Sejak Soeharto lengser dari kursi kekuasaannya saya kira Pemerintah
Indonesia terutama Pemerintah Provinsi Jakarta akan lebih welas asih
mengelola rakyat atau warganya. Ternyata Soeharto bukan monster yang
terburuk....
Sekarang di berbagai provinsi termasuk Jakarta, para gubernur dengan
bengis dan penuh angkara murka mengusir para warga miskin dari
tempat tinggalnya dan dari tempatnya mencari nafkah. Mereka adalah
orang miskin yang tinggal di tempat-tempat yang menurut gubernur
adalah ilegal, tapi tidak bagi mereka yang tidak memiliki akses
untuk soal-soal ilegal atau legal. Mereka adalah orang miskin yang
karena tidak adanya lapangan pekerjaan terpaksa berjualan di pinggir
jalan sehingga mengganggu lalu-lintas atau mengganggu ketertiban
bahkan kenyamanan warga kota yang lain. Mereka adalah orang miskin
yang dibiarkan datang ke kota-kota besar, karena di tanah
kelahirannya, bupatinya sibuk dengan dirinya sendiri.
Tanpa mempertimbangkan nasib mereka selanjutnya atau bahkan
memikirkan jalan keluar yang lebih arif, mereka para warga miskin
kota itu digusur dengan kekerasan seperti memerangi para penjahat
atau musuh dari negeri setan. Entah apa yang dikerjakan warga
tergusur itu sekarang setelah beberapa waktu atau tahun berlalu?
Apakah mereka berpindah tempat untuk digusur kembali atau menjadi
penjahat atau pergi ke kota lain (juga untuk digusur lagi)?
Menghantam para gubernur durjana itu tentu bukan pekerjaan kecil
atau layak dilakukan untuk orang seperti saya. Butuh waktu dan
energi yang tidak sedikit untuk melakukannya. Membantu memperbaiki
akar masalah, bahkan bukan porsi saya.... Oleh karena itu saya kira
membantu warga tergusur itu adalah yang paling baik untuk dilakukan,
dan saya yakin sudah banyak yang melakukannya.
Cara paling mudah untuk membantu mereka adalah memberi mereka
pekerjaan. Sayangnya pemerintah pusat maupun pemerintah di berbagai
daerah gagal menciptakan lapangan pekerjaan yang cukup. Para ekonom
pun selalu berharap lapangan kerja tercipta dari datangnya investasi
dari luar negeri, padahal iklim investasi di Indonesia bukan surga
bagi para investor dari luar jika membandingkannya dengan negara
tetangga lain seperti Vietnam, Thailand dan lain-lain. Lalu, apakah
kita akan membiarkan kota-kota besar di Indonesia ini akan terus
dipenuhi para monster yang berkeliaran sambil menghunus pedang ke
arah warga miskin yang akan terus bertambah banyak? Juga apakah kita
bisa berharap akan adanya ketenteraman atau keamanan jika para warga
miskin itu tidak diketahui cara mereka mencari nafkah atau bahkan di
mana mereka tinggal?
Saya adalah seorang yang, menurut saya amat beruntung dibanding para
warga miskin, diberi sedikit kemudahan berupa kendaraan roda empat.
Paling tidak seminggu sekali saya mencuci kendaraan saya itu di
tempat cuci mobil. Kegiatan saya itu melahirkan ide usaha yang dapat
menciptakan lapangan kerja bagi warga miskin yang tergusur atau yang
belum tergusur untuk memberikan alternatif cara mencari nafkah bagi
mereka.
Ide usaha itu adalah Usaha Cuci Mobil (UCM). Karena tujuannya adalah
untuk menciptakan lapangan kerja, maka UCM ini berbeda karena
konsepnya memang berbeda. Jika UCM yang sudah ada sekarang tidak
bisa memberikan jaminan upah minimum regional (UMR) bagi pencucinya,
UCM ini bisa. Jika UCM lain adalah tempat pelanggan dihisap darahnya
(uangnya), maka UCM ini adalah tempat di mana pelanggan puas dengan
hasil cuciannya dan kecepatan mencucinya (10 menit saja). Dengan
konsep yang berbeda ini akan dapat dibangun UCM yang amat banyak di
kota seperti Jakarta. Satu UCM bisa menampung paling tidak 25 orang
tenaga kerja dengan kapasitas mencuci setiap harinya paling tidak
150 kendaraan.
Amat baik, jika UCM ini dikelola oleh sebuah organisasi non-profit,
karena jika tidak, keuntungan akan hanya diambil oleh pemilik UCM,
bukan untuk para pekerja, sehingga tujuan untuk membuka lapangan
kerja dan memberikan kesejahteraan bagi warga miskin tidak bisa
tercapai.
Saya sudah pernah melemparkan ide ini ke beberapa organisasi Islam
yang saya kira orientasi mereka untuk membantu para kaum dhuafa,
ternyata e-mail saya tidak dibalas sama sekali. Hal ini membuat saya
bertanya-tanya, mengapa mereka mengklaim bahwa mereka bertujuan
membantu kaum dhuafa, jika e-mail yang berisi usulan tentang
bagaimana cara membantu kaum dhuafa tidak diperhatikan sama sekali.
Organisasi Islam itu semuanya terkenal dan hampir semuanya memiliki
website, tapi entah sibuk atau apa sehingga e-mail saya lebih dari
sebulan tidak dibalas....
Saya pun sudah pernah juga mengirimkan e-mail ke bank-bank syariah.
Karena bank berorientasi pada keuntungan, maka saya pun mencoba
menggambarkan potensi keuntungannya bagi pemilik UCM ini, tapi e-
mail saya tidak digubris. Mungkin, saya mengira, semua bank itu
mensyaratkan adanya agunan untuk setiap pinjaman kredit. Padahal
saya tidak meminta pinjaman kredit, tetapi mengajukan usul tentang
bagaimana membantu kaum dhuafa sebagaimana tujuan mereka mendirikan
bank syariah.... Aneh nian bank syariah ini....
Oleh karena itu, jika anda tahu cara bagaimana mewujudkan ide
menciptakan lapangan kerja melalui UCM ini, silahkan menghubungi
saya di [EMAIL PROTECTED] . Saya amat berterima kasih jika
yang menghubungi saya adalah organisasi atau kelompok orang yang
tidak berorientasi pada keuntungan pribadi.
Gandhi Moehammad
Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Media Dakwah.
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-dakwah/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/