Byuh, cuma gara2 mobil masa depan seorang anak hancur...mudah2an kita semua ga jadi ortu kek gene neh..ortu matre, ortu matre, asepin aje...
Pada 14 Oktober 2008 14:53, Irawan <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > makanya jangan suka pake tangan kalo hadapin anak..... > > sayang anak sayang baby....sayang semuanya. > > > On 10/14/08, wisnu Anggoro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> >> >> nice story.. >> --- On *Mon, 10/13/08, Agung Kristian Hadi <[EMAIL PROTECTED]>* wrote: >> >> From: Agung Kristian Hadi <[EMAIL PROTECTED]> >> Subject: [ninja_gokill] Kisah Memilukan.... >> To: "ninja_gokill" <[email protected]> >> Date: Monday, October 13, 2008, 12:47 PM >> >> Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota2 besar meninggalkan >> anak2 diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, >> perempuan cantik berusia 3 setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan >> kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah >> dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik >> bunga dan lain2 dihalaman rumahnya. >> >> Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai >> tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari >> marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. >> Ya. karena mobil itu berwarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi >> anak2 ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya. Hari itu ayah >> dan ibunya bermotor ketempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah >> sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri >> mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, >> kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung >> tanpa disadari oleh sipembantu rumah. Saat pulang petang, terkejutlah >> pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan >> bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. >> >> Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan >> siapa ini !!!" .. Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu >> berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 >> melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras >> kepadanya, dia terus mengatakan "Saya tidak tahu..tuan." "Kamu dirumah >> sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi. >> >> Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba2 berlari keluar dari kamarnya. >> Dengan penuh manja dia berkata "Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik >> ..kan!" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si >> ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon >> di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. >> Si anak yang tak mengerti apa2 menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. >> Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. >> >> Sedangkan si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas >> dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu hrs >> berbuat apa. Si ayah cukup lama memukul2 tangan kanan dan kemudian ganti >> tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu >> rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dia >> terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 >> dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil >> menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit2 >> menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah >> menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama >> pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. >> Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak si >> anak. >> >> Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang >> menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran >> pada anaknya. 3 hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya >> sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu >> rumah. "Dita demam, Bu". jawab pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol >> aja ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar >> pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia >> menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari ke 4, pembantu rumah >> memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti >> kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai >> saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan >> agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah serius. >> >> Setelah beberapa hari dirawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak >> itu. "Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar >> kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan >> infeksi akut. "Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua >> tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan >> ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata2 itu. Terasa dunia berhenti >> berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi. Si ibu meraung merangkul si >> anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar >> tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang >> bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. >> Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya >> muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan >> dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak >> bersuara dalam linangan air mata. >> >> "Ayah.. ibu. Dita tidak akan melakukannya lagi.. Dita tak mau lagi ayah >> pukul. Dita tak mau jahat lagi. Dita sayang ayah.. sayang ibu.", katanya >> berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga >> sayang Mbok Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus >> membuat wanita itu meraung histeris. "Ayah.. kembalikan tangan Dita. >> Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana >> caranya Dita mau makan nanti?. Bagaimana Dita mau bermain nanti?. Dita janji >> tdk akan mencoret2 mobil lagi, " katanya berulang2. >> >> Serasa hancur hati si ibu mendengar kata2 anaknya. Meraung2 dia sekuat >> hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi >> sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa >> kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus >> dipotong meski sudah minta maaf. Tahun demi tahun kedua orang tua tsb >> menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat >> lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak >> bertepi., Namun.., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb >> tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya.. >> >> >> -- >> Salam NOC Lovers, >> >> Nice Evil >> DB#606 >> B 6970 BGU >> >> >> > > -- aDi - NOC 99

