Dear,

Konflik ini memang semakin memanas, walaupun sudah ada
pertemuan tokoh-tokoh adat. Saat ini telah terjadi
eksodus besar-besaran warga Bugis dari Nunukan ke Pare
pare.

charles siahaan

---



--- wirajhana eka <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>
http://www.berpolitik.com/news.pl?nid=6399&cid=21&gid=25
> Buntut konflik etnis di Nunukan. Kalimantan Diambang
> Perang Etnis?
> - Redaksi Berpolitik.com
>     
> (Berpolitik.com): Situasi terakhir di Nunukan,
> Kalimantan Timur, masih
> mencekam. Konflik antar etnis Dayak dan Bugis
> menjadi penyebab.
> Padahal beberapa waktu lalu, sejumlah tokoh dari
> beberapa kelompok
> etnis di Nunukan, mengucapkan ikrar bersama guna
> menjaga persatuan dan persaudaraan antar etnis.
> 
> Kelompok etnis yang turut dalam pengucapan ikrar
> yang digelar pada
> Kamis (12/07) pagi di halaman Kantor Bupati Nunukan,
> berasal dari
> kelompok etnis Dayak, Bugis, Timor dan Banjar. Saat
> itu, pengucapan
> ikrar disaksikan Ketua DPRD Nunukan, Ngatidjan
> Hamdi; Wakil Bupati
> Nunukan, Kasmir Foret; dan Kepala Polres Nunukan,
> Ajun Komisaris Besar
> Polisi Sang Made. Tujuannya, komitmen untuk
> bersama-sama menghindari pertikaian dan perpecahan,
> serta mengutamakan musyawarah untuk mufakat.
> 
> Apa yang menjadi awal ketegangan situasi Kabupaten
> Nunukan? Berawal
> dari persoalan proyek 35 miliar rupiah di Kecamatan
> Sembakung dan
> Kecamatan Lumbis, Kabupaten Nunukan, Kalimantan
> Timur. Saat itu, di
> awal Juli, Sulaiman, seorang oknum masyarakat
> Nunukan dari Suku Bugis,
> mengeluarkan ''sesumbar'' yang menentang dan
> menghina Paridil Murad,
> sesepuh dan tokoh adat besar, sebuah organisasi
> bernama 'Penduduk Asli
> Suku Kalimantan' (Pusaka).
> 
> Tak pelak, pemicu berbalut penghinaan itu memancing
> kemarahan
> komunitas Dayak asli. Berita perselisihan menjalar
> dengan cepat ke
> seluruh anggota Pusaka. Bahkan hingga ke seluruh
> anggota Pusaka di
> Pulau Kalimantan. Akibatnya, puluhan orang Suku
> Dayak dan Tidung asal
> Kabupaten Malinau yang bertetangga dengan Kabupaten
> Nunukan,
> berbondong-bondong masuk Nunukan. Tujuannya jelas,
> ''meminta''
> Sulaiman mempertanggung-jawabkan perkataan yang
> membuat suku asli
> Kalimantan seolah tak berharga.
> 
> Untungnya Polres Nunukan bergerak sigap dengan
> mengamankan Sulaiman. Untuk menghindari pecahnya
> perang antar etnis jilid kedua, jajaran kepolisian
> segera memfasilitasi pertemuan pihak-pihak yang
> berselisih. Pertemuan Sulaiman dan puluhan massa
> Pusaka pun segera digelar. Hasilnya, Sulaiman tidak
> ditahan. Namun suku Dayak dan Tidung yang
> mendominasi komunitas Pusaka, mengharuskan membayar
> denda adat, sebanyak seratus ekor kerbau.
> 
> Saat janji tinggal janji
> 
> Bila ingin dikonversi dengan rupiah, Sulaiman harus
> merogoh kocek
> sebesar 450 juta Rupiah, dengan asumsi harga kerbau
> di Nunukan saat
> ini seharga 4,5 juta rupiah per ekornya. ''Kami
> tidak bisa berbuat
> apa-apa dengan keputusan adat ini, sebab sudah
> menjadi urusan tokoh
> adat Pusaka'', kata anggota DPRD Nunukan yang juga
> Suku Asli
> Kalimantan, Hendry Abung, saat ditanya pendapatnya
> soal keputusan adat tersebut.
> 
> Sayangnya, Sulaiman tetap Sulaiman. Perdamaian yang
> sudah dilaksanakan dengan susah payah itu ternyata
> tidak disanggupinya. Akibatnya, janji Sulaiman
> melahirkan kericuhan baru. Pasalnya, tidak pernah
> dalam sejarah, masyarakat dan tokoh adat
> se-Kalimantan menerima perlakuan senista itu, ketika
> hukum adat sudah tidak dipandang lagi.
> 
> Situasi Nunukan yang sebelumnya berangsur kondusif,
> berubah semakin
> tegang dan alot, hingga akhirnya persoalan ditengahi
> Kerukunan
> Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) yang dipimpin H
> Nurdin Efendy. KKSS
> kemudian menemui tokoh adat suku Tidung dan Dayak,
