Aqidah: Kesesatan Menggerogoti Ummat Islam
Ust. Hartono Ahmad Jaiz
AlDakwah.org--Kesesatan itu bahasa Arabnya dholal. Yaitu setiap yang menyimpang
dari jalan yang dituju (yang benar) dan setiap yang berjalan bukan pada jalan
yang benar, itulah kesesatan. Demikian menurut Tafsir
At-Thobari Juz 1 halaman 84.
Dalam Al-Quran disebutkan, setiap yang di luar kebenaran itu adalah sesat.
Allah SWT berfirman:
maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah
kamu dipalingkan (dari kebenaran)? (QS Yunus: 32).
Kebenaran itu datangnya dari Allah. Sebagaimana telah Allah tegaskan:
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk
orang-orang yang ragu. (QSAl-Baqarah: 147).
Apa-apa yang dari Tuhan berupa kebenaran itu disampaikan kepada manusia ini
lewat wahyu Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw. Dalam hadits
dijelaskan:
Hadits dari Miqdam bin Madi Karib Al-Kindi yang berkata, Rasulullah saw
bersabda: Ingatlah sesungguhnya aku diberi Al-Kitab (Al-Quran) dan yang
sesamanya bersamanya. Ingatlah sesungguhnya aku diberi Al-Quran dan yang
sesamanya bersamanya. (HR Ahmad).
Hadits itu menjelaskan bahwa Nabi saw diberi wahyu berupa Al-Quran dan wahyu
yang sesamanya besertanya, yaitu wahyu berupa hadits. Sehingga Al-Quran dan
Al-Hadits yang menjadi sumber Islam itu sebenarnya adalah wahyu dari Allah.
Maka benarlah bahwa Islam itu agama dari sisi Allah, karena memang berupa wahyu
dari Allah SWT.
Dari pengertian tersebut maka hal-hal yang tidak sesuai atau menyimpang dari
Al-Quran dan Al-hadits/As-Sunnah itu adalah kesesatan. Untuk lebih mudahnya,
maka letak kesesatan yang sudah jelas berada di luar garis Al-Quran dan
As-Sunnah itu letaknya di mana, bisa dijelaskan sebagai berikut.
Di dalam Islam ada wilayah-wilayah:
Wilayah prinsip/ pokok/ dasar (ushul).
Wilayah cabang-cabang (furu)
Wilayah yang didiamkan (maskut anhu) yaitu mubah atau
boleh-boleh saja.
Keterangan 1.
Dalam hal wilayah pokok (ushul) biasanya dalilnya (ayat atau hadits)nya
jelas, tegas, tidak ada makna-makna lain lagi. Hingga tidak ada perbedaan
pendapat di kalangan ulama. Misalnya Allah itu Esa. Nabi Muhammad nabi
terakhir. Kabah adalah kiblat ummat Islam. Shalat 5 waktu itu wajib. Puasa
Ramadhan wajib. Akherat itu ada. Surga, neraka, malaikat,hisab/ perhitungan
amal di akherat itu pasti ada. Al-Quran dan hadits itu pedoman Islam. Dan
sebagainya. Itu semua dalilnya jelas, tegas, dan tidak ada makna-makna lain
lagi, serta tidak ada perbedaan
di kalangan ulama. Siapa saja yang menyelisihi dari hal-hal pokok yang
sifatnya sudah tegas dalilnya seperti tersebut, itu jelas sesat.
Contoh:
Orang yang tidak mempercayai hadits Nabi saw sebagai landasan Islam, maka dia
sesat. Itulah kelompok Inkar Sunnah. Orang yang mengakui adanya nabi lagi
sesudah Nabi Muhammad saw maka mereka sesat. Itulah kelompok Ahmadiyah yang
mempercayai Mirza Ghulam Ahmad dari India sebagai nabi setelah Nabi Muhammad
saw.
Orang yang menganggap Al-Quran dan As-Sunnah baru sah diamalkan kalau manqul
(yang keluar dari mulut imam atau amirnya), maka anggapan itu sesat. Sebab
membuat syarat baru tentang sahnya keislaman orang. Akibatnya, orang yang tidak
masuk golongan mereka dianggap kafir dan najis. Itulah kelompok LDII (Lembaga
Dakwah Islam Indonesia) yang dulunya bernama Lemkari, Islam Jamaah, Darul
Hadits pimpinan Nur Hasan Ubaidah Madigol Lubis (Luar Biasa) Sakeh (Sawahe
Akeh/sawahnya banyak) dari Kediri Jawa Timur yang kini digantikan anaknya, Abdu
Dhohir. Penampilan orang sesat model ini: kaku kasar tidak lemah lembut, ada
yang bedigasan, ngotot karena mewarisi sifat kaum khawarij, kadang nyolongan
(suka mencuri) karena ada doktrin bahwa mencuri barang selain kelompok mereka
itu boleh, dan bohong karena ayat saja oleh amirnya
diplintir-plintir untuk kepentingan dirinya.
Orang yang menganggap bahwa dirinya mendapat wahyu dan didampingi malaikat
Jibril, maka dia sesat. Karena wahyu kenabian telah selesai dengan wafatnya
Nabi Muhammad saw. Kelompok inilah yang mendirikan agama baru, Salamullah yang
menghimpun semua agama, yaitu perempuan bernama Lia Aminuddin di Jakarta. Dia
mengaku sebagai Imam Mahdi padahal wanita. Perangkai bunga kering ini gundah
gulana akibat kecewa dengan dua muballigh (Nur Muhammad Iskandar dan Zainuddin
MZ) dan Anton Medan (mantan penggede preman) dalam hal Yayasan At-Taibin (yang
menggarap/ mendakwahi preman-preman, bajingan, pelacur dan sebagainya),
menurut pengakuan Lia Aminuddin kepada MUI (Majelis Ulama Indonesia). Lalu MUI
memfatwakan (22 Desember 1997) bahwa pengakuan Lia Aminuddin yang dirinya
didampingi Malaikat Jibril dan mendapatkan ajaran
keagamaan darinya itu sesat lagi menyesatkan. Namun ajaran sesat agama
Salamullah itu ada Wakil/ Imam Besarnya bernama Abdul Rahman, konon alumni IAIN
Jakarta.
Orang yang menganggap hadits Nabi saw yang sah hanyalah yang diriwayat-kan
oleh Ahlul Bait, maka mereka sesat. Sebab sama dengan menuduh para sahabat yang
bukan Ahlul Bait (keluarga Nabi saw) itu tidak bisa dipercaya. Padahal Allah
SWT saja memuji para sahabat Nabi saw. Orang yang tak mempercayai sahabat untuk
jadi periwayat hadits itulah kelompok Syiah. Orang Syiah yang ghuluw/ ekstrim
sampai menuhankan
Ali bin Abi Thalib, maka mereka dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib ra.
Syiah Imamiyah (Itsna Asyariyah)yang kini merupakan mayoritas, di Iran, Irak,
dan menyebar ke lain tempat, mereka mempercayai adanya 12
Imam keturunan Ali yang dianggap mashum (terjaga dari dosa). Padahal yang
mashum itu hanya Nabi. Perkataan Imam dianggap sama dengan perkataan Nabi.
Syekh Muhammad At-Tamimi menjelaskan, Syiah yang benar adalah sebutan
Rafidhah karena pengelompokan mereka kepada Ali bin Abi Thalib ra adalah
pengelompokan yang ekstrim keterlaluan, tidak diterima oleh Ali ra. Rafidhah/
Syiah seperti yang disifatkan oleh Syekh Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya,
Iqtidhous shirothil mustaqiem mukholafafatu ash-haabil jahiim, halaman 391,
beliau berkata: Sesungguhnya mereka (Rafidhoh/Syiah) adalah kelompok paling
dusta dari kalangan ahlil ahwa (pengikut hawa nafsu), paling besar
kemusyrikan-nya, maka tidak ada pengikut hawa nafsu yang lebih dusta dibanding
mereka, dan tidak ada yang lebih jauh dari Tauhid (melebihi mereka). (Muhammad
At-Tamimi, Fatawa Muhimmah, juz 1 halaman 145).
Karena sikap ghuluw (ekstrimnya) hingga menuhankan Imam mereka dan
keekstriman-keekstriman lainnya, maka Imam Ibnu Taimiyyah menyebut orang Syiah
atau Rafidhah itu sebagai pengikut hawa nafsu (ahlul ahwa) yang paling sesat,
dan paling jauh dari Tauhid.
Orang yang memaknakan Al-Quran semaunya, tidak sesuai dengan petunjuk
Rasulullah saw, bahkan tak sesuai dengan lafal/ kalimat Al-Quran, maka mereka
sesat. Itulah kelompok Isa Bugis. Contohnya, mereka memaknakan al-fiel yang
artinya gajah menjadi meriam atau tank baja. Alasannya di Yaman saat zaman Nabi
tidak ada rumput maka tak mungkin ada gajah. Mereka tidak percaya mujizat,
maka dianggapnya dongeng lampu Aladin. Nabi Ibrahim menyembelih Ismail itu
dianggapnya dongeng belaka. Tafsir Al-Quran yang ada sekarang harus
dimuseumkan, karena salah semua.
