Alangkah lebih bijak jika, kalau emang itu hadist, dicantumkan tulisan arab, dan sanad hadistnya dan dikutip dari kitab apa? tulisan siapa? jadi tidak menjadi fitnah dan menyebar kebohongan pula.karena Kondisi sekarang ini banyak kelompok2/ aliran2 yang mengaku islam tapi suka memelintir atau membelokkan hadist/ atau Ayat2 Alqur'an. Dan kalau yang anda sebutkan tadi itu bukan Hadist maka andalah yang menyebar kebohongan itu!!!! Salam
_____ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of sonym4n Sent: Wednesday, July 09, 2008 10:54 AM To: Milis NB Subject: Re: :: Milist NB :: Kebohongan Publik: Proses Demoralisasi Bangsa Kebohongan Publik pertama dalam Sejarah Islam pasca wafat Rasulullah saw adalah ketika Abu Bakar berkata bahwa Rasul bersabda bahwa kami para Nabi tidak mewarisi, harta kami menjadi sedekah. Hadis palsu tersebut diucapkan Abu Bakar dalam rangka merampas Tanah Fadak dari putri tunggal Rasulullah saw Fatimah Az-Zahra. Fatimah Az-Zahra mengungkapkan "kebohongan publik" Abu Bakar tersebut dengan membawakan ayat-ayat Al-Quran dan berbagai argumen yang membuktikan kebohongan Abu Bakar kepada publik. Namun sepertinya, masyarakat saat itu lebih percaya kepada seorang lelaki yang berbohong daripada seorang perempuan putri Rasulullah saw yang jujur, sehingga kebohongan publik tersebut terus dibenarkan oleh pengikut Abu Bakar sampai saat ini. Beruntunglah kami yang tidak termasuk mereka yang termakan kebohongan publik yang dilakukan Abu Bakar yang telah meluas di muka bumi. Salam ------------------------------------------------ The Power Of Not Knowing ------------------------------------------------ Sony Hilal Wicaksono pin:25207cf3 ym! s0nyman gtalk sonym4n MSN: [EMAIL PROTECTED] Friendster Facebook: [EMAIL PROTECTED] Multiply: s0nyman.multiply.com ------------------------------------------------- Sent from my BlackBerry? powered by Sinyal Kuat INDOSAT _____ From: "agussyafii" <[EMAIL PROTECTED]> Date: Wed, 09 Jul 2008 03:48:41 -0000 To: <[email protected]> Subject: :: Milist NB :: Kebohongan Publik: Proses Demoralisasi Bangsa Kebohongan Publik: Proses Demoralisasi Bangsa sumber, http://mubarok- <http://mubarok-institute.blogspot.com> institute.blogspot.com Bangsa Indonesia dikenal memiliki sifat paternalis, yakni mudah mengikuti perilaku pemimpinnya. Jika pemimpinnya memerankan keteladanan yang tinggi, maka masyarakat luas segera menyiapkan dirinya untuk diatur ke arah tatanan yang bermartabat. Tetapi jika pemimpinnya memberikan contoh perilaku yang tidak terpuji, maka dalam waktu pendek perilaku tidak terpuji itu akan tersosialisasi ke segenap lapisan masyarakat. Sebenarnyalah bahwa paternalisme bukanlah monopoli bangsa Indonesia. Ungkapan bahasa Arab berbunyi, ar ra`iyyatu `ala dini mulukihim, artinya rakyat itu akan mengikuti agama dari raja-raja mereka. Prinsip inilah yang menyebabkan penduduk Indonesia menjadi muslim setelah raja-rajanya masuk Islam. Begitu pula yang terjadi di Persia dan Afrika. Dalam perspektif ini maka peranan pemimpin dalam mengantar bangsa ini sangat besar. Pemimpin itu bagaikan sopir bus yang sangat besar peranannya dalam mengantar penumpang (rakyat) sampai ke tujuan. Kebohongan publik adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kredibilitas pemimpin dalam berkomunikasi dengan masyarakat. Jika ada seorang sopir taksi berbohong, maka ia tidak akan disebut melakukan kebohongan publik, karena implikasinya hanya pada sebagian kecil penumpang taksi. Tetapi jika seorang presiden atau Ketua Parlemen melakukan kebohongan di depan parlemen atau di depan pers, hal itu disebut kebohongan publik, karena implikasinya sangat luas. Implikasi dari kebohongan publik yang dilakukan oleh pemimpin bisa pada rusaknya sistem administrasi negara karena pernyataan seorang pemimpin akan ditindak lanjuti oleh aparat di bawahnya. Tetapi, bahaya yang lebih besar dari kebohongan publik yang kemudian terbongkar dan tidak ada sanksi, adalah demoralisasi bangsa, dimulai dengan hilang?nya apresiasi masyarakat luas kepada pemimpin, dan selanjut?nya sang pemimpin akan hilang kewibawaannya. Jika rakyat tidak lagi menghormati pemimpinnya, maka setiap orang akan menjadikan diri sendiri sebagai pemimpin, dan akibatnya timbul anarki. Menurut ungkapan bahasa Arab, suatu bangsa tidak akan eksis jika anarki mewabah di masyarakat, dan anarki terjadi ketika perbuatan bodoh dilakukan para pemimpinnya (la yashluh al qaumu faudla la surata lahum, wala surata idza juhhaluhum sadu). Tanggung jawab seorang pemimpin sangatlah besar sebagaimana besarnya tanggung jawab orang `alim. Dalam kitab Zubad disebutkan; fa`alimun bi`lmihi lam ya`malan # mu`addzabun min qabli `ubbadi al watsan. Artinya; orang `alim yang tidak mengamalkan ilmu?nya kelak akan disiksa duluan sebelum penyembah berhala. Demikian juga ancaman bagi pemimpin yang melakukan kebohongan publik. Hadis Rasul menya?takan bahwa ada tiga kelompok yang kelak di akhirat akan diacuhkan oleh Allah, yaitu (1) kakek-kakek yang berzina, (2) Penguasa yang banyak berbohong dan (3) orang miskin yang sombong. Na`udzu billah min dzalik. sumber, http://mubarok- <http://mubarok-institute.blogspot.com> institute.blogspot.com Salam Cinta, agussyafii Sekiranya berkenan mohon kirimkan komentar anda melalui achmad.mubarok@ <mailto:achmad.mubarok%40yahoo.com> yahoo.com atau http://mubarok- <http://mubarok-institute.blogspot.com> institute.blogspot.com
