 kakak > beradik? > >> > Teman saya di Salman diberi ujian yang sangat berat dari Allah, semua > putranya (3 orang) meninggal serentak pada hari Jumat kemarin. Saya > turut berduka dan simpati yang mendalam kepada teman saya itu. Beberapa > hari ini saya sering tercenung, bagaimana beratnya dia menanggung ujian > tersebut? Bagaimana menghadapi rumah yang tiba-tiba sunyi dari tawa dan > tangis anak-anak? Ya Allah ya Rabbi, kuatkanlah hatinya dengan kesabaran > dan keimanan. > Perasaan saya terus galau beberapa hari ini tiap kali teringat musibah > itu. Sampai tiba-tiba siang tadi saya membaca harian Pikiran Rakyat, dan > saya sangat terpukul. Judul beritanya kurang lebih adalah "Tiga bocah > kakak beradik dibunuh ibunya?" Masya Allah, dalam kondisi menanggung > duka, keluarga teman saya itu sekarang diteror oleh polisi dan pers. > Tanpa menunggu lewatnya masa berduka sedetikpun! > Polisi -yang menurut saya bertindak bagai pahlawan kesiangan tak > diundang- merasa bertanggungjawab untuk mengusut kejadian naas tersebut. > Karena itu istri teman saya diinterogasi. Hasilnya, menurut Berita Acara > Pemeriksaan (BAP) si ibu mengaku telah membunuh anaknya! Masya Allah! > Saya, yang mengenal langsung teman saya itu, menjadi geram, jengkel, > sedih, marah. Saya tidak terima dengan perlakuan seperti itu. Semestinya > kalau polisi berempati dia akan memberi waktu kepada keluarga yang > ditimpa musibah itu. Semestinya mereka sadar, menginterogasi seseorang > yang sedang dalam kondisi kejiwaan terguncang tentulah jauh dari valid. > Bisa jadi menjawabnya asal-asalan, atau salah berbicara. Saya menduga > BAP tersebut bias, bisa karena penjawabnya sedang kurang sadar, atau > karena penanya mengarahkan jawaban, atau bahkan penanya sembarang > menyimpulkan. Bukankah siapa yang menulis, dia yang memegang kendali? > Jawaban seperti apapun akhirnya akan menurut kepada siapa penulisnya. > Misalkan Anda sedang stress berat karena anak Anda meninggal mendadak > (maaf, ini cuma andai), mungkinkah Anda menjawab pertanyaan para polisi > yang tidak empatik itu dengan pikiran jernih? Atau, andai si ibu itu > teman Anda yang mengalami musibah luar biasa dengan meninggal anaknya, > lalu dia berkata, "Saya membunuhnya... saya membunuhnya..." yakinkah > Anda bahwa itu adalah suatu bentuk ekspresi penyesalan mendalam dari > seorang ibu yang sedang terguncang jiwanya, dan BUKAN BERARTI memang > membunuh? > Dugaan terkuat saya adalah : si ibu melakukan tindakan (misalnya memberi > obat atau melakukan tindakan perawatan) namun ternyata berakibat fatal, > karena kebetulan beberapa hari itu ketiga anak tersebut sakit demam. > Tentu ada banyak hipotesis lain, namun saya berpegang pada beberapa hal > mendasar : > 1. saya kenal betul betapa alimnya teman saya itu (si suami) > sehingga peluang terbesar dia adalah memilih istri yang mirip > karakternya > 2. ketiga anak itu sakit beberapa hari sebelum meninggal > 3. mengingat karakter suami (yang tentu mempengaruhi iklim > kehidupan rumah tangga) saya merasa mustahil ada niatan membunuh dalam > diri si ibu > Saya menduga ekspresi si ibu bahwa dia membunuh anaknya adalah 'asumsi > si ibu itu sendiri' bahwa karena tindakan yang dia berikan (pemberian > obat atau tindakan perawatan) ternyata berakibat fatal bagi semua > putranya itu. Sangat wajar bahwa perasaan bersalah tersebut muncul > menjadi ekspresi ingin menanggung semua beban tanggung jawab atas > kematian semua putranya tersebut. > Dan saya menjadi sangat geram hari ini membaca judul di koran yang > sangat tendensius dan memojokkan. Sepertinya tak ada simpati sama sekali > atas musibah besar yang melanda keluarga teman saya itu. Berita itu > seakan-akan bukan lagi dugaan, dan tidak ada pernyataan pengimbang dari > pihak keluarga. Berita tersebut berat sebelah! Ini sepenggal cuplikan > berita di Pikiran Rakyat > < http://khairulu.blogsome.com/go.php?http://www.pikiran-rakyat.com/cetak > > < http://khairulu.blogsome.com/go.php?http://www.pikiran-rakyat.com/cetak > > > /2006/062006/13/0103.htm> : > Namun Adardam belum bersedia membeberkan ihwal kronologis kejadian, > termasuk soal modus dan motif yang melatari pembunuhan