AKHLAQUL MUWAHHIDIN VS AKHLAQUL MUSYRIKIN

Sumber : Majalah SALAFY Edisi XVI/Dzulhijjah/1417/1997

Penulis : Al-Ustadz Ja'far Umar Thalib

 

AKHLAQUL MUWAHHIDIN

 

        Setelah kita mengerti siapakah muwahhidin itu dan siapa pula musyrikin itu, kita sekarang masuk ke dalam pokok pembahasan tulisan ini, yaitu menyangkut akhlaq kedua golongan ini agar kita dapat menghiasi diri dengan akhlaqul muwahhidin dan menjauhkan diri dari akhlaqul musyrikin dengan kehendak Allah, hidayah dan taufiq-Nya.

       

        Untuk mempermudah pengenalan kita terhadap akhlaqul muwahhidin, langsung saja saya rincikan akhlaq yang harus dijalankan dan dihidupkan di masyarakat masing-masing oleh segenap muwahhidin. Rinciannya adalah sebagai berikut:

 

1.     Memenuhi hak Allah dengan sebesar-besar kemampuan.

 

Hak Allah yang harus dipenuhi ialah beribadah kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan dengan-Nya sesuatupun. Dengan kata lain mengikhlaskan ibadah hanya bagi Allah semata dan tidak mempersembahkan ibadah tersebut untuk selain-Nya. Inilah tauhidul uluhiyyah sebagai puncak segenap tauhid. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

"Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus." (Q.S. Al-Bayinah ayat 5)

 

Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu menceritakan:

"Aku pernah membonceng di belakang Nabi shallallahu 'alayhi wa alihi wasallam di atas punggung himar. Maka beliau bersabda kepadaku: 'Wahai Mu'adz, tahukah kamu apa haknya Allah yang wajib ditunaikan hamba-Nya dan apa pula hak hamba-Nya yang akan dianugerahkan kepadanya?' Mu'adz menjawab: 'Allah dan Rasul-Nya yang tahu jawabannya.' Kemudian beliau bersabda: 'Hak Allah yang wajib ditunaikan hamba-Nya adalah hamba itu beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan dengan-Nya sesuatupun. Sedangkan hak hamba yang akan Allah anugerahkan kepadanya ialah Dia tidak akan mengadzab orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.' Aku katakan: 'Wahai Rasulullah, bolehkah saya beri kabar gembira ini kepada segenap manusia?' Beliau menjawab: 'Jangan kamu beri kabar gembira mereka itu, niscaya mereka akan bersandar dengan berita ini.'(yakni meninggalkan upaya memperbanyak amal shalih, pent)" (HR. Bukhari dan Muslim)

 

        Inilah pokok akhlaqul muwahhidin, bahkan induk segenap akhlaqul karimah.

 


__._,_.___


SPONSORED LINKS
Religion Islam video Islam book
Belief net Beliefs Islam matrimonial


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke