Hanya satu kata: Revolusi...

Xixixixi, gue semangat banget kalo ada revolusi...

 

 

DJ

 

http://www.korwilpdip.org:80/modules/smartsection/item.php?itemid=232

Terjajah ExxonMobil di Cepu

Oleh: Kwik Kian Gie


Kali ini saya tidak akan membahas tentang pengertian subsidi -apakah itu
sama dengan uang tunai yang harus keluar atau tidak- dan hal-hal teknis lain
seperti itu. Saya akan membahas tentang negara kaya yang menjadi miskin
kembali karena terjerumus ke dalam mental kuli yang oleh penjajah Belanda
disebut mental inlander. Mental para pengelola ekonomi sejak 1966 yang tidak
mengandung keberanian sedikit pun, yang menghamba, yang ngapurancang ketika
berhadapan dengan orang-orang  bule.

Ibu pertiwi yang perut buminya mempunyai kandungan minyak sangat besar
dibanding kebutuhan nasionalnya, setelah 60 tahun merdeka hanya mampu
menggarap minyaknya sendiri sekitar 8 persen. Sisanya diserahkan kepada
eksplorasi dan eksploitasi perusahaan-perusahaan asing.

Apa pekerjaan dan sampai seberapa jauh daya pikir para pengelola ekonomi
kita sejak merdeka sampai sekarang? Istana Bung Karno dibanjiri para
kontraktor minyak asing yang sangat berkeinginan mengeksplorasi dan
mengeksploitasi minyak bumi di Indonesia. Bung Karno menugaskan Chairul
Saleh supaya mengizinkannya hanya sangat terbatas. Putrinya, Megawati,
bertanya kepada ayahnya, mengapa begitu? Jawaban Bung Karno kepada putrinya
yang baru berumur 16 tahun, "Nanti kita kerjakan sendiri semuanya kalau kita
sudah cukup mempunyai insinyur-insinyur sendiri."

Artinya, Bung Karno sangat berketetapan hati mengeksplorasi dan
mengeksploitasi minyak oleh putra-putri bangsa Indonesia sendiri. Mengapa
sekarang hanya sekitar 8 persen? Lebih menyedihkan ialah keputusan
pemerintah memperpanjang kerja sama dengan Exxon Mobil (Exxon) untuk blok
Cepu selama 20 tahun sampai 2030.

Begini ceritanya. Exxon membeli lisensi dari Tommy Soeharto untuk mengambil
minyak dari sebuah sumur di Cepu yang kecil. Exxon lalu melakukan eksplorasi
tanpa izin. Ternyata ditemukan cadangan dalam sumur yang sama sebanyak 600
juta barel. Ketika itu Exxon mengajukan usul untuk memperpanjang kontraknya
sampai 2030. Keputusan ada di tangan Dewan Komisaris Pemerintah untuk
Pertamina (DKPP). Dua dari lima anggota menolak. Yang satu menolak atas
pertimbangan yuridis teknis. Yang lain atas pertimbangan sangat prinsipil.

Dia sama sekali tidak mau diajak berargumentasi dan juga sama sekali tidak
mau melihat angka-angka yang disodorkan Exxon beserta para kroninya yang
berbangsa Indonesia. Mengapa? Karena yang menjadi pertimbangan pokoknya,
harus dieksploitasi bangsa Indonesia sendiri, yang berarti bahwa Exxon pada
2010 harus hengkang, titik. Alasannya sangat mendasar, tetapi formulasinya
sederhana. Yaitu, bangsa yang 60 tahun merdeka selayaknya, semestinya, dan
seyogianya mengerjakan sendiri eksplorasi dan eksploitasi minyaknya. Bahkan,
harus melakukannya di mana saja di dunia yang dianggap mempunyai kemungkinan
berhasil. Menurut peraturan yang berlaku (sebelum Pertamina berubah menjadi
Persero), kalau DKPP tidak bisa mengambil keputusan yang bulat, keputusan
beralih ke tangan presiden. Maka, bola ada di tangan Presiden Megawati
Soekarnoputri. Beliau tidak mengambil keputusan, sehingga Exxon kalang
kabut. Exxon mengirimkan executive vice president-nya yang langsung
mendatangi satu anggota DKPP yang mengatakan "pokoknya tidak".

