Assalaamu'alaikum wr. wb.

Sobat muda muslim, ini artikel Studia edisi 323/Tahun ke-8 (8 Januari 
2007). Edisi cetaknya insya Allah sudah beredar di Jadebotabek sejak hari 
Jumat kemarin. Selamat membaca...

*[Dapatkan juga edisi cetaknya di jaringan kami di berbagai kota besar 
lainnya: Aceh, Padang, Bengkulu, Palembang, Pangkalpinang, Bandarlampung, 
Serang, Sukabumi, Bandung, Sumedang, Cirebon, Indramayu, Yogyakarta, Solo, 
Semarang, Bangil, Pasuruan, Surabaya, Jember, Banjarmasin, Samarinda, 
Balikpapan, Kendari, dan Makasar]

Saran dan kritik, silakan kirim ke:
Redaksi: [EMAIL PROTECTED]
Penerbit: [EMAIL PROTECTED]
HP: 0856-1943803
Kunjungi situs kami di: http://www.dudung.net
Akses via HP: http://mobile.dudung.net (dan dapatkan arsip artikel 
sebelumnya. Free!)

Ingin diskusi, ngasih info, ngasih masukan berupa kritik dan saran, gabung 
aja di tempat mangkal kita: http://buletinstudia.multiply.com

Untuk berlangganan edisi cetak, hubungi: 0813-81561253

Salam,
Redaksi Buletin Studia
Bogor
---
        
STUDIA Edisi 323/Tahun ke-8 (8 Januari 2007)        

         Islam Emang BEDA!        

         Beda? Yup, nggak usah ngerasa risih dengan perbedaan, Bro. Sebab, 
perbedaan yang ada di antara kita ini justru menjadikan diri kita spesial 
dibanding yang lain. Bayangin deh, kalo semuanya sama, nggak seru kan? 
Jadinya nggak khas. Bener ndak?        

Sobat, kalo pengen ilmiah-ilmiahan dikit, definisi dari beda itu sendiri 
akan memberikan kejelasan buat kita. Menurut kamus nih, beda itu adalah 
sesuatu yang menjadikan berlainan (tidak sama) antara benda yang satu 
dengan benda yang lain; ketidaksamaan. Kalo berbeda berarti ada bedanya; 
berlainan. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, Cetakan III, 2003, 
h. 119)        

Oke. Di kamus tertulis kayak gitu. Kita sepakati aja. Meski tentu bukan 
cuma benda yang bisa beda. Tapi segala hal yang berlainan satu sama lain 
bisa disebut beda. Cuma nih, yang perlu diperhatikan bahwa beda tuh tak 
selalu identik dengan aneh. Sumanto aja waktu diinterogasi kenapa makan 
daging mayat, dia komentar, “Saya tidak gila. Tapi memang tidak 
biasa.” Hehehe.. saya nggak bermaksud menganalogikan antara Islam 
yang akan kita bahas ini dengan kelakuan Sumanto.        

Islam emang beda dengan agama lain dan ideologi lain. Beda bisa berarti 
nggak biasa seperti pada umumnya. Tapi meski beda, Islam seharusnya nggak 
dianggap aneh dan aturannya dinilai asing hanya karena penghakiman sepihak 
dari kalangan tertentu bahwa Islam nggak cocok dengan kondisi kehidupan 
saat ini. Kalo pun boleh dianggap aneh bin asing dan nggak biasa adalah 
karena Islam dinilai nggak nyetel dengan kondisi yang udah rusak seperti 
sekarang ini. Bagus dong, sebab dianggap aneh dan nggak biasa karena nggak 
ikutan rusak. Nah lho, gimana tuh?        

Sobat muda muslim, nggak usah bingung bin heran. Sebab, segala sesuatu tuh 
memang tergantung sudut pandang. Meski demikian, seharusnya tetap sudut 
pandang itu punya standar. Biar nggak mengklaim sesuai sudut pandang 
masing-masing dari para pemberi nilai. Misalnya aja nih, waktu jaman 
penjajahan Belanda, sebagian rakyat Indonesia yang melawan Belanda disebut 
kaum ekstrimis. Sakit hati nggak tuh? Tapi di mata rakyat mereka adalah 
pahlawan. Wah, betapa relatifnya kan?        

