Sebenarnya yang jadi soal bukan besarnya korban, karena korban militer 3500 dalam perang empat tahun masih belum apa-apa dibanding korban tiga ribu warga sipil oleh serangan terror 11 September 2001 dalam waktu hanya beberapa jam.
Yang menyebabkan orang Amerika sekarang makin banyak yang muak dengan Perang Iraq adalah karena perang itu seperti untuk menopang rezim Syiah. Padahal induk semang rezim itu jelas-jelas Iran dengan presidennya yang terus saja petentang-petenteng berkeras hendak melanjutkan usaha membuat bom nuklir dengan mencemoohkan negara mereka, bahkan PBB. Pikir mereka, buat apa sih rezim Syiah itu ditopang. Biarkan saja orang Iraq menyelesaikan urusan mereka sendiri. Mau perang syiah-sunni kek, mau bantai-bantaian ethnic cleansing kek, mau membakari ladang minyak kek, peduli amat. Karena nyatanya, harga minyak di pompa bensin terus juga meroket walau ladang minyak tidak terbakar. Termasuk yang semula penganjur supaya Bush menyerbu Iraq juga berpendapat begitu. Buat apa tentara Amerika di sana. Tarik saja. Biarkan mereka berkuah darah di sana. Sebenarnya kalau bukan kasihan dengan penderitaan rakyat Iraq, saya memang kepingin juga hendak melihat apakah para pengikut Saddam Hussein mampu mengkonsolidasi kembali divisi-divisi pasukan elit Garda Republik (dari angkatan bersenjata Saddam yang sudah dibubarkan, 350 ribu, berhenti begitu saja tanpa apa-apa, tanpa pensiun) untuk melibas divisi-divisi angkatan bersenjata dan kepolisian baru yang dibentuk rezim Syiah (tambah Kurdi). Dan hendak saya lihat juga apakah akan terjadi pembantaian ethnic cleansing terhadap Syiah di wilayah kantong Syiah kota Bagdad, Sadr City, atau kantong-kantong Syiah di provinsi al-Anbar. Apakah laskar al-Mahdi-nya Muqtada al-Sadr dan Brigade Badr sayap bersenjata Supreme Council for the Islamic Revolution in Iraq (SCIRI) mampu mempertahankan kota suci Najaf dan Karbala dari gempuran bengis laskar-laskar Sunni pembenci bid'ah. Apakah Iran akan menahan diri sekuat-kuatnya atau mereka akan mengirim ratusan ribu tentara Garda Revolusi ke Iraq Selatan untuk mendirikan Republik Islam Syiah Iraq di sana. Lalu apakah Iraq sebagai kesudahannya pecah menjadi tiga negara dengan proklamasi Republik Kurdi Merdeka dengan ibukota Mosul atau Irbil di utara? Apakah lashkar Peshmerga Kurdi akan memperlihatkan kejantanan mereka bertempur bagaikan Sultan Salahuddin al-Ayub (yang orang Kurdi itu) di kala Perang Salib? Dan apakah Arab Saudi, Kuwait, dan Yordania tidak akan melibatkan tentara juga untuk mengusir Iran dari Iraq? Yang jelas saya kira, AS akan mendapat dukungan rakyatnya untuk memberi perlindungan "payung udara" bagi negara Kurdi Merdeka. "Payung udara" ini bisa diberikan dari pangkalan udara di Dahran Arab Saudi, atau Dubai, atau Kuwait, atau dari pangkalan udara Incirlik di Turki, atau dari kapal-kapal induk Armada ke-Enam di Laut Tengah dan Armada ke-Lima yang berpangkalan di Bahrain. Makin cepat Bush dipaksa menarik tentara AS dan koalisinya, makin cepat semua itu terjadi. --- Mustapha Hulman <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: > Kalau menurut kalkulasi politik dan militer, semakin > banyak tentara AS yang tewas, semakin cepat AS > hengkang dari Irak. > > Kalau sekarang yang tewas baru sekitar 3500 trus > pulangnya sekitar September 008. > Kalau yang tewas sekitar 4500, AS akan pulang > sekitar Juli 2008. > Kalau yang tewas 6000, AS akan pulang sekitar > Maret 2008. > Kalau yang tewas 10.000, AS akan pulang lebih > cepat, yaitu sekitar Januari 2008. > Apalagi kalau 15.000, pasti lebih cepat, mungkin > dibawah 2008. > > Kalau tidak percaya, silahkan anda coba. > > Chalik Hamid <[EMAIL PROTECTED] nl> wrote: > Minggu, 25 Maret 2007 > Pengesahan RUU > AS Harus Keluar Irak Tahun 2008 washington, > jumat - Dewan Perwakilan Rakyat AS menyetujui > kepastian jadwal batas akhir penarikan pasukan > tempur AS dari Irak, yakni pada 1 September 2008. > Kepastian ini diperoleh setelah DPR melakukan > pemungutan suara terhadap RUU Alokasi Anggaran > Darurat Perang Irak dan Afganistan (124 miliar > dollar AS) untuk tahun 2007. Di dalam RUU Anggaran > itu diikutsertakan juga poin-poin persyaratan > penarikan pasukan AS dari Irak. Dengan demikian, > ketika RUU ini disetujui melalui pemungutan suara > dengan perbedaan yang tipis (218 setuju dan 212 > menolak), hal itu sekaligus mewujudkan sasaran > Partai Demokrat untuk segera menarik pasukan AS > keluar dari Irak. "Rakyat AS sudah sangat jelas > tidak mendukung peperangan yang tanpa akhir ini. Hal > itu juga menjadi sikap Kongres," kata Ketua DPR AS > Nancy Pelosi. Kemenangan Demokrat dalam pemungutan > suara ini menggambarkan perubahan besar di tubuh > parlemen yang mulai berkuasa di Kongres, November > lalu. > Dua tahun lalu, mayoritas anggota parlemen tidak > ada yang bersedia menentang perang Irak. Di dalam > pemungutan suara kemarin, ada dua anggota Partai > Republik yang setuju RUU tersebut. Sebaliknya, > terdapat 14 anggota Demokrat yang menentang RUU. > Dengan lolosnya RUU Anggaran Perang itu, berarti > untuk pertama kalinya Kongres bisa menggunakan > "kekuasaan menetapkan anggaran belanja negara" untuk > mencoba mengakhiri perang Irak yang telah memasuki > tahun kelima. Hingga kini Kongres telah > menyediakan lebih dari 500 miliar dollar AS untuk > perang Irak dan Afganistan, termasuk sekitar 350 > miliar dollar AS khusus untuk Irak. Setelah di > DPR, perdebatan RUU itu akan bergeser ke Senat, > pekan depan. Berbeda dengan DPR, Senat telah > menetapkan batas akhir penarikan pasukan, yakni 31 > Maret 2008. Namun, RUU versi DPR dan Senat harus > disamakan terlebih dahulu. Bush kesal Sekitar > satu jam setelah hasil pemungutan suara DPR muncul, > Presiden AS George W Bush menuding Demokrat merusak > dan > tidak menghargai hasil kerja pasukan AS di Irak. > Bahkan, Bush menuding keputusan DPR itu hanya > "akting di panggung politik". Karena itu, Bush > menyatakan tekadnya untuk memveto keputusan DPR itu. > Untuk bisa menolak veto presiden, DPR dan Senat > harus bisa merangkul dua pertiga suara mayoritas. Di > tingkat Senat, Demokrat membutuhkan 60 suara agar > bisa memperkuat UU penarikan pasukan. Para pengamat > menilai Demokrat akan mengalami kesulitan untuk > merangkul puluhan anggota Republik. > (REUTERS/AFP/ AP/LUK)