Dia mengatakan, sejak awal sudah ingin bertemu satu orang anggota DKPP ini
yang berinisial KKG, tetapi dilarang kolega-koleganya sendiri. KKG tersenyum
sambil mengatakan karena para koleganya masih terjangkit mental inlander.

Lalu dia berargumentasi panjang lebar dengan mengemukakan semua angka betapa
Indonesia diuntungkan. KKG menjawab bahwa kalau dia ngotot sampai seperti
itu, apa lagi latar belakangnya kalau dia tidak memperoleh untung besar dari
perpanjangan kontrak sampai 2030? Karena itu, kalau mulai 2010, sesuai
kontrak, Exxon harus hengkang dan seluruhnya dikerjakan Pertamina, semua
laba yang tadinya jatuh ke tangan Exxon akan jatuh ke tangan Indonesia
sendiri. Lagi pula, KKG menjelaskan bahwa sudah waktunya belajar menjadi
perusahaan minyak dunia seperti Exxon. KKG bertanya kepadanya, "Bukankah
kami berhak mulai merintis supaya menjadi Anda di bumi kita sendiri dan
menggunakan minyak yang ada di dalam perut bumi kita sendiri?"

Eh, dia mulai mengatakan tidak bisa mengerti bagaimana orang berpendidikan
Barat bisa sampai seperti itu tidak rasionalnya! Jelas KKG muntap dan mulai
memberi kuliah panjang lebar bahwa orang Barat sangat memahami dan
menghayati tentang apa yang dikatakan EQ, dan  bukan hanya IQ. Apalagi,
kalau dalam hal blok Cepu ini ditinjau dengan IQ juga mengatakan bahwa mulai
2010 harus dieksploitasi oleh Indonesia sendiri. Bung Karno juga
berpendidikan Barat dan sejak awal beliau mengatakan, "Man does not live by
bread alone." Dalam hal blok Cepu, dua argumen berlaku, yaitu man does not
live by bread alone, dan diukur dengan bread juga menguntungkan Indonesia,
karena laba yang akan jatuh ke tangan Exxon menjadi labanya Pertamina.

Pikiran lebih mendalam dan bahkan dengan perspektif jangka  panjang yang
didasarkan materi juga mengatakan bahwa sebaiknya blok Cepu dieksploitasi
oleh Pertamina sendiri. Mengapa? Jawabannya diberikan oleh mantan Direktur
Utama Pertamina Baihaki Hakim kepada Menko Ekuin ketika itu bahwa Pertamina
adalah organisasi yang telanjur sangat besar. Minyak adalah komoditas yang
tidak dapat diperbarui. Penduduk indonesia bertambah terus seiring dengan
bertambahnya konsumsi.

Kalau sekarang saja terlihat bahwa konsumsi nasional sudah lebih besar
daripada produksi nasional, di masa mendatang kesenjangan ini menjadi
semakin besar, dan akhirnya organisasi Pertamina yang demikian besar itu
akan dijadikan apa?