Itu sebabnya, sebagai Muslim, sudut pandang kita ya harus Islam. Bukan yang 
lain. Lagipula kalo penilaian diserahkan kepada masing-masing orang, ya 
akan begitu banyak klaim dan merasa paling benar sendiri. Sanes kitu? 
(baca: begitu begitu? Sori, ini pake bahasa Planet Pajajaran 
hehehe…)        

Nah, Islam emang beda dengan agama dan ideologi lain. Islam ya Islam. Islam 
beda dan memang berbeda dengan Sosialisme-Komunisme. Islam juga beda dengan 
Kapitalisme-Sekularisme. Bukan hanya beda sebenarnya. Tapi juga 
bertentangan, gitu lho.        

Nah, kalo kamu berani mengatakan “Islam emang beda!”, syukur 
deh. Kenapa? Karena masih punya harga diri dan sekaligus percaya diri. 
Harga diri itu mahal, jarang ada yang rela kalo harga dirinya diinjak-injak 
(kecuali yang nekat dan gelap mata dengan menjual dirinya sendiri dalam 
kenistaan). So, harga diri harus dipelihara karena urusan hidup dan mati.   
      

Terus kalo percaya diri, itu berarti kita percaya dengan karakter diri kita 
dan apa yang kita perbuat. Orang yang berani melakukan suatu perbuatan dan 
kegiatan, sudah pasti bertanggung jawab. Itu sebabnya, dengan memiliki rasa 
percaya diri bisa dipastikan orang tersebut udah punya alasan dan tanggung 
jawab atas apa yang diperbuatnya.        

Sekali lagi, Islam emang beda. Nggak bisa disamakan dengan agama dan 
ideologi lain. Nggak bisa disatukan pula. Karena ibarat air dengan minyak, 
maka Islam nggak bisa dicampur dengan ajaran agama lain. Akan saling 
menolak dalam hal prinsip. Akan saling bertentangan dalam masalah akidah. 
Tidak ada gaya elektrostatis alias gaya tarik-menarik dalam urusan syariat 
antara Islam dan agama lain.        

Nah, kalo dari akarnya aja udah beda, maka batang, ranting, daun, bunga dan 
buahnya jelas berbeda dong. Tul nggak? Maka sangat wajar dan adil jika 
Allah Swt. aja mengajarkan bahwa keyakinan kita berbeda dengan keyakinan 
agama lain. Itu sebabnya, jangan bingung pula kalo syariatnya juga beda. 
Maka, apa hak kita menyatakan bahwa semua agama sama? Sehingga kita merasa 
kudu terlibat dan melibatkan diri dalam ibadah agama lain? Nggak lha yauw!  
      

         Aneh dan asing, kok bisa?        

Ketika ada seorang muslimah yang mengenakan jilbab dengan baik dan benar, 
sesuai tuntunan syariat Islam, banyak orang merasa heran. Bahkan ada 
sebagian besar yang menganggapnya aneh. Sebab, di tengah maraknya busana 
wanita yang mengeksploitasi keindahan tubuh wanita, muslimah yang 
mengenakan jilbab dengan sempurna tentunya adalah fenomena keanehan. Mereka 
dianggap orang asing dalam kehidupan saat ini.        

Begitu pula ketika seorang Muslim yang mempertahankan keislamannya di 
tengah berserakannya ide sekularisme di jual di pasar bebas kehidupan. Ia 
tetap berpegang teguh meski harus menelan cemoohan dan sindiran begitu 
banyak orang: “Jangan sok suci!” “Jangan sok 
alim!”, begitu kira-kira umpatan banyak orang kepadanya ketika ia 
tidak mau berbuat maksiat. Ya, ternyata berpegang teguh kepada ajaran Islam 
dalam kondisi seperti saat ini, di tengah kehidupan sekularisme, menjadi 
sangat terasing dan dianggap aneh.        

