http://www.indomedia.com/poskup/2007/03/26/edisi26/opini.htm

Dicari, wartawan yang dapat dipercaya

(Catatan yang tercecer dari Dili)

Oleh JB Kleden *

TERUS terang saja karena berbagai kesibukan, artikel yang sebenarnya 
diperuntukkan sebagai catatan pada peringatan Hari Pers, 9 Pebruari lalu baru 
diturunkan pada kesempatan ini. Artikel ini mengambil posisi dari sudut pandang 
pembaca yang menginginkan media massa kita tumbuh menjadi media massa 
berkualitas dan dicari-cari pembaca, bukan media massa mencari pembaca.

Kepada beberapa orang rekan dosen Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung 
Kupang dan beberapa orangtua/wali murid TK/SD Assumpta yang setiap pagi suka 
membaca koran di halaman Gereja St. Maria Assumpta, saya pernah bertanya 
pikiran apakah yang paling menggugat saudara ketika membaca koran. "Saya ingin 
agar berita yang ditulis di koran ini dapat dipercaya kebenarannya," jawab pak 
Dolar salah seorang wali murid, tanpa memalingkan matanya dari headline Pos 
Kupang pagi itu, "Sembilan Parpol dukung Adoe-Hurek" (PK 13/3). Sebagai orang 
yang masih suka menulis sebagai free-lance, saya menjadi terpana. Berita yang 
dapat dipercaya?

NOT just for sentimental reason. Tidak semata hanya untuk sebuah kenangan 
cengeng jika dalam nuansa peringatan Hari Pers 2007 ini saya mengutip sebuah 
memori yang kendati surut ke belakang dengan rentang masa 10 tahun, namun masih 
segar dalam hard disk pikiran saya. Memori itu merekam kejadian suatu hari di 
bulan Februari 1995 di Dili Timor Timur, ketika saya melaksanakan tugas sebagai 
wartawan Harian Suara Timor Timur (STT) di bumi Loro Sae itu. Ketika itu 
bersama Yos Lema (Redpel STT) dan Om Marcel Weter Gobang (Persda Kompas yang 
ditugaskan untuk membackup STT), kami dipanggil menghadap Danrem 164/WD Dili, 
Kol (Inf) Kiki Syahnakri di ruang kerjanya terkait artikel saya "The Death in 
Liquica" yang muncul di Fokus Harian Umum Suara Timor Timur, Sabtu (18/2/1995). 
Artikel itu berkisah tentang insiden penembakan enam warga sipil di Gariana, 
Liquica 12 Januari 1995 yang oleh militer Indonesia diidentifikasi sebagai GPK 
Fretilin. Di samping Danrem Kiki Syahnakri, ada Wagub Timtim Brigjen J 
Haribowo, Wadanrem Kol Inf Glenny Khairupan, juga Dan Satgaspenrem Mayor Drs. 
Laeden L Simbolon serta sejumlah pejabat Korem 164/WD lainnya.

Pagi hari itu, ketika hendak berangkat menuju Markas Korem 161/WD di Caicoli, 
pesawat 22824 si ruang redaksi berdering. "Hai, om," suara Aderito Hugo, 
Koordinator Peliputan STT, terdengar seperti berteriak. Kemudian ia menyerahkan 
gagang telepon kepada saya. "Dari Jakarta, om Valdo!". Om Valdo adalah 
sapaankhas kami untuk Valens Goa Doy (alm) yang ketika itu mengemudikan STT 
selaku Pemred dari markasnya di Jakarta.

"Jack, sudah siap menghadap Danrem? Pergi saja, tak perlu cemas. Setelah om 
mempelejari artikelmu, tidak ada yang keluar dari asas jurnalisme, juga tidak 
melenceng dari fakta lapangan hasil investigsi Tim Komnas HAM yang turun ke 
Liquica yang dipimpin langsung ketuanya, Ali Said. Masa depan STT tidak 
ditentukan oleh militer di Timtim, kendati kita tidak bisa menafikan semua itu. 
Masa depan STT ada di tangan Anda sendiri dan seluruh wartawan di situ. Bukan 
di tangan om atau Om Marcel. Dan itu bisa akan terwujud jika Anda sebagai 
wartawan dapat dipercayai. Jika Anda dapat dipercayai, maka STT akan dihormati. 
Go a head, om mendoakanmu, salam untuk Yos dan Om Marcel," setelah itu Om Valdo 
langsung menutup telponnya tanpa memberikan jedah sedikitpun kepada saya untuk 
mengomentarinya

Peristiwa itu sudah lama berselang. Mungkin ada yang bertanya, untuk apa 
menghadirkan sebuah peristiwa masa lalu sementara hidup menderas maju. Saya 
sadar, menyajikan cerita tersebut kembali setelah kurun waktu lebih dari satu 
dasawarsa, akan ternyata, bukan saja sudah tidak ada kaitan urgensi dan 
proporsinya, tetapi bahkan sangat boleh jadi sudah kehilangan idenya, sejak 
yang bernama ide selalu mengalami perubahan nuansa dan problema sesuai 
kebutuhan zaman. Lagi pula sebuah cerita masa lalu, seperti kata para ahli 
sejarah, tidak seluruhnya dapat dipercaya karena ia selalu merupakan cerita 
kepahlawanan.

Tetapi berkenaan dengan peringatan hari pers dan keinginan pembaca untuk 
mendapatkan berita yang dapat dipercaya, nasehat sang maestro Persda Kompas, 
tersebut terdengar getir. Maka dalam kerendahan hati catatan kecil yang 
tercecer dari Dili tersebut dihadirkan kembali dalam artikel ini dengan asumsi 
bahwa betapapun subyektifnya ia dapat selalu digunakan sebagai titik tolak dan 
sumber inspirasi hari ini bagi rekan-rekan kawula kuli tinta (yang sesuai 
dengan perkembangan teknologi nomen klaturnya menjadi kawula kuli flash-disket) 
yang dengan jujur dan sungguh-sungguh senantiasa ingin menghadirkan berita yang 
sungguh dapat dipercaya.

****

SECARA umum, fungsi media massa adalah mengenali dan menyajikan informasi 
tentang kenyataan; memilih dan menafsirkan kenyataan; menyajikan dan meneruskan 
nilai-nilai sosial budaya kepada generasi penerus serta memberikan hiburan. 
Terkait dengan itu fungsi pengasuh media (baca: wartawan) adalah mengumpulkan 
informasi tentang kenyataan sebagai bahan berita, mengolah dan menyunting bahan 
tersebut dan selanjutnya menyajikannya sebagai news kepada publik. Ada juga 
tajuk rencana dan catatan by line sebagai wujud dari tugas wartawan menafsirkan 
kenyataan.

Berita dan analisis tersebut dihadirkan dengan minimal memenuhi kriteria 
aktualitas, manfaat, urgensi dan kelayakannya untuk dimuat (fit to print). 
Kriteria fit to print dikembangkan terutama di negara yang menganut paham 
tanggung jawab sosial (social responsibility system). Pers yang menganut sistem 
ini disebut juga pers yang bebas dan bertanggung jawab. Pers Indonesia menganut 
paham ini (kendati ada media kepentingan yang dengan sengaja mengabaikannya). 
Secara substansial, berita yang dipublikasikan media adalah fakta mengenai 
kejadian (event), kecenderungan (trend), atau berita tentang hal-hal yang akan 
terjadi (estimasi) dan konteks yang terus berproses (proceeding contex).

Masalah yang dihadapi pengelola media adalah keterbatasan waktu dan ruang, 
mengakibatkan kenyataan yang tersebar di tengah masyarakat tidak dapat 
disiarkan secara menyeluruh. Ada yang dengan sengaja tidak dipublikasikan 
karena tidak memenuhi kriteria media yang bersangkutan. Dengan demikian 
gambaran kenyataan yang dipublikasikan media massa tentu saja sudah merupakan 
kenyataan dan kebenaran menurut versi media. Jadi sebenarnya berita-berita 
media (fakta media/realitas media) sesungguhnya tidak pernah secara hakiki 
dapat mewakili kenyataan asli (pure reality) secara penuh. Mengapa demikian?

Ada banyak alasan, tetapi yang terpokok adalah urusan praktis. Industri media 
tidak mau rugi. Artikel Henry B Priyono, seorang peneliti tentang voyeurisme 
media dari STFK Driyarkara (Kompas, 1 Oktober 2003), memberikan jawabannya. 
Dalam bisnis media, pembaca atau pemirsa tv bukan tujuan. Tetapi pembaca 
menjadi tambang emas bagi media massa. Target utamanya bukan lagi to inform, to 
educate, dan to entertain, tetapi bagaimana menciptakan tambang laba dari 
pembaca/pemirsa. Jalan pintasnya adalah memainkan kawasan basic instink manusia 
yang bersifat libidinal. Dan sebagaimana kita pelajari dari psikologi, tidak 
ada batas pada libido manusia. Inilah kawasan yang terus menerus dieksplorasi 
dan juga dieksploitasi para pengelola media. Apa yang menjadi tujuan utama 
berita bukan lagi mengungkap fakta di balik realitas seperti yang 
dikumandangkan, tetapi bagaimana fakta itu relevan dalam memenuhi hasrat 
libidinal manusia. Jadi jangan heran kalau berita perselingkuhan, gaya hidup, 
kriminalitas, kekerasan meraup lebih dari 50 persen halaman koran atau jam 
tayang televisi kita.