Apakah hanya menjadi perusahaan dagang minyak, dan apakah akan mampu
berdagang saja dalam skala dunia, bersaing dengan the seven sisters? Maka
visi jangka panjang Baihaki Hakim, mumpung masih lumayan cadangannya, sejak
sekarang mulai go international dan menggunakan cadangan minyak yang ada
untuk sepenuhnya menunjang kebijakannya yang visiuner itu.Menko Ekuin ketika
itu memberikan dukungan sambil mengatakan, "Pak Baihaki, saya mendukung
sepenuhnya. Syarat mutlaknya ialah kalau Anda ingin menjadikan Pertamina
menjadi world class company, Anda harus juga memberikan world class salary
kepada anak buah Anda." Sang Menko Ekuin keluar dari kabinet Abdurrahman
Wahid. Setelah itu dia kembali ke kabinet sebagai kepala Bappenas dan ex
officio menjabat anggota DKPP. Maka pikirannya masih dilekati visi jangka
panjangnya Pak Baihaki Hakim dan kebetulan direktur utama Pertamina ketika
itu juga masih Pak Baihaki Hakim. Tetapi, kedudukan kita berdua sudah sangat
lemah, karena dikreoyok para anggota DKPP dan anggota direksi lain yang
mental, moral, dan cara berpikirnya sudah kembali menjadi inlander.

Baihaki Hakim yang mempunyai visi, kemampuan, dan telah  berpengalaman 13
tahun menjabat direktur utama Caltex Indonesia langsung dipecat begitu
Pertamina menjadi persero. Alasannya, kalau diibaratkan sopir, dia adalah
sopir yang baik untuk mobil Mercedes Benz. Sedangkan yang diperlukan buat
Pertamina adalah sopir yang cocok untuk truk yang bobrok. Bayangkan, betapa
inlander cara berpikirnya. Pertamina diibaratkan truk bobrok. Caltex adalah
Mercedez Benz. Memang sudah edan semua.Ada tekanan luar biasa besar dari
pemerintah Amerika Serikat di samping dari Exxon. Ceritanya begini. Dubes AS
ketika itu, Ralph Boyce, sudah membuat janji melakukan kunjungan kehormatan
kepada kepala Bappenas, karena protokolnya begitu. Tetapi, ketika sang Dubes
tersebut mendengarkan pidato sang kepala Bappenas di Pre-CGI meeting yang
sikap,isinya pidato, dan nadanya bukan seorang inlander, janjinya
dibatalkan.Eh, mendadak dia minta bertemu kepala Bappenas. Dia membuka
pembicaraan dengan mengatakan akan berbicara tentang Exxon. Kepala Bappenas
dalam kapasitasnya selaku anggota DKPP mengatakan bahwa segala sesuatunya
telah dikemukakan kepada executive vice president-ya Exxon, dan dipersilakan
berbicara saja dengan beliau.Sang Dubes mengatakan sudah mendengar semuanya,
tetapi dia hanya melakukan tugasnya. "I am just doing my job". Kepala
Bappenas mengatakan lagi, "Teruskan saja kepada pemerintah Anda di
Washington semua argument penolakan saya yang diukur dengan ukuran apa pun,
termasuk semua akal sehat orang-orang Amerika pasti dapat diterima."

Kepala Bappenas keluar lagi dari kabinet karena adanya pemerintahan baru,
yaitu Kabinet Indonesia Bersatu, dan Exxon menang mutlak. Ladang minyak di
blok Cepu yang konon cadangannya bukan 600 juta barrel, tetapi 2 miliar
barrel, oleh para inlander diserahkan kepada Exxon penggarapannya.Saya terus
berdoa kepada Bung Karno dan mengatakan, "Bung Karno yang saya cintai dan
sangat saya hormati. Janganlah gundah dan gelisah, walaupun Bapak sangat
gusar. Istirahatlah dengan tenang. Saya juga sudah bermeditasi disalah satu
vihara untuk menenangkan hati dan batin saya. Satu hari nanti rakyat akan
bangkit dan melakukan revolusi lagi seperti yang pernah Bapak pimpin, kalau
para cecunguk ini sudah dianggap terlampau lama dan terlampau mengkhianati
rakyatnya sendiri."

*) Mantan Menteri Negara PPN/kepala Bappenas

 

 

 

No virus found in this incoming message.
Checked by AVG.
Version: 8.0.100 / Virus Database: 270.2.0/1495 - Release Date: 6/10/2008
5:11 PM

Kirim email ke