Tapi jangan khawatir, selama yang kita pegang adalah kebenaran Islam, tak 
perlu minder apalagi patah semangat. Justru menjadi orang-orang yang 
dianggap aneh atau terasing dalam komunitas yang menurut ajaran Islam 
justru dianggap komunitas yang aneh adalah sebuah kenikmatan tersendiri. 
Bahkan Rasulullah saw. memuji orang-orang yang terasing dalam kehidupan 
yang rusak. Rasulullah saw. bersabda: “Islam bermula dalam keadaan 
asing. Dan ia akan kembali menjadi sesuatu yang asing. Maka beruntunglah 
orang-orang yang terasing itu.” (HR Muslim no. 145)        

Dalam hadis lain, Rasulullah saw. memberikan kabar gembira kepada kaum 
Muslimin yang senantisa bersabar dalam menghadapi godaan dan rayuan 
kehidupan yang akan memalingkan dirinya dari Islam. Sabda beliau: 
“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan 
kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi 
orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala 
lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu. Ada yang 
berkata,’Hai Rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antara 
mereka?” Rasulullah saw. menjawab,”Bahkan lima puluh orang di 
antara kalian (para shahabat).” (HR Abu Dawud, dengan sanad hasan)    
    

Subhanallah. Rasulullah saw. memberikan penghargaan yang luar biasa kepada 
kita yang bisa bertahan dalam kondisi yang rusak ini. Iman kita menolong 
kita untuk nggak ikut larut dalam kehidupan yang rusak dan bejat. Tapi 
sebaliknya bertahan dengan memeluk ajaran Islam sepenuh hati dan sekuat 
tenaga. Tak akan melepaskannya selama hayat masih dikandung badan. Semoga 
kita menjadi orang-orang yang senantiasa menjaga diri dan berusaha untuk 
tetap istiqomah dalam keimanan dan kebenaran bersama Islam. Meski 
taruhannya adalah dianggap aneh atau bahkan diasingkan. Bukan hanya kita, 
tapi juga ajaran Islam yang kita peluk erat dianggap asing. Bersabarlah!    
    

         Iman harus tetap hidup        

Ketika cahaya iman tetap menyala dalam hati dan pikiran kita, insya Allah 
kita tak akan pernah berada dalam kegelapan. Iman akan hidup dan memberikan 
tenaga bagi kita untuk memandu ke jalan yang benar. Kita tak akan pernah 
terpengaruh dengan kerusakan yang melingkari kehidupan kita saat ini.       
 

Ibarat ikan yang hidup di air laut yang penuh dengan garam. Air laut yang 
asin itu, selama ikan masih hidup bisa bergerak ke sana kemari, asinnya air 
laut tak akan mampu meresap ke dalam tubuhnya. Tapi begitu ikan mati, maka 
air laut yang asin itu akan dengan mudah menyusup ke dalam tubuhnya. 
Sehingga tubuh ikan itu menjadi asin.        

Seorang Muslim yang keimanannya tetap hidup dalam dirinya, insya Allah tak 
akan mudah larut dalam kehidupan yang rusak. Dan, harus dipahami bahwa 
keimanan itu harus kita pelihara terus. Pelihara iman dengan ketaatan 
kepada Allah Swt. Yup, kalo kita iman kepada Allah, ya harus taat 
kepadaNya. Itu sebabnya, nyalakan terus cahaya keimanan dalam hidup kita. 
Bagaimana agar cahaya keimanan tetap menyala? Para sahabat, generasi awal 
kaum Muslimin yang berhasil dididik Rasulullah saw. mengaitkan aktivitas 
berpikir dengan keimanan. Mereka menjelaskan bahwa, “Cahaya dan sinar 
iman adalah banyak berpikir” (Kitab ad-Durrul Mantsur, Jilid II, h. 
409)        

Jadi, agar cahaya iman kita tetap menyala dalam kehidupan kita, banyaklah 
berpikir. Berpikir adalah proses terakhir setelah kita tahu dan belajar. 
Sebab, jika kita hanya tahu saja tentang Islam, tapi belum menyempatkan 
diri untuk belajar, maka besar kemungkinan kita tak akan pernah bisa 
mencapai derajat berpikir. Jadi, biasakan kita melalui proses KLT (Knowing, 
Learning, and Thinking: tahu, belajar, dan berpikir).        

