kalo pakde termasuk parents apa childs
ya.............binun.......&)!&)#&!)&#!#!#

2010/1/12 <[email protected]>

>
>
> Jiakakakakakkakkkkkkk
> GulliiingGulinggggggggg
>
> Sent from Ongis Nade Mobiles
> ------------------------------
> *From: * Irawan <[email protected]>
> *Date: *Tue, 12 Jan 2010 14:33:39 +0700
> *To: *<[email protected]>
> *Subject: *[NOC] Renungan : Kisah Pohon Apel
>
>
>
> Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang
> senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.
>
> Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya,tidur- tiduran
> di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon
> apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.
>
> Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi
> bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.
>
> Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.
>
> "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.
>
> "Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi."jawab anak
> lelaki itu.
>
> "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk
> membelinya."
>
> Pohon apel itu menyahut,"Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau
> boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang
> untuk membeli mainan kegemaranmu. "
>
> Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di
> pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak
> pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
>
> Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya
> datang.
>
> "Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon apel.
>
> "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu.
>
> "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat
> tinggal. Maukah kau menolongku?"
>
> "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan
> rantingku untuk membangun rumahmu." kata pohon apel.
>
> Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu
> dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak
> lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel
> itu merasa kesepian dan sedih.
>
> Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa
> sangat bersuka cita menyambutnya.
>
> "Ayo bermain-main lagi deganku." kata pohon apel.
>
> "Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang.
> Aku ingin pergi berlibur dan berlayar.
>
> Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"
>
> "Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan
> menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau.
>
> Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah . Kemudian,anak lelaki itu
> memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu
> pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
>
> Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
>
> "Maaf anakku," kata pohon apel itu.
>
> "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."
>
> "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu."
>
> Jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa
> kau panjat." Kata pohon apel.
>
> "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu." jawab anak lelaki itu.
>
> "Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu.
>
> "Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang." kata anak lelaki.
>
> "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat.
>
> Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu. "
>
> "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik
> untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan
> akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."
>
> Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.
>
> Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
>
> Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita.
> Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
>
> Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka,dan hanya datang ketika
> kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua
> kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan
> untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu
> telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, *tetapi kadang... begitulah
> cara kita memperlakukan orang tua kita.*
> *
> *
> *(kutipan tetangga)*
> *
> *
> *
> *
> *:love ur parents always my bro"*
>
>   
>

Kirim email ke