AKHLAQUL MUWAHHIDIN VS AKHLAQUL MUSYRIKIN

Sumber : Majalah SALAFY Edisi XVI/Dzulhijjah/1417/1997

Penulis : Al-Ustadz Ja'far Umar Thalib

 
Tulisan 2 dari 9 Bagian

 

SIAPAKAH MUWAHHIDIN ITU?

 

        Sebelum kita masuk pada pokok permasalahan, kita perlu mengenal figur-figur yang menjadi obyek pembicaraan kita. Dalam hal ini yang perlu kita pahami ialah siapakah muwahhidin itu, kemudian baru mengenal akhlaqnya.

       

Muwahhidin itu haruslah orang yang mentauhidkan Allah dalam tiga bagian tauhid (yakni rububiyah, asma' wa sifat dan uluhiyah) [1]. Jadi orang yang mentauhidkan Allah hanya dalam salah satu dari tiga bagian tersebut tidak dinamakan Muwahhid. Orang-orang Arab jahiliyah meyakini tauhid rububiyah, tetapi Allah mencap mereka sebagai musyrikin. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan: "Dan telah diketahui bahwa kaum musyrikin dari kalangan Arab (jahiliyah) yang telah Allah utus kepada mereka Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam, tidaklah menyelisihi beliau dalam perkara ini (yakni perkara tauhid rububiyah, pent). Bahkan mereka sejak dulu mengakui bahwasanya Allah Pencipta segala sesuatu. Mereka juga mengakui adanya taqdir (Allah). Tetapi walaupun demikian mereka tetap dikatakan sebagai musyrikin." Demikian Syaikhul Islam menerangkan. [2]

       

        Beliau juga menjelaskan: "Tauhid yang dibawa dan diterangkan serta di da'wahkan oleh para Rasul hanyalah tauhid yang mengandung penetapan keyakinan bahwa Ilahiyah itu hanyalah bagi Allah semata dengan mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Dia dan tidaklah melakukannya kecuali karena-Nya. Mengandung pula penetapan keyakinan bahwa Allah mempunyai nama-nama yang mulia dan sifat-sifat yang agung sebagaimana yang telah Dia tetapkan bagi diri-Nya. Allah Ta'ala berfirman :

"Dan sesembahan kamu hanya satu sesembahan. Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Dia yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah ayat 163)

 

        Juga firman-Nya :

"Janganlah kalian mengambil dua sesembahan. Dia hanyalah satu sesembahan. Maka hanya kepada-Ku lah kalian beribadah. (QS. An-Nahl ayat 51)

 

        Juga firman-Nya :

"Dan barangsiapa berdo'a disamping kepada Allah juga berdo'a kepada sesembahan yang lain, dia tidak akan mempunyai dalil yang membenarkan perbuatannya itu. Seseungguhnya perhitungannya hanyalah di sisi Rabbnya. Sesungguhnya tidak akan berbahagia orang-orang kafir. (QS. Al-Mukminun ayat 117)

 

        Allah Ta'ala juga berfirman:

"Dan tanyakanlah kepada orang-orang yang telah Kami utus sebelummu dari para rasul Kami, apakah Kami pernah menjadikan selain Ar-Rahman sebagai sesembahan yang diibadahi. (QS. Az-Zukhruf ayat 45)

 

        Demikianlah Syaikhul Islam menambahkan. Kemudian beliau menegaskan: "Dan yang dimaksud dengan tauhid itu tidaklah semata-mata tauhid rububiyah, yaitu keyakinan bahwasanya Allah semata yang menciptakan segenap alam ini, sebagaimana keyakinan yang telah diyakini oleh ahli ilmu kalam dan tasawuf. Mereka menyangka bahwa kalau mereka telah berhasil menetapkan tauhid rububiyah dengan dalil, maka diyakini bahwa mereka telah menetapkan tauhid sampai pada puncaknya." Demikian beliau menerangkan. [3]

 

        Jadi muwahhidin itu adalah orang-orang yang meyakini dan beramal dengan keyakinan tauhid rububiyyah, asma wa sifat dan uluhiyah. Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan bahwa muwahhidin itu ada tiga golongan sesuai dengan tingkatan ketauhidannya. Dia berfirman:

"Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang tengah-tengah dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan idzin Allah. Yang demikian itu adalah keuatamaan yang amat besar. (QS. Fathir ayat 36)

 

        Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan makna ayat ini dalam tafsir beliau sebagai berikut: "Allah Ta'ala di ayat ini menyatakan bahwa: Kami telah menjadikan orang-orang yang menunaikan kitab yang agung yang telah dinyatakan kebenarannya di dalam kitab-kitab yang telah Kami turunkan, mereka adalah orang-orang yang telah Kami pilih dari hamba-hamba Kami dan mereka itu adalah umat (yakni umat Islam, umat Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam, pent). Kemudian Dia (Allah) membagi mereka (yang mewarisi kitab ini) dalam tiga macam, yaitu:

  1. Orang yang menganiaya diri mereka yakni orang-orang yang lalai menjalankan sebagian kewajiban dan melanggar sebagian yang diharamkan.
  2. Orang-orang yang tengah-tengah, yaitu orang-orang yang menunaikan segenap kewajiban dan meninggalkan segenap yang haram, tetapi meninggalkan sebagian yang disunnahkan dan mengerjakan sebagian yang dimakruhkan.
  3. Orang-orang yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan ijin Allah, yaitu orang yang menunaikan segenap kewajiban dan perkara sunnah, meninggalkan segenap yang haram dan segenap yang makruh, bahkan meninggalkan sebagian yang mubah (karena tidak berguna bagi upayanya ber taqarrub kepada Allah atau takut terjerumus ke dalam perkara yang haram, pent)." [4]

 

Demikian Ibnu Katsir menerangkan tentang golongan kaum mukminin dari ummat Muhammad shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam yang mereka ini adalah ummat yang Allah pilih dari hamba-hamba-Nya untuk mewarisi kitab suci yang agung, yakni Al-Qur'an.

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- menyatakan: "Maka barangsiapa yang tidak mencampurkan imannya dengan kedhaliman ini (yakni syirik, pent), maka dia termasuk orang yang mendapat jaminan keamanan dari kekalnya adzab neraka dan jaminan mendapat hidayah Allah, sebagaimana juga mereka termasuk orang-orang yang dipilih Allah mewarisi kitab." [5] Demikian beliau menegaskan bahwa orang-orang yang dipilih Allah mewarisi kitab ini yang terbagi dalam tiga macam itu adalah orang-orang yang tidak mencampurkan imannya dengan syirik. Mereka semua adalah muwahhidin walaupun kadang-kadang berbuat maksiat selain syirik.



[1] Baca penjelasan tentang tiga bagian tauhid ini di Majalah Salafy edisi 13 hal. 37-41.

[2] Majmu' Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah jilid 3 hal. 98

[3] Fathul Majid, Abdurrahman Alu Syaikh, jilid 1 hal. 81, tahqiq Dr. Al-Walid bin Abdurrahman bin Muhammad Alu Farayan.

[4] Tafsir Ibnu Katsir 3 / 554-555.

[5] Fathul Majid, jilid 1, hal. 116.

__._,_.___


SPONSORED LINKS
Religion Islam video Islam book
Belief net Beliefs Islam matrimonial


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke