nice story..
--- On Mon, 10/13/08, Agung Kristian Hadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Agung Kristian Hadi <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [ninja_gokill] Kisah Memilukan....
To: "ninja_gokill" <[email protected]>
Date: Monday, October 13, 2008, 12:47 PM










    
            Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota2 besar 
meninggalkan anak2 diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan 
ini, perempuan cantik berusia 3 setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap 
kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia 
bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga 
dan lain2 dihalaman rumahnya.



Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat 
mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka 
coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya. karena 
mobil itu berwarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak2 ini pun 
membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya. Hari itu ayah dan ibunya bermotor 
ketempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil 
sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu 
dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya 
mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh  sipembantu 
rumah. Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil 
yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. 


Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa 
ini !!!" .. Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. 
Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah 
bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus 
mengatakan "Saya tidak tahu..tuan." "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg 
kau lakukan?"  hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba2 berlari keluar dari kamarnya. 
Dengan penuh manja dia berkata "Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik 
...kan!" katanya sambil memeluk ayahnya sambil  bermanja seperti biasa.. Si 
ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di 
depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak 
yang tak mengerti apa2 menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas 
memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan 
hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu hrs berbuat apa. 
Si ayah cukup lama memukul2 tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri 
anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut 
menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dia terperanjat melihat 
telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu 
rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut 
menangis. Anak kecil itu juga menjerit2 menahan pedih saat luka2nya itu terkena 
air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja 
membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua 
belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya.. "Oleskan 
obat saja!" jawab bapak si anak.


Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan 
waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. 3 
hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga 
begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu". 
jawab pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum si 
ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya 
Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. 
Masuk hari ke 4, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita 
terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap" kata 
majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. 
Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah serius.

Setelah beberapa hari dirawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. 
"Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan 
anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut. "Ini 
sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong 
dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena 
halilintar mendengar kata2 itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg 
dapat dikatakan lagi. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan 
lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat 
persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang 
disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua 
tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke 
wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam 
siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam
 linangan air mata.


"Ayah.. ibu. Dita tidak akan melakukannya lagi.. Dita tak mau lagi ayah pukul. 
Dita tak mau jahat lagi. Dita sayang ayah.. sayang ibu.", katanya berulang kali 
membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok Narti.." 
katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung 
histeris. "Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil... Dita janji tidak 
akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?. Bagaimana 
Dita mau bermain nanti?. Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, " katanya 
berulang2.

Serasa hancur hati si ibu mendengar kata2 anaknya. Meraung2 dia sekuat hati 
namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi 
bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan 
dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah 
minta maaf. Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan 
kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan 
kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi., Namun.., 
si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar 
bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya.. 


-- 
Salam NOC Lovers,

Nice Evil
DB#606
B 6970 BGU 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke