Jadi inget kejadian di kantor gue .pas Indonesia lawan korea senior2 gue pada taruhan, emg kecil sih Cuma 100 ribu n rata2 pada berpihak ke korea ..n Cuma big boss gue yang megang Indonesia .
Kita semua pada bingung kan karena sebenarnya diatas kertas korea itu diunggulkan n dia dengan nyantainya bilang ngapain ngedukung negara lain??????mendingan ngedukung Negara sendiri Cuma gara2 ngomong kyk gitu senior2 gue semua pada diem ..n yg pastinya pada malu bgt ..sampe sekarang gue gak tau kenapa bos gue kekeuh bgt sama pendiriannya ..n yg pasti dia Cuma bilang gue tinggal di Indonesia n pastinya gue bangga dengan Indonesia _____ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of ?L?Çk¥? Sent: Tuesday, July 24, 2007 2:30 AM To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] Cc: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] Subject: [mxrider] OoT :: CATATAN DARI SENAYAN... (18 JULI 2007) right or wrong, it's my country!! = God Bless Indonesia = CATATAN DARI SENAYAN... (18 JULI 2007) Ketika tahu saya akan datang ke GBK untuk menonton pertandingan Indonesia vs Korea, seorang rekan di kantor bilang "mau kecewa kok bayar". Saya hanya tersenyum. Saya tahu akan sulit sekali kita akan menang. Ada yang bertanya: kenapa tetap ke stadion? Jawab saya: Karena saya tahu mereka tetap berjuang dengan semua yang mereka miliki. Mereka gigih menutupi kekurangan teknis dan fisik dengan semangat membara dan jiwa patriotisme. Supporter terus mendukung mereka dengan membahana, karena kami ?supporter Indonesia- tak lagi melihat ada yang layak didukung dalam keseharian yang lain. Tanya: Tidakkah olah raga yang lain begitu juga? Jawab: Mungkin. Tapi kebetulan saya tak tahu, apakah ada yang bisa mengumpulkan 88 ribu manusia Indonesia di dalam stadion dan 30 ribu lainnya di luar stadion bernyanyi lagu Indonesia Raya dengan hikmat dan haru. Mereka datang dari Lampung, Makassar, Solo, Surabaya, Malang, Bandung dengan ikhlas. Antri berhari-hari demi menunjukkan bahwa di Indonesia masih ada yang bisa diabanggakan. Beberapa teman mencela timnas Indonesia dan mencoba menunjukkan bahwa dukungan saya akan sia-sia. Baiklah. Tapi bukankah memilih bersatu mendukung perjuangan adalah lebih baik daripada terdiam dan mencela kesalahan orang lain? Pertandingan kemarin adalah sebuah kombinasi antara harapan dan ironi. Ada harapan untuk memperoleh kemenangan dan mengukir sejarah, tapi harapan itu sendiri diam-! diam sebenarnya tak bisa mutlak di hati kita. Dalam pertandingan sepakbola supporter di stadion adalah orang yang siap kecewa dan pemain siap untuk dicaci. Sepakbola adalah permainan, kemenangan dan kekalahan adalah sesuatu yang melekat. Kami sadar akan hal itu. Pada setiap pertandingan ada risiko kekalahan. Setiap dukungan ada risiko kepedihan. Sebab ada yang tersingkir di sana . Akhirnya, saya hanya sedih, tapi tak kecewa. Timnas Indonesia bukanlah tim mega bintang seperti Brasil atau Italia. Tak akan mengejutkan bila nanti kita kalah, atau kita melihat sesuatu yang tak beres di sana. Setidaknya dalam kompetisi, PSSI adalah salah satu contoh yang sering terjadi di Indonesia: 'mismanagement'. Seandainya PSSI diisi para profesional sepakbola, bukan politisi yang mencari suara, bukan pengusaha yang cuma cari nama, atau golongan tua yang umumnya dahsyat dalam semangat tapi lembek dalam organisasi kerja, hasilnya pasti akan lain. Untunglah, masih ada supporter Indonesia yang "benar". Mereka bernyanyi sepanjang pertandingan, memuji pemain meski kalah, karena mereka menilai pemain dari perjuangan yang diberikan, bukan sekedar hasil akhir. Saya tak ingat kapan saya merasa bangga menyanyikan Indonesia Raya dengan sungguh-sungguh. Tapi kemarin, paduan suara 88 ribu supporter Indonesia membuat buku kuduk saya berdiri, kibaran bendera merah putih membuat air mata saya mengalir pelan. Air mata haru kembali memaksa keluar, ketika menit-menit akhir pertandingan, dimulai oleh ribuan penonton dari belakang gawang Markus Harrison menyanyikan lagu Indonesia Raya meski dengan suara parau, kombinasi kelelahan dan kesedihan. Lagu tersebut memang mampu memompa semangat pemain, tapi apa daya, tenaga yang benar-benar habis terkuras dan kualitas teknik yang di ba! wah lawan membuat semangat dan perjuangan mereka tak membawa hasil maksimal. Sebagai supporter yang kalah, saya ingin menghibur diri: ternyata ada kemenangan lain dalam Piala Asia kali ini. Yang juga menang adalah sebuah rasa kebangsaan yang bernama 'Indonesia '. Secara kasat mata, ternyata seluruh supporter datang dan bersatu tanpa ada sentimen SARA apapun. Bersatu, bernyanyi, dan berteriak membahana Indonesia! Indonesia! Indonesia! Tak ada pekik kesukuan, etnis, atau simbol agama apapun. Di sebelah saya berkulit terang, bermata sipit, gadis-gadis ABG cantik keturunan Tionghoa dengan bangga memakai kaus bertulis "Indonesia " besar di dadanya, sang pria dengan bangga mengalungkan bendera merah putih di lehernya, menjadi bak Superman. Di sektor sebelah saya bule-bule berkaus merah putih, dengan jelas teriak-teriak dan ikut bernyanyi, "Yo ayo, Ayo Indonesia... Kuingin, Engkau Harus Menang...! ." Tak ada anarki, semua bernyanyi, bahkan ketika kekalahan terjadi. Lagu wajib "Yo ayo, Ayo Indonesia... Kuingin, Engkau Harus Menang.... " masih membahana meski dengan kepala tertunduk dan wajah sedih. Kami pulang dengan langkah pelan. Maka haruskah saya terus merasa sedih? Saya pandangi kaus putih bertuliskan Indonesia di dada saya. Tiba-tiba saya tergerak untuk mencium lambang Garuda Indonesia di sebelah kiri, "Karena Gue Cinta Indonesia".... "Catatan dari seorang teman" _____ Be a better Globetrotter. Get <http://us.rd.yahoo.com/evt=48254/*http:/answers.yahoo.com/dir/_ylc=X3oDMTI5 MGx2aThyBF9TAzIxMTU1MDAzNTIEX3MDMzk2NTQ1MTAzBHNlYwNCQUJwaWxsYXJfTklfMzYwBHNs awNQcm9kdWN0X3F1ZXN0aW9uX3BhZ2U-?link=list&sid=396545469> better travel answers from someone who knows. Yahoo! Answers - Check it out.
