telsentuh ......

Powered by Goodwill enforced by GOD will .........

--- Pada Sel, 12/1/10, Irawan <[email protected]> menulis:


Dari: Irawan <[email protected]>
Judul: [NOC] Renungan : Kisah Pohon Apel
Kepada: [email protected]
Tanggal: Selasa, 12 Januari, 2010, 2:33 PM


  



Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang 
bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.

Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya,tidur- tiduran di 
keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel 
itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi 
bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.

"Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.

"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi."jawab anak lelaki 
itu.

"Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."

Pohon apel itu menyahut,"Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh 
mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk 
membeli mainan kegemaranmu. "

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di 
pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak 
pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya 
datang.

"Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon apel.

"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu.

"Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat 
tinggal. Maukah kau menolongku?"

"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan 
rantingku untuk membangun rumahmu." kata pohon apel.

Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan 
pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki 
itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa 
kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat 
bersuka cita menyambutnya.

"Ayo bermain-main lagi deganku." kata pohon apel.

"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku 
ingin pergi berlibur dan berlayar.

Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"

"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan 
menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau.

Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah . Kemudian,anak lelaki itu memotong 
batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi 
berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.

"Maaf anakku," kata pohon apel itu.

"Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."

"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu."

Jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau 
panjat." Kata pohon apel.

"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu." jawab anak lelaki itu.

"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu.

"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang." kata anak lelaki.

"Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat.

Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu. "

"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik 
untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan 
akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. 
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.

Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka,dan hanya datang ketika kita 
memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita 
akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk 
membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah 
bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi kadang... begitulah cara kita 
memperlakukan orang tua kita.


(kutipan tetangga)




:love ur parents always my bro"







      Pemanasan global? Apa sih itu? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! 
http://id.answers.yahoo.com

Kirim email ke