Perang melawan terror itu bukan hanya dilancarkan
Amerika, tetapi dibantu oleh berbagai negara
sahabatnya di dunia antara lain negara-negara anggota
NATO yang anggota utamanya Inggris dan KANADA itu.
Juga negara-negara lain seperti Australia, Jepang,
Rusia, India dan Pakistan (dengan dikasi duit banyak).
Bahkan PBB juga membantu dengan membuat daftar panjang
perorangan dan organisasi terror yang mengatasnamakan
perjuangan tetapi nyatanya membomi warga sipil tanpa
pandang bulu perempuan dan anak-anak.
''Kami sebenarnya tidak takut Pak Tamsil datang ke
Kanda. Kami hanya tidak ingin terjadi apa-apa dengan
Pak Tamsil di sana,''
Itu kan bahasa diplomatis canggih hehehehe ...
--- rahmad budi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Wah berita dari detik yang diambil pas yang
sepotong-sepotong
Aba berita dari detik yang cerita soal kronologis
barangkali lebih membantu
Pesawat Cathay Pacific Tamsil jurusan
Jakarta-Hongkong-Toronto ndak lewat wilayah Amrik
Tamsil udah dapat visa dari kedutaan Kanada sepekan
sebelum keberangkatan
Ketika di konter Cathay usai pemeriksaan fisik bagasi,
tiba-tiba pihak petugas Cathay
meminta paspor Tamsil untuk diperiksa.
Pihak konter Catahy mengatakan mereka baru saja
menerima telpon dari Kedutaan AS
untuk membatalkan keberangkatan Tamsil.
Cathay lalu menghubungi kedutaan Kanada, dan pihak
Kanada mengatakan akan berkoordinasi dulu dengan
kedutaan AS.
Lalu, kedutaan Kanada pun mengatakan dengan berat hati
Pak Tamsil nggak bisa berangkat.
Cindy dari Kedutaan Kanada setelah memberi tiga alasan
soal terorsime dan Kompak kenapa Tamsil tiba2
ditunda keberangkatannya mengatakan :
''Kami sebenarnya tidak takut Pak Tamsil datang ke
Kanda. Kami hanya tidak
ingin terjadi apa-apa dengan Pak Tamsil di sana,''
On 3/24/07, Sato Sakaki < [EMAIL PROTECTED]>
wrote:
Bagi yang pelupa dan "pura-pura" lupa, ini sedikit
latar belakang orang bernama Tamsil Linrung ini,
pimpinan KOMPAK yang dicurigai punya kaitan erat
dengan kerusuhan berdarah di Poso. Dia juga
dikenal
sebagai temannya Agus Dwikarna komandan Laskar
Jundullah dan teroris termasyhur Fathur Rohman
al-Ghozi yang ditembak mati aparat keamanan
Filipina
di Cotabato bulan Oktober 2003, tiga bulan sesudah
lolos dari penjara.
Barangkali dia kira perang melawan terorisme sudah
berakhir. Tapi saya kira yang bernasib seperti dia
bukan hanya dia sendiri. Entah berapa banyak
pejabat/pakar/dosen/mahasiswa atau wartawan yang
sudah
siap tuntas mau
dinas/tugas-belajar/seminar/kuliah/mengikuti
undangan
tamasya gratis tiga bulan ke luar negeri, ehh
tiba-tiba tak bisa naik pesawat karena tak dapat
visa
sampai detik-detik terakhir. Entah apa sebabnya.
Mungkin dikenali pernah memimpin demo melempari
kedubes Amrik dengan batu hehehehe ..
http://www.jihadwatch.org/archives/001509.php
Indonesia: Terror suspect heads for parliament
em1tamsil21.jpeg
Tamsil Linrung (SM/dok)
In Indonesia, jihad goes to Parliament. Will
Linrung
bring an exploding briefcase? From The Australian,
with thanks to Nicolei:
A POLITICIAN soon to be elected in Indonesia has
been linked to extremist Islamic organisations,
including Bali bombing group Jemaah Islamiah.
As the vote count continued in Indonesia's huge
elections, Megawati Sukarnoputri's Indonesian
Democratic Party of Struggle held a slight edge
over
its main rival Golkar party yesterday, with 20.77
per
cent of the vote to Golkar's 19.96 per cent.
With more than a third of the ballot counted,
Tamsil Linrung looks certain to take a place in
Indonesia's national parliament as the member for
south Sulawesi of the Prosperous Justice Party
(PKS).
Mr Linrung, a Makassar businessman, was arrested
at Manila airport two years ago when explosives
were
found in his suitcase. He was released on the
orders
of Philippines President Gloria Arroyo, following
some
high-level diplomacy between Jakarta and Manila.
As a
PKS parliamentarian, Mr Linrung is likely to have
some
clout in the national assembly.
The Islamic-oriented PKS is the success story of
the Indonesian elections, and is predicted to win
more
than 7 per cent of the vote. A leading businessman
in
south Sulawesi's capital of Makassar, Mr Linrung
was
listed at number one on the party's south Sulawesi
candidate list.
Mr Linrung was the national leader of the Islamic
charity Kompak, which has been linked to the
violence
between Muslims and Christians in central
Sulawesi.
The bloody conflict, centred in Poso, has left
hundreds dead.
A report released in February by the International
Crisis Group, titled Jihad in Central Sulawesi,
refers
directly to Kompak. "From the beginning, Kompak
had
one foot in radical violence and one foot in the
Muslim establishment," the think tank's report
says.
It focuses on the Mujaheddin Kompak, a Muslim
militia set up by a branch of the charity, and how
it
both competed and co-operated with JI in Poso.
Mujaheddin Kompak was joined by former JI members
impatient for action and was "leaner, meaner and
quicker" than JI, the report says.
Mr Linrung had earlier connections with JI,
according to a 2002 ICG report.
It notes he was present at a meeting called in
Malaysia in late 1999 by the radical Islamic
cleric
Abu Bakar Bashir, said to be JI's spiritual
leader.
Besides Mr Linrung, the report says, the notorious
JI leader Hambali was present, as well as a
representative from the Moro Islamic Liberation
Front,
a Philippines terror group, and two people from
the
Islamic Malaysian party PAS.
The PKS was known for its hardline stance on
religion, but moderated its demands for sharia law
before the election. The chief of the party's
south
Sulawesi council, Surya Darma, said Mr Linrung was
regarded as a hero locally. He said the Manila
arrest
was a frame-up and Kompak was a humanitarian
Islamic
organisation.
Posted by Robert at April 10, 2004 08:41 AM
--- loekyh <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> IMO, sangat mungkin jalur penerbangan Tamsil cs
> mengharuskan transit
> di salah satu bandara AS, atau paling tidak
melalui
> wilayah udara
> AS. Dalam hal ini, AS berhak menolak pesawat
yang
> ditumpangi Tamsil
> Linrung, walaupun Tamsil tak ada masalah dengan
visa
> masuk dari Kanada. Jangan diplesetkan menjadi
>
> "Tamsil Linrung di larang pergi ke LN (keluar
> Indonesia) oleh pemerintah AS".
>
> Larangan bepergian ke LN (BEDAKAN dg penolakan
> memasuki wilayah AS)
> ini mustahil dikeluarkan oleh pemerintah AS
sehingga
> aneh sekali reaksi Tamsil Linrung (dan juga
Agung
> Laksono) yang MERASA dilarang
> ke LN oleh pemerintah AS yang saya yakin berhak
> menolak Tamsil memasuki wilayahnya.
>
> Juga reaksi Tamsil Linrung, AM Fatwa, dsb,
terkesan
> MERASA SELALU DI PIHAK YANG BENAR, tidak merasa
malu2 > 'berdemo' karena gagal jalan-
> jalan ke LN. Reaksi Tamsil juga terkesan sekali
> memanas-manasi masyarakat luas dan para
politikus
> lain dengan mengklaim kasus ini
> sbg 'penghinaan kepada DPR dan negara'. IMO,
kalau
> mau protes,
> paling tepat ke pemerintah Filipina dong (yang
> membuat 'citra'-nya buruk di mata pemerintah
AS).
>
> Berita lain (koran lokal daerah Tamsil, Fajar)
> menyebutkan, negara Kanada lah yang menolak
Tamsil
> Linrung sehingga dubes Kanada
> dipanggil. Memang simpang siur omongan pejabat,
> anggota2 DPR dan berita koran di Indonesia.
>
> Btw, masih ada kutipan berita dari Detik.com
sekali
> yang bagi saya terkesan tak profesional.
Misalnya
> berita tsb dibumbui dengan kata-
> kata dan sebutan subyektif (sinis?) seperti
"POLISI
> DUNIA Amerika menunjukkan TARINGnya ... ". Sorry
nih
> Detik.com seandainya komentar
> saya ini salah. Kan saya bukan wartawan? :-)
>
> Salam
____________________________________________________________________________________
Get your own web address.
Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.
http://smallbusiness.yahoo.com/domains/?p=BESTDEAL