--- In [email protected], Rudy Patirajawane <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Maaf Mbak Fauziah,
>   dalam tetap maraknya budaya Asal Bapak (sby) Senang ini banyak
masyarakat yang sudah terlanjur a priori bahwa produk BPS sudah atau
mudah di rekayasa. Ini dampak sosialnya. Bisa diterangkan secara detil
dari ilmu statistik, namun trust sudah hilang. Jadi
>   memang sukar. Ini juga dampak sampingan dari tak hentinya upaya
tebar pesona, hingga menjadi boomerang untuk yang memerimtah. Tidak
dipercayai oleh rakyat. Dan dalam persepsi absolut, coba bayangkan
saja dengan Negeri Jiran, dikita kemiskinan absolut yang terus meluas.
>   Maaf ya Mbak,
>   RPr
> 

Tidak perlu minta maaf Pak Rudy,
anda kan bebas2 saja berpendapat. Apalagi anda tidak menggunakan dalil
akademis. Anda bisa notice di imel2 saya kemaren, apa yang saya
protes. Lagipula saya bukan orang pemerintahan. 

Sejauh pengamatan saya thd BPS, permasalahan data BPS bukan pada
pembohongan tetapi lebih pada kompetensi teknis. Tapi saya tidak
bilang bahwa pernyataan saya tsb pasti benar. Saya berkesimpulan
berdasarkan pengalaman saya dan teman2 memakai data BPS. Kalau orang
lain punya fakta lain ya silahkan dishare.

Diluar itu, apa yang anda (dan bbrp teman) sampaikan, menunjukkan
bahwa bagi sebagian orang, pemerintah mengalami trust degradation.
Entah karena memang lame, atau karena persoalan yg dihadapi makin
kompleks sedangkan pemerintah tak mampu mengkomunikasikan kebijakannya
dg baik. Kadang saya mikir, seandainya bukan SBY, bagaimanakah sikap
presiden? Bagaimanakah sikap rakyat? 
(dalam analisa pribadi saya, pemerintahan sekarang punya list di dua
sisi: prestasi dan kelemahan, tapi rakyat pun punya list di dua sisi
itu juga :D)

Btw, being in the middle is not sexy at all. You'll find neither side
supports you. Each will take you as enemy.

salam,

fau


Kirim email ke