Boys and gals, jika kita tahu bahwa Islam mengajarkan kebaikan, maka kita 
akan belajar tentang kebaikan itu, dan berusaha untuk memikirkan bagaimana 
menyampaikan kebaikan itu kepada orang lain. Inilah yang insya Allah akan 
menjadikan cahaya iman tetap menyala bagi kita. Kita bukan hanya berusaha 
menyelamatkan diri sendiri, tapi berupaya juga menyelamatkan orang lain 
agar bisa menerima cahaya iman. Sehingga akan banyak orang yang berbuat 
untuk memelihara keimanan ini agar tetap hidup dalam diri mereka.        

         Penyebab Islam terasingkan        

Ada dua faktor yang bisa dianggap sebagai penyebab Islam menjadi terasing 
(bahkan bagi kaum Muslimin sendiri). Pertama, dari faktor internal. Kedua, 
dari faktor eksternal. Apa saja faktor internal yang menyebabkan Islam 
terasingkan?         

Pertama, kaum Muslimin yang malas belajar. Ini akan menyebabkan kaum 
Muslimin tidak mengenal dan memahami, serta mengamalkan ajaran Islam dengan 
baik dan benar.        

Kedua, tidak terjalin ukhuwah dengan benar di antara kaum Muslimin. Kaum 
Muslimin tidak bersatu. Padahal bersaudara itu adalah sebuah kenikmatan 
dari Allah Swt. Jika kita bersama dan bersatu, insya Allah kita akan 
terlihat sebagai kekuatan yang besar. Firman Allah Ta’ala: “Dan 
berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu 
bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu 
(masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu 
menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu 
telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu 
daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu 
mendapat petunjuk.” (QS Ali Imran [3]: 103)        

Ketiga, sedikit atau bahkan hilangnya aktivitas dakwah. Ini akan menjadi 
faktor pelemah kekuatan Islam karena Islam tidak tersebar dan tidak 
diketahui banyak oleh kaum Muslimin (dan juga nonMuslim).         

Keempat, berhentinya proses ijtihad. Ini menjadi bencana kaum Muslimin 
karena banyak masalah baru tidak bisa terpecahkan dengan benar dan baik. 
Kelima, hancurnya Daulah Khilafah Islamiyyah, sehingga tak ada pelindung 
bagi kaum Muslimin. Akibatnya banyak kaum Muslimin yang hidup dalam 
kemaksiatan dan kenistaan.        

Adapun faktor eksternal penyebab Islam menjadi terasing adalah upaya 
musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam melalui perang pemikiran dan 
budaya. Sehingga kaum Muslimin menjadi gamang dalam hidup bahkan sebagian 
besar merasa minder menyandang predikat Muslim. Mereka takut terasing dan 
akhirnya larut bersama kehidupan yang rusak.        

Itu sebabnya, mari kita bekerjasama untuk segera bangkit dari kondisi ini. 
Harus segera sadar, tahu, dan mau mengamalkan dan memperjuangkan Islam. 
Agar Islam tidak asing dan kaum Muslimin tidak merasa terasingkan. Kobarkan 
semangat dan tetap istiqomah bersama Islam! Sebab, Islam emang beda dengan 
agama dan ideologi lain. Pede aja lagi! [solihin: [EMAIL PROTECTED]    
-- 
Buletin Remaja Studia terbit setiap Senin sejak Januari 2000, "Gaul, Syar'i, 
dan Mabda'i" Penerbit: Studia Publication. HP 0812-8841181. Website: 
http://www.dudung.net dan buletinstudia.multiply.com, e-mail: [EMAIL PROTECTED] 
dan [EMAIL PROTECTED] Mailing List: 
[EMAIL PROTECTED]

Der GMX SmartSurfer hilft bis zu 70% Ihrer Onlinekosten zu sparen! 
Ideal für Modem und ISDN: http://www.gmx.net/de/go/smartsurfer


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke