Masjid Lau Tze Mengislamkan 700 Muallaf
Abdil Mughis Mudhoffir - detikcom
   
  Jakarta - Tidak banyak orang yang mengenal masjid Lau Tze di daerah Pecinan, 
Pasar Baru, Jakarta Pusat. Padahal masjid itu menyimpan sejumlah sejarah bagi 
warga keturunan Cina yang memeluk agama Islam.
   
  "Masjid ini sudah sejak 1997 sampai sekarang telah mengislamkan 700 orang, di 
mana 90 persen lebih keturunan Cina. Kami sangat menyayangkan selama ini 
pemerintah kurang perhatian dengan muallaf," kata Humas Masjid Lau Tze Yusman 
Iriansyah kepada detikcom di Masjid Lau Tze, Jalan Lau Tze, Jakarta Pusat, 
Selasa (26/9/2006).
   
  Dia menambahkan, rukun Islam antara lain haji, zakat, salat, dan puasa 
umumnya mendapat perhatian dari pemerintah, sedangkan untuk para muallaf 
berkenaan dengan pengucapan syahadat tidak ada perhatian.
   
  Kegiatan masjid ini pada Ramadan tidak begitu mencolok. Semua kegiatan 
dipusatkan pada hari Minggu. Di luar hari Minggu, masjid hanya melayani 
pengunjung dari pukul 09.00 WIB hingga habis salat Ashar. Sedangkan salat 
tarawih hanya dilakukan pada hari minggu.
   
  "Di masjid ini kegiatan Ramadan hanya hari Minggu untuk buka bersama. Justru 
di luar hari minggu pengurus diundang ke tempat lain," kata Yusman.
   
  Meski demikian, di luar bulan Ramadan, kegiatan Masjid Lau Tze cukup banyak, 
seperti kajian keislaman yang dilakukan setiap hari Minggu dengan nama Cermin 
atau ceramah mingguan yang berupa pengajian, tukar pikiran, pembelajaran teknis 
salat dan lainnya.
   
  Sejarah beridirinya masjid ini berawal pada April 1991. Saat itu sejumlah 
tokoh dari Muhammadiyah, NU, Al Washliyah, KAHMI, ICMI, dan muslim keterunan 
Cina mendirikan Yayasan Haji Karim Oei. Nama itu diambil untuk mengenang 
perjuangan Haji Abdul Karim Oei Tjeng Hien yang berjasa melakukan penyebaran 
agama Islam di kalangan keturunan Cina.
   
  Haji Abdul Karim Oei adalah tokoh yang pada 1938 pernah menjadi Ketua 
Muhammadiyah Bengkulu. Pernah juga menjadi pengurus Masyumi dan pernah mendapat 
tawaran sebagai anggota MPR di masa Soekarno.
   
  Pada 2005 lalu, Oei mendapat bintang kehormatan dari Presiden SBY sebagai 
tokoh pergerakan Islam.
   
  Dalam menjalankan kegiatan sehari-hari, masjid ini mengandalkan sumbangan 
dari para donatur. Sejumlah lembaga pun memberikan bantuan seperti dewan dakwah 
dan dewan masjid DKI Jakarta yang menyumbangkan buku untuk koleksi perpustakaan.
   
  Masjid yang bagian depannya lagi direnovasi ini, memang sekilas tidak tampak 
sebagai masjid karena awalnya memang merupakan ruko. Bangunan ini terdiri dari 
4 lantai, lantai 1 dan 2 untuk tempat salat, lantai 3 untuk sekretariat, dan 
lantai 4 untuk pertemuan.
   
  Yang menarik dari masjid ini adalah corak Cinanya yang kentara, yakni 
didominasi warna merah. Warna itu terlihat jelas mulai dari pintu, jendela, 
tangga, dan karpet. Selain itu kaligrafi syahadat juga terukir seperti huruf 
Cina.(san/asy)

                
---------------------------------
How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low  PC-to-Phone call rates.

[Non-text portions of this message have been removed]





Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke