sikap arogansi ini tidak bisa dibiarkan.
Seharusnya, korban melaporkan penganiyaan ini pertama ke atas korban dan kedua
ke polisi.
Apa pun alasannya, hal ini harus segera diselesaikan secara hukum. Baik
berdasarkan UU Nomor 40 Tahun 1999 untuk kasus persnya dan KUHP untuk kasus
penganiayaannya.
Kalau pun --seandainya-- korban tidak mengindahkan norma yang berlaku dalam
pembuatan suatu berita dalam hal ini bertentangan dengan UU dan kode etik
jurnalistik, tidak selayaknya masalah ini diseelsaikan melallui cara
kekerasan, apalagi sampai terjadi penganiayaan terhadap korban.
Ada cara elegan untuk menyelesaikan kasus berita yang dianggap tidak benar,
atau fitnah. Orang/lembaga atau apa ajalah namanya yang menjadi 'korban'
pemberitaan, bisa menggunakan hak jawab (UU Pers) ke media bersangkutan. Atau
melaporkannya ke pihak yang berwajib dalam hal ini kepolisian, bahwa terjadi
tindak pidana pencemaran nama baik atau fitnah (KUHP).
Pengadilan yang bisa memutuskan seseorang bersalah atau tidak, bukan orang
perorangan. Jadi perlakukan semena-mena yang diterima Taufik harus segera
diselesaikan secara hukum .
Di alam demokrasi dan kita bebas mengeluarkan pendapat karena dijamin oleh UUD
1945 Pasal 27 (amandemen pasal 27 f), tindakan arogansi dan anarkis bukan
zamannya lagi.
Kita, tak ingin kasus ini terulang lagi terhadap wartawan.
Kepada Taufik teruslah berjuang, jangan takut menghadapi ancaman dan intimidasi
dari siapa pun.
Tetap berpegang pada perinsip: Katakan yang benar itu dan yang salah itu salah.
abdul malik <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Dewan
Kesenian Jember Teror Wartawan/Peneliti Desantara
Kawan-kawan,
Kemarin, Selasa, 3 April, peristiwa tragis menimpa Taufik Soleh, kawan kita di
Jember. Ia adalah wartawan sekaligus peneliti Desantara Institute for Cultural
Studies yang tinggal di Jember yang giat mengamati pergulatan kebudayaan di
Jawa Timur, khususnya Jember dan sekitarnya.
Hasil pengamatan lapangan Taufik Soleh yang menyorot Dewan Kesenian Jember (dan
Dewan-dewan Kesenian lain) dan diterbitkan Harian Surya Surabaya pada Minggu, 1
April 2007, berjudul Kala Seniman Berebut SK Penguasa, Dewan Kesenian di
Mata Para Seniman, wawancara berjudul Jika Terus Konflik, DKJ Akan Rapuh,
ditambah dengan esei Bisri Effendy berjudul Dewa(n) (Ke)seni(an) , memperoleh
respon tak mengenakkan.
Taufik Soleh yang salah seorang anggota lembaga RIAK Jember ini menerima teror
dan intimidasi dari seorang preman. Dengan tanpa basa basi dan dialog, pria
yang nampaknya tidak menerima isi liputan lapangan tersebut memukul dan
menempeleng Taufik Soleh, sambil terus mengintimidasinya. Kejadian ini
berlangsung pada hari Selasa, 3 April, jam 09.00 WIB di Jl. Karimata Gg.
Mandauli Jember.
Peristiwa ini jelas sangat memprihatinkan. Bahkan amat menyedihkan bagi
kebebasan informasi yang amat kita perjuangkan dalam alam demokrasi sekarang
ini. Peristiwa ini sekaligus menjadi tantangan bagi kita semua yang terlibat
aktif dalam kerja-kerja kebudayaan semacam ini.
Karena itu, kami mohon dukungan kawan-kawan jaringan di manapun berada agar
aktifitas dan perjuangan Taufik Soleh dan kawan-kawan di Jember tak berhenti
hanya karena teror yang tak bermartabat ini.
Salam,
Mh. Nurul Huda
Asisten program Halaqah Kebudayaan
Desantara Institute for Cultural Studies
KRONOLOGI PERISTIWA
Oleh Taufik Soleh
Saat itu hari Selasa, sekitar jam 09.00 WIB di Jl. Karimata Gg. Mandauli. Saat
saya hendak membeli rokok, tiba-tiba saya dipanggil seseorang yang saya kenal
dengan nama Popong. Karena memang sebelumnya saya sudah kenal dia, dan sering
diskusi soal kesenian dan juga pernah sama-sama kuliah di Unmuh Jember.
Akhirnya saya pun berhenti menyambut panggilannya. Dengan sapaan, ada apa bos!?
sebelum dia menjawab, dia tanya; ini tulisanmu
? Sambil melayangkan pukulan
(tempelengan tangang di dahi) dia menunjukkan tulisan saya dengan kawan saya
(Paring) di harian surya, Minggu 1 April 2007. Kamu kok nulis seperti ini
.?
Saat itu saya tidak bereaksi apa-apa. Dan saya coba menjelaskan duduk
persoalannya. Namun, hal itu tidak bisa membuatnya berhenti melakukan
tempelengan di dahi dan pelipis kanan kiri saya beberapa kali. Saya pun tidak
membalas perlakuan itu kerena saya anggap hal itu tidak mungkin saya lakukan.
Disamping karena secara pisik saya jauh lebih kecil dari dia, juga karena saya
anggap itu tidak akan bisa menjelaskan persoalan yang sebenarnya. Karena saat
itu dia sepertinya sudah tidak bisa diajak untuk berpikir jernih.
Saya katakana/tanyakan padanya; sebentar bang
.., dibagian mana tulisan saya
dan Paring itu yang salah? Dia jawab, udah
.., pokoknya saya tidak mau diskusi
soal ini. Pokoknya kamu berhenti lakukan hal-hal yang seperti ini. Kalau gak,
awas kamu tak pateni (bunuh). Dan lagi, sebelum kamu dipukuli orang se Jember,
mending kamu tak amuk disini. Kamu tahu apa soal kesenian Jember ini. Saat
tahun 1996 saya sudah ngurus kesenian. Dengan nada kasar dia Tanya; saat itu
kamu dimana
.?kamu masih bayi
.!lagi-lagi dia nempeleng saya. Saya bilang,
sebentar bang
..! Jangan emosi gini dong. Saya kan sebelumnya sudah konfirmasi
ke samean, responlah tulisan ini dengan tulisan bukan dengan cara seperti ini.
Dia jawab dengan nada keras dan mengancam dia mengatakan; kalau soal itu saya
gak bisa, kalau megang parang dan perang sama kamu, kayak orang dayak itu,
saya bisa. Sambil dia menempeleng lagi dia bilang; berapa juta data yang kamu
miliki? Sambil mengeluarkan map biru, dia bilang; ini data semua. Mau kamu saya
tempeleng pakai ini lagi?. Saya pun diam sejenak. Lalu saya bilang; Ok, nanti
kita selesaikan. Dan ini bukan hanya tanggung jawab saya tapi juga Desantara.
Dia bilang silahkan, atau kamu pakai jalur hukum sekalian. Tapi kamu juga harus
mati
! Saya pun berlalu dari tempat itu.
---------------------------------
It's here! Your new message!
Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.
---------------------------------
Finding fabulous fares is fun.
Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel
bargains.