Al-Quran bukan Bahasa Arab, maka untuk memahami Al-Quran tak perlu belajar
Bahasa Arab, tata bahasa Arab dan sejenisnya. Lembaga Pembaru Isa Bugis adalah
Nur, sedang yang lain adalah dhulumat, maka sesat dan
kafir. Itulah ajaran sesat Isa Bugis.
Orang yang menggabung-gabungkan Islam dengan Yahudi,Nasrani dan lainnya, maka
sesat. Itulah kelompok Bahai. Menghilangkan setiap ikatan agama
Islam,menganggap syariat Islam telah kadaluarsa. Persamaan antara manusia
meskipun berlainan jelnis, warna kulit dan agama. Inilah inti ajaran Bahai.
Menolak ketentuan-ketentuan Islam. Menolak Poligami kecuali ada kekecualian,
dan tak boleh dari dua isteri.Melarang talak dan menghapus iddah. Janda boleh
langsung kawin lagi, tanpa iddah (masa tunggu). Kabah bukanlah kiblat yang
mereka akui, Kiblat mereka adalah di mana Tuhan menyatu dalam diri Bahaullah
(pemimpin mereka). Ini sama dengan pandangan sufi /orang tasawuf sesat bahwa
qolbul mumin baitullah, hati mukmin itu baitullah. Ini mirip Gatoloco
(penghina Islam model Kebatinan Jawa) bahwa hati manusia itu bikinan Allah,
sedang kabah itu bikinan Ibrahim dan Ismail, maka lebih baik mana bikinan
Allah dibanding bikinan manusia. Demikianlah kesesatan model penolak Islam
sambil mencari-cari spiritualitas yang dibikin-bikin syetan. Orang yang
menyamakan semua Agama, hingga Islam
disamakan dengan Yahudi, Nasrani, dan agama-agama kemusyrikan, maka mereka
sesat. Itulah kelompok yang berfaham pluralisme agama, yang sejak Maret 2001
membentuk kelompok yang bermarkas di Utan Kayu Jakarta
dengan menamakan diri sebagai JIL (Jaringan Islam Liberal) yang dikordinir oleh
Ulil Abshar Abdalla dari unsur NU (Nahdlatul Ulama). Ulil tidak mengakui adanya
hukum Tuhan, hingga syariat muamalah (pergaulan antar manusia) dia
kampanyekan agar tidak usah diikuti, seperti syariat jilbab, qishosh, hudud,
potong tangan bagi pencuri dan sebagainya itu tidak usah diikuti. Bahkan
larangan nikah antara Muslim
dengan non Muslim dianggap tidak berlaku lagi, karena ayat larangannya dianggap
tidak jelas. Vodca (minuman keras beralkohol lebih dari 16%) pun menurut Ulil
bias jadi di Rusia halal, karena udaranya dingin sekali.
Pemahaman kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah/Al-Hadits seperti yang
difahami ummat Islam sekarang ini menurut Ulil salah, karena menjadikan
penyembahan terhadap teks. Maka harus difahami dengan bahwa
Al-Quran itu yang sekarang ini baru separuhnya, sedang separuhnya lagi adalah
pengalaman manusia. Itulah kemauan Ulil, yang kalau dituruti, maka justru akan
menyembah kemauan manusia. Dengan pemahaman Ulil yang sudah membabat dan
menghina Islam seperti itu,maka fatwa hukuman mati yang semula oleh FUUI (Forum
Ulama Ummat Islam) di Bandung ditujukan kepada penghina Islam dari kalangan
Nasrani (Pendeta Suradi dan H Amos) tinggal dirujuk untuk Ulil. Kelompok JIL
(Jaringan Islam Liberal) ini mengacak-acak Islam, pemahaman Islam, yang
akibatnya menguntungkan gerakan pemurtadan. Itulah menurut hadits Hudzaifah
yang terkenal diriwayatkan oleh Imam Bukhari telah disinyalir adanya
penyeru-penyeru di pintu-pintu neraka jahannam. Siapa yang mengikuti ajakannya
maka
dilemparkan ke dalam neraka. Naudzubillaah min dzaalik.
Orang yang mengibaratkan Rasul bagai menteri, sedang kerasulan bagai
departemen. Lalu Rasul boleh wafat sebagaimana menteri boleh mati, namun
kerasulan atau departemen tetap ada, maka tetap diangkatlah rasul
baru sebagaimana diangkat pula menteri baru, maka mereka itu sesat. Karena Nabi
Muhammad saw adalah rasul terakhir. Yang berfaham Rasul tetap diangkat sampai
hari Qiyamat itulah kelompok Lembaga Kerasulan.
Orang yang menghalalkan merampas dan merampok harta orang lain asal untuk
disetorkan kepada pemimpin, itu adalah sesat. Itulah kelompok NII KW IX (Negara
Islam Indonesia Komandemen Wilayah IX) yang kini punya
Mahad Al-Zaitun dipimpin Abdul Salam (AS) Panji Gumilang. Anehnya, orang sesat
ini justru dijadikan ketua alumni IAIN (kini UIN Universitas Islam Negeri)
Syarif Hidayatullah Jakarta, dan dipuji-puji oleh Rektor Azyumardi Azra yang
disebut-sebut sebagai simpatisan JIL (Jaringan Islam Liberal) yang sesat
menyesatkan itu.
Orang yang menganggap Nabi saw memberikan wirid-wirid untuk diamalkan,
padahal beliau telah wafat, maka mereka sesat. Itulah kelompok Darul Arqam
berasal dari Malaysia, yang mengaku bahwa Syeikhnya, Syaikh Suhaimi bertemu
Nabi Muhammad saw dalam keadaan melek/ jaga di Kabah lalu Nabi saw memberikan
wirid-wirid yang mereka sebut Aurad Muhammadiyah. Kelompok ini sekarang
menamakan diri Hawariyyun. Nama itu aslinya adalah sebutan untuk
sahabat-sahabat Nabi Isa as. Kelompok ini termasuk sejenis kalangan tasawuf
sesat dan tarekat, makanya ketika Ummat Islam ramai agar kelompok sesat ini
dilarang, maka yang tampak agak keberatan dilarangnya adalah orang-orang NU
(Nahdlatul Ulama) yang di antara mereka ada yang bergelimang bahkan membuat
tasawuf sesat (Lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Bila Kyai Dipertuhankan Membedah
Sikap Beragama NU dan buku Tasawuf Belitan Iblis)..
Keterangan 2.
Mengenai wilayah cabang (furu) adalah yang tidak ada dalilnya, atau ada
dalilnya namun tidak menunjukkan makna yang pasti, bisa punya dua makna atau
maknanya tidak tegas pasti. Misalnya, apakah sesudah Imam shalat membaca
fatihah secara jahar/keras, lalu mamum wajib membaca fatihah? Itu tidak ada
dalil yang pasti. Maka di situlah ruang ijtihad
(mencurahkan pikiran) untuk menentukan hukumnya. Yang berijtihad itu adalah
yang memenuhi syarat, yaitu ulama yang menguasai ilmunya. Hasil ijtihad itu
bias berbeda satu dengan lainnya. Maka ada istilah
ikhtilaf, yaitu beda pendapat. Di situ masih ada kesempatan lagi untuk
menentukan mana yang lebih kuat dalilnya. Itulah namanya mentarjih yaitu
menentukan mana yang lebih kuat.
Di wilayah furu inipun bisa timbul kesesatan, apabila
orang yang tidak tahu malah memberi fatwa tanpa ilmu.
Atau bila orang sengaja untuk menyelisihi dari
ketentuan Islam. walaupun ketentuan itu bukan
merupakan pokok, dan hanya menyangkut sunnat, namun
bila diubah semaunya, maka sesat pula. Contohnya,
Mahad Al-Zaitun pimpinan AS Panji Gumilang di
Indramayu Jawa Barat mengubah penyembelihan hewan
qurban dengan duit, tanpa diadakan penyembelihan
qurban, dengan alasan, telah banyak hewan diqurbankan
namun tidak mensejahtera-sejahterakan ummat pula.
Pengubahan itu adalah kesesatan.
Contoh lain, orang-orang sekuler dan anti Islam
memaknakan negara agama itu adalah teokrasi yang
pengertiannya negara kependetaan. Lalu mereka
menimpakan pengertian dari luar Islam itu kepada
Islam, padahal negara agama kalau dirujuk kepada
praktek kepemimpinan kekuasaan dalam Islam (zaman Nabi
saw dan Khluafaur Rasyidin) maka istilah sekarang
adalah negara hukum atau nomokrasi, yang hukumnya itu
adalah syariat Islam. Jadi negara agama menurut
praktek dalam Islam adalah negara berdasarkan syariat
Islam, bukan negara teokrasi yang muatannya adalah
kependetaan. (Lebih jelasnya, silakan baca buku Gus
Dur Menjual Bapaknya, Bantahan Pengantar Buku Aku
Bangga Jadi Anak PKI, Darul Falah, Jakarta 2003).
Keterangan 3. Mengenai wilayah yang didiamkan (maskut
anhu), biasanya adalah menyangkut dunia. Hal-hal yang
dibiarkan, tidak ditentukan oleh ayat ataupun hadits,
dalam urusan dunia ini, maka boleh-boleh saja, alias
mubah. Terhadap yang mubah/ boleh-boleh saja inipun
bisa timbul kesesatan, yakni apabila orang membuat
larangan untuk drinya atau pengikutnya dalam rangka
ibadah atau mendekatkan diri kepada Allah padahal tak
ada larangan syariatnya.
Misalnya, orang-orang Tarekat untuk mendekatkan diri
kepada Allah maka mereka mengadakan larangan sendiri,
tidak boleh makan daging atau ikan ketika mereka
mengadakan suluk (mengkhususkan waktu untuk
beribadah). Memakan daging halal.itu hukum asalnya
adalah mubah/ boleh-boleh saja. Lalu diadakan larangan
sendiri demi beribadah kepada Allah. Pengadaan
larangan sendiri dan untuk ibadah, itulah kesesatan.
Namun kalau pelarangan itu karena menjaga kesehatan,
misalnya tidak minum kopi karena darah tinggi, maka
boleh. Demikian pula, kalau makanan syubhat (samar
antara halal dan haram) kemudian kita menjauhinya
karena menjaga ibadah, justru baik. Karena berarti
kita menjauhkan diri dari yang mendekati keharaman.
Ini berbeda dengan mengharamkan sendiri hal yang halal
demi ibadah.
Kesimpulan: Dari 3 wilayah (ushul, furu, dan mubah)
itu ada celah-celah yang bisa timbul kesesatan. Namun
kesesatan yang paling banyak dan membahayakan aqidah/
keyakinan adalah yang menyangkut ushul (pokok).
Karena, begitu menyelisihi dalil yang sudah jelas,
maka sesat.
Adapun mengenai yang furu, kesesatannya adalah
mengada-adakan sesuatu tanpa diketahui dalilnya,
ataupun mengubah aturan tidak sesuai dengan dalil,
seperti tentang menyembelih binatang qurban diubah
jadi penyetoran duit lalu duit itu tidak untuk beli
binatang qurban tetapi untuk lain-lain, dengan alasan
yang dibuat-buat. Juga mengalihkan pengertian istilah
dalam Islam kepada istilah yang bukan Islam hingga
pengertiannya jauh berubah.
Kesesatan pun bisa timbul di wilayah yang mubah/
boleh-boleh saja. Yaitu bila orang mengadakan
pelarangan terhadap hal yang sebenarnya tidak
dilarang, yang pengadaan larangannya itu demi ibadah.
Kesesatan-kesesatan itu beda-beda tingkatnya, ada yang
sampai kafir, misalnya menganggap Allah SWT tidak
mengutus Nabi Muhammad saw, shalat 5 waktu itu tidak
wajib dan sebagainya.
Ada yang sesatnya tidak sampai kafir, misalnya atas
nama untuk ibadah, lalu melarang dirinya makan daging
(pada waktu-waktu tertentu) padahal daging halal.
Meskipun kesesatannya itu tidak sampai kafir, namun
merusak agama. Sebab sudah mengada-adakan aturan/
syariat baru. Dan hal itu dilarang mengadakannya oleh
Rasulullah saw.
Itulah letak-letak kesesatan dan contoh-contoh
jenisnya yang senantiasa menggerogoti Ummat Islam di
Indonesia bahkan bisa jadi sedunia. Ummat Islam wajib
mewaspadainya dan menghindarkan diri serta keluarga
dari aneka kesesatan itu, supaya ketika maut
menjemput, masih tetap dalam keadaan Muslim.
Sebagaimana Allah swt telah wanti-wanti (berpesan
dengan sungguh-sungguh agar dijaga pesan itu):
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah
sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama
Islam. (QS Ali Imran: 102).
Untuk lebih komplitnya silakan baca buku Aliran dan
Paham Sesat di Indonesia. (Hartono Ahmad Jaiz).
[Majalah Media Dakwah, Jakarta, Mei 2003].
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Next-gen email? Have it all with the all-new Yahoo! Mail Beta.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Great things are happening at Yahoo! Groups. See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/TISQkA/hOaOAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/