Permen yang Memabukkan
Kamis, 12 Juni 2008 | 09:21 WIB
NARKOBA kristal berbentuk bulat, mirip dengan permen Pop Rock rasa
stroberi (kalau diemut bisa berdesis dalam mulut), beberapa waktu lalu
sudah memjadi pembicaraan hangat di masyarakat. Aromanya mirip stroberi
dan diduga sudah beredar bebas di lingkungan sekolah-sekolah. Bagi
anak-anak, barang tersebut dikira permen (gula-gula). Padahal permen ini
dapat menyebabkan sang anak masuk rumah sakit dan bisa membuat
ketagihan.
Selain rasa stroberi, permen tersebut ada yang diberi aroma cokelat,
kacang, kola, chery, anggur, dan jeruk. Setiap orangtua harus
mengingatkan anaknya agar tidak menerima permen jenis ini dari
orang-orang yang tidak dikenal, meskipun dari teman sekalipun.
Perlu diketahui, jenis narkoba yang beredar saat ini sangat beragam, tak
hanya ada ganja, pil koplo, kokain, ekstasi dan sabu-sabu. Varian baru
narkoba yang bentuknya mirip permen ada yang dikenal dengan nama beken,
Yaba.
Permen narkoba merek Yaba diperkirakan sudah masuk ke Indonesia, meski
varian baru ini belum ditemukan oleh polisi. Di Singapura, sejak tahun
2006 permen jenis ini sudah diamankan oleh Central Narcotics Bureau
Singapura. 
Pihak berwenang Singapura berhasil menggagalkan penyelundupan 1.600 pil
Yaba senilai 16.000 dolar Singapura.
Sejarah Yaba konon diproduksi di wilayah yang terkenal sebagai segitiga
emas peredaran narkoba internasional, yakni di perbatasan Thailand-Laos
-Myamar. 
Ada versi lain yang menyebutkan, orang pertama yang membuat Yaba adalah
ahli kimia berkebangsaan Jerman atas pesanan Adolf Hitler. Pesanan
khusus ini dibuat untuk tentara Nazi pada Perang Dunia (PD) II.
Hasilnya sangat mencengangkan, para tentara yang mengonsumsi Yaba seolah
menjadi super kuat dan super berani seperti Rambo. Tentara Nazi
terus-menerus bertempur sepanjang hari tanpa lelah.
Obat ini diberi kode D-IX. Proses penciptaannya dimulai pada November
1944 di Sachsenhausen, dekat Berlin, Jerman, dan kemudian diujicobakan
kepada para tahanan di kamp konsentrasi Sachsenhausen. Ada 18 tahanan
yang diberi D-IX, kemudian dipaksa berbaris dan mengelilingi lapangan.
Pundak mereka diberi beban seberat 20 kg.
Selama berjam-jam mereka berbaris sambil bernyanyi dan bersiul
mengelilingi lapangan tanpa istirahat. Jika dihitung, jarak tempuhnya
mencapai lebih dari 90 km. Hal yang tidak masuk akal dilakukan jika
manusia dalam keadaan normal.
Namun, setelah 24 jam pertama, keampuhan obat ini membawa bencana bagi
pemakainya. Mereka langsung ambruk berjatuhan dan meninggal. Anehnya,
dokter-dokter Nazi kala itu sangat terkesan dengan hasil percobaan D-IX.

Mereka dengan antusias kemudian merencanakan program untuk menyuplai
seluruh tentara Jerman dengan pil ini. Untungnya, perang keburu usai
sebelum obat D-IX diproduksi secara massal.
D-IX bangkit lagi. Entah siapa yg membangkitkannya. Namanya pun berubah
menjadi Yaba, diambil dari bahasa Thailand yang artinya kira-kira crazy
medicine (obat gila).
Yaba disebut-sebut menjadi terkenal di Thailand. Seperti juga pil-pil
narkoba lain, orang yang meminumnya akan mengalami sensasi. Dia bisa
menjadi terlalu gembira, agresif, seperti kesetanan, dan tidak merasa
capek. 
Besarnya pil itu kira-kira seujung penghapus pensil. Pada salah satu
sisinya terdapat logo bertuliskan R atau WY.
Pil itu mengandung sekitar 25-35 mg Methamphetamine dicampur dengan
kafein (45-65 mg). Komposisi tepatnya tidak diketahui pasti. Bahkan ada
juga yang bilang, Yaba hasil oplosan garam, cairan pembersih rumah,
sulingan obat batuk, dan lithium baterai kamera.
Tidak seperti obat medis pada umumnya yang terasa pahit, Yaba memiliki
berbagai variasi rasa. Mulai dari rasa anggur, rasa jeruk, vanilla, dan
warnanya pun beragam. Antara lain kemerahan atau pink, oranye, dan
hijau. 
Jadi bila menemukan "permen" seperti ini, jangan buru-buru memasukkannya
dalam mulut. Bisa jadi itu bukan permen. (yos/dari berbagai sumber)

,_.___ 

 

 

 

 

Kirim email ke