Kendati demikian, dalam pandangan masyarakat media massa masih tetap mempunyai 
pengaruh yang begitu besar dan kuat bahkan dianggap sebagai salah satu pilar 
penting dalam penciptaaan demokrasi. Pandangan masyarakat yang sedemikian 
tingginya mengenai media mengakibatkan ketergantungan yang melahirkan anggapan 
bahwa berita media sebagai kebenaran, apalagi kalau berita itu seragam dan 
monolitik (kalau pembaca cukup jeli, sesungguhnya berita seperti ini dikutip 
dari kantor berita atau wartawan freelance yang sama). Berita yangseragam tidak 
saja berperan membentuk pendapat khalayak (publik opinion) tetapi cukup 
berpotensi membentuk pendapat umum (general opinion).

Terbentuknya pendapat umum bukanlah sesuatu yang buruk jika ia bertumpu pada 
berita yang sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya (pure reality). Tetapi 
akan menjadi persoalan serius jika landasan terbentuknya pendapat umum adalah 
"realitas media" yang tidak sesuai dengan pure reality. Inilah dilema yang 
dihadapi media massa dan wartawan idealis yang ingin jujur dengan fakta yang 
ingin ditampilkan. Mereka sadar bahwa telah meracuni pikiran masyarakat secara 
salah, namun mereka juga tidak bisa mengelak dari tanggung jawab untuk membuat 
medianya menjadi media yang laris manis.

****

JIKA kita membaca tulisan by line Pos Kupang mengenai 'Wajah pers kita' yang 
merupakan hasil refleksi para wartawan mengenai jati diri mereka berkenaan 
dengan peringatan Hari Pers 2007, kita akan segera menemukan benang merah 
hubungannya. Ternyata harapan pembaca yang saya buat secara random, agar media 
massa di Kupang menjadi media massa yang dapat dipercaya bukan mengada-ada.

Betapa tidak, sekadar contoh saja, jika masyarakat menginginkan demokrasi ala 
pilkada langsung yang mengandaikan khalayak well informed, kita akan gigit jari 
karena halaman media massa kita semakin banyak dibeli para calon guna 
menyuarakan segala urusan berkenaan 'payudara asmatis' alias tetek bengek 
mereka mulai dari poling SMS, sampai head-line news perdamaian mereka dengan 
para mantan isteri mereka sekadar menunjukkan kepada publik bahwa perceraian 
bukan kasus amoral dan tak perlu diributkan publik.

Kalau kita bertanya kepada pengelola media, mengapa kebenaran media bisa 
melorot menjadi obsesi ngintip dan nggosip pada lingkup personal seperti itu, 
jawabannya adalah mainstream : untuk itulah kami telah dibayar. Dan di situlah 
koran kami laku keras. Dengan demikian kita nantinya jangan heran bila pilkada 
justeru akan mengantar para badut, koruptor, preman, dan tukang jagal, terpilih 
sebagai pejabat di Propinsi Nusa Teramat Tandus ini. Tragis memang. Juga 
menyedihkan karena media massa ikut punya andil mengantar mereka ke singgasana 
korupsi! Jadi tampaknya pendapat masyarakat bahwa media massa sebagai pilar 
utama demokrasi tampaknya menjadi asumsi yang terlalu mulia.

****

MAKA sebagai catatan penutup kembali saya mengajak rekan-rekan wartawan untuk 
menyimak nasehat Om Valdo kepada saya di atas. Perhatikan, betapa pesan singkat 
dan padat Om Valdo itu bermakna klausal: Jika wartawan... dan karena itu 
pers...". Artinya kualitas pers ditentukan oleh kualitas wartawan. Pers yang 
dapatdipercayai tidak akan ditentukan oleh pakar atau pasar, tetapi oleh 
gabungan tindakan-tindakan yang tak terbilang banyaknya yang diambil wartawan 
di sini dan sekarang. Jika wartawannya dapat dipercaya, maka beritanya juga 
dapat dipercaya, dan pers akan kembali dihormati dan dicari pelanggannya.

Perhatikan penekannya pada fakta "jika wartawannya dapat dipercaya" bukan jika 
wartawannya disegani atau dihormati. Kalau disegani atau dihormati di dalamnya 
masih ada ruang untuk dibuat-buat. Tetapi kalau dipercaya di dalamnya tidak ada 
ruang untuk dibuat-buat. Wartawan yang dapat dipercaya merupakan aset media 
yang tak lekang oleh gegap gempita perubahan karena ia merupakan resultat dari 
karakter, integritas dan kemampuan profesional. Dan disitulah terletak masa 
depan pers yang sebenanya. Karena itu, memang dicari wartawan yang dapat 
dipercaya.

* Penulis PNS Kanwil Departemen Agama NTT

Kirim email ke