itu. "Saya takut > salah. Benar klien kami sudah mengaku membunuh ketiga anaknya. Tapi, > bukti-bukti lain yang mendukung ke arah tersebut belum ada," katanya. > Kata-kata 'sudah mengaku' di situ maknanya apa? Apakah maksudnya setuju > dengan pemikiran penanya? > Polisi masih enggan mengungkapkan modus dan motif pembunuhan. > Berdasarkan penelusuran, polisi menduga kuat ketiganya dibunuh dengan > cara dibekap menggunakan bantal. "Bahkan ada indikasi, sebelum dibekap, > tersangka mencekik korban. Untuk jelasnya, kita tunggu hasil autopsi," > ujar sumber "PR" di Mapolresta Bandung Timur. > Saya menganggap pernyataan itu adalah dugaan polisi yang diberitakan > 'seakan-akan kesimpulan sementara'. Si sumber "PR" itu memang sudah > meneliti atau cuma duga-duga? Saya semakin sedih saat makam ketiga putra > teman saya itu dibongkar kembali atas dugaan BAP tersebut. Padahal > jelas-jelas pihak keluarga tidak setuju dengan otopsi. > Saya mengungkapkan hal ini karena merasa hal tersebut sudah menjurus > menjadi teror kepada keluarga teman saya. Saya melihat pers juga kini > seperti kehilangan etika dalam menyajikan berita, terutama yang > berkaitan dengan musibah. Apa yang diberitakan pers (dan juga polisi) > tak jarang justru memperkeruh hati, menimbulkan kecemasan, memunculkan > prasangka-prasangka, yang ujung-ujungnya ternyata ... tidak berguna! > Mari kita cermati cara pers menyajikan judul, > Tiga bocah kakak beradik dibunuh ibunya? > Judul ini tendensius untuk mengekspos BAP polisi tentang pengakuan > pembunuhan. > Bagaimana kalau judulnya diubah menjadi begini, > Polisi menyatakan tidak ada bukti pembunuhan. > atau Pengakuan ibu korban tidak bisa dijadikan bukti mengingat kondisi > psikologisnya. > Tentu saja judul alternatif yang saya usulkan jauh dari "nilai jual > infotainment"! > Coba saja, apakah judul yang saya pasang untuk tulisan ini "Polisi dan > Pers hanya mencari sensasi dalam musibah meninggalnya 3 kakak beradik?" > akan membuat nyaman Anda pak polisi dan pak wartawan? Saya tegaskan, > judul itu hanya dugaan saya! Dan saya yakin dugaan yang disampaikan > seakan-akan 'kesimpulan' tersebut akan menimbulkan perasaan tak nyaman > bukan? Kalau Anda tidak nyaman dengan judul itu, bagaimana dengan teman > saya (dan seluruh kerabatnya) ketika membaca judul dan berita kalian? > Pak polisi dan pak wartawan, bisakah Anda turut berempati dengan musibah > teman saya tersebut? Bisakah melakukan penyelidikan tanpa menciptakan > teror semacam ini? Bukankah semua acara interogasi, otopsi, menjadikan > tersangka, dll, bahkan sampai menambahkan dengan opini dari dokter ahli > jiwa, itu akan menambah berat musibah keluarga mereka? Dengan ini saya > sampaikan, saya mengajukan keberatan dan protes terhadap cara > pemberitaan musibah teman saya itu. > Jika betul pak polisi dan pak wartawan melakukan ini hanya untuk > "cari-cari kerjaan dan sensasi", maka saya bilang perbuatan kalian itu > sungguh keji! Laknatullah 'alaikum! (karenanya semoga Anda tidak > melakukan hal keji itu) > Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan pra-sangka , karena > sebagian dari pra-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan > orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang > diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka > tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. > Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Al > Hujuraat 49 : 12) > richlife > >> - khairul @ > 2:46 pm > > http://khairulu.blogsome.com/2006/06/13/56/ > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah. Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links ________________________________ Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls <http://us.rd.yahoo.com/mail_us/taglines/postman1/*http://us.rd.yahoo.com/evt=39663/*http://voice.yahoo.com> to the US (and 30+ countries) for 2ยข/min or less. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Great things are happening at Yahoo! Groups. See the new email design. http://us.click.yahoo.com/iDk17A/hOaOAA/i1hLAA/TXWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah. Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