> guna menggelar
> pertemuan di rumah Wakil Bupati Nunukan, Kasmir
> Foret. Targetnya
> adalah mencari penyelesaian bagi komunitas Pusaka
> yang tengah
> beramarah.
> 
> Apa hasil pertemuan tersebut? ''Agar tidak timbul
> informasi bias,
> untuk sementara hasil pertemuan itu tidak kita
> publikasikan dulu,''
> kata sumber Berpolitik.com, yang enggan namanya
> disebut.
> 
> Namun Ilham Zain, salah satu Ketua Adat Mandar,
> Kabupaten Nunukan yang ikut dalam pertemuan tersebut
> mengungkapkan, ''Insya Allah tidak ada apa-apa, asal
> kita semua bisa menahan diri dan tidak asal bicara.
> Karena yang rugi semua orang di kabupaten ini.''
> 
> Menurut Ilham, ketegangan bermula saat kontraktor
> asal Tarakan dan
> Samarinda hendak memasukkan berkas lelang di Kantor
> Pekerjaan Umum
> (PU) Kabupaten Nunukan. Sayangnya, absen peserta
> lelang tidak ada,
> meski lelang belum ditutup. Padahal dalam ''aturan
> main'', absensi
> menjadi salah satu syarat bagi kontraktor yang ingin
> ikut tender
> lelang lelang.
> 
> Absensi nihil PU
> 
> Saat ditanyakan kepada panitia lelang, panitia
> disebut-sebut mengaku
> tidak tahu keberadaan absensi tersebut, yang
> berujung pada kecurigaan
> telah terjadi permainan tidak sehat antara oknum
> panitia dan oknum
> tertentu yang merasa punya kuasa di bidang
> kontraktor. Kecurigaan itu
> pun seperti terbukti, tatkala keputusan pemenang
> lelang sudah
> ditetapkan PU. Padahal masih ada peserta lelang yang
> belum memasukkan syarat berkas-berkas penawaran,
> karena jadwal penutupan pemasukan berkas belum
> dilaksanakan.
> 
> Entah apa alasannya, kejadian itupun dilaporkan dua
> kontraktor tadi
> kepada Paridil Murad, yang kemudian datang ke Kantor
> PU pada keesokan
> paginya, untuk menanyakan persoalan absen tersebut.
> Nah, ketika
> Paridil menanyakan masalah itu, dimana Sulaiman juga
> ada saat itu dan
> turut mendengar keluhan Paridil.
> 
> Ceckcok mulut pun tak bisa dihindari. Paridil merasa
> heran saat
> Sulaiman marah-marah dan menyerang dengan kata-kata
> kasar terhadapnya. Yang makin membuat Paridil naik
> pitam, Sulaiman memaki-maki sambil menantang Paridil
> turun dari lantai dua Kantor PU, untuk menyelesaikan
> masalah secara jantan. Untungnya Ilham Damang dan
> sejumlah warga yang berada di tempat tersebut
> melerainya.
> 
> Perselisihan bernagsur-angsur redam. Namun itu tak
> berlangsung lama.
> Pasalnya, Sulaiman terus memaki dengan mengeluarkan
> kata-kata tidak
> pantas kepada Paridil, dengan membawa-bawa suku dan
> etnis tertentu.
> Nah, perseteruan berlanjut tatkala ada anggota
> Pusaka yang mendengar
> perseteruan Paridil versus Sulaiman. Merasa tidak
> terima salah seorang
> tokoh mereka diperlakukan seperti itu, mereka segera
> melaporkannya
> kepada anggota Pusaka yang lain.
> 
> Dan informasi itupun terus bergulir dari mulut ke
> mulut. Sejatinya
> dari anggota Pusaka yang satu, ke anggota lainnya,
> yang akhirnya mampu mendatangkan warga Dayak dan
> Tidung asal Malinau ke Nunukan. Suasana tegang
> berubah mencekam saat Sulaiman dikaitkan dengan
> sebuah kekuatan salah satu organisasi massa yang
> memiliki massa rill di Nunukan, yang pengurusnya
> memiliki pangkat 'Panglima'.
> 
> Sehingga masyarakat Nunukan khawatir akan terjadi
> gesekan horizontal
> antar ormas terebut, dengan komunitas Pusaka.
> Ditambah lagi saat
> beberapa hari sebelumnya, Panglima Kumbang, Udin
> Baloh yang asal
> Sampit, Kalimantan Selatan, sempat berkunjung ke
> Nunukan dan
> mempermasalahkan adanya Panglima lain selain
> Panglima Pusaka di
> 
=== message truncated ===



       
____________________________________________________________________________________
Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's 
Comedy with an Edge to see what's on, when. 
http://tv.yahoo.com/collections/222

Kirim email ke