tombo ati itu yg pertama baca Qur'an dan maknanya bukan selalu berusaha mencari keburukan orang lain & yg suka menghujat tanpa berkaca diri kalau seperti itu berarti hanya bisa membaca tapi gak ngerti maknanya apakah pantas sebagai seorang pemimpin.
orang2 yg pintar dan tidak mengamalkan ilmunya dijalan yg benar akan lebih membahayakan dari pada orang2 yg bodoh jadi ngerti dan bisa baca Al Qur'an tapi tidak mau mengamalkannya itu orang yg lebih berbahaya rifky pradana <[email protected]> Sent by: [email protected] 07/02/2009 06:43 PM Please respond to [email protected] To [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected] cc Subject -:: Milist NB::- Pilih Mana : Tombo Ati atau Indomie ???. Semakin dekat ke hari pencoblosan, karakter dan komitmen setiap capres semakin diperlihatkan dengan jelas. Karakter dan komitmen yang saya maksud tentu tidak dikemas dalam bentuk bukti dan berita. Tapi terurai apik dan indah lewat iklan dan retorika. Beberapa waktu lalu, misalnya, saya kembali melihat satu iklan capres di TV yang berisi gubahan lagu Tombo Ati. Iklan milik JK ini jelas ingin menunjukkan warna dan posisi yang beda dari capres lainnya, persisnya dari SBY yang jauh hari sebelumnya telah mengambil strategi jitu dengan memanfaatkan jingle Indomie. Lewat Indomie, tim SBY yakin dapat dengan mudah mempengaruhi perilaku dan kecenderungan target audience-nya yang berasal dari kalangan menengah-bawah di semua tingkat domisili dalam pemilu nanti. Indomie dan produk mi instan lainnya memang sudah lama menjadi produk sembako pengganti beras yang dikonsumsi banyak orang. Sehingga target marketnya tersebar mulai dari tukang ojek hingga direktur perusahaan. Bedanya, Indomie telah berhasil dipersepsikan sebagai mi yang lebih enak dan lumayan berkelas. Dan salah satu pemicu sukses Indomie adalah strategi iklannya yang mengandalkan kekuatan jingle yang terus-menerus diputar di tv dan radio selama bertahun-tahun lamanya. Ahli promosi lini atas tim SBY bilang, daripada bersusah payah menciptakan jingle baru yang mustahil bisa menempel di benak masyarakat hanya dalam tempo sebulan, lebih bijak mengadopsi populeritas jingle Indomie. Tinggal menggubah sedikit liriknya, jadi deh (jingle) Indomie rasa SBY !. Tim JK menilai strategi ini sayang untuk tidak diadopsi. Tapi bagaimana mengadopsinya, tentu harus dipikirkan lagi. Kan tidak mungkin menggunakan jingle Sarimi yang terkenal itu. Nanti para pemilih malah jadi bingung, mengira di setiap TPS tersedia Indomie bagi pemilih SBY dan Sarimi buat yang mencontreng JK. Gak lucu kan jadinya ?. Maka sebelum mengadopsi lagu atau jingle terkenal, JK terlebih dahulu mendeteksi karakter dan brand perception yang sudah tertanam di benak para pemili h: Dekat dengan kalangan pesantren, punya istri berjilbab dan berkomitmen pada pengembangan ekonomi Islam. Nah, mengacu pada penilaian-penilaian awal inilah keputusan menyajikan lagu Tombo Ati yang sudah dipolitisir ini muncul. Lagu Tombo Ati alias Obat Hati sejatinya berisi lima hal yang bisa dilakukan oleh setiap orang bila ingin mengobati hati yang sedang terluka dan gundah-gulana. Awalnya lagu ini didendangkan oleh Cak Nun (Emha Ainun Najib) bersama kelompok Kyai Kanjengnya, lalu menjadi semakin populer sejak dinyanyikan oleh Opik. Sama halnya dengan jingle Indomie, lagu Tombo Ati sudah mengakar dalam mind set para pemirsa televisi dari kalangan muslim. Lagu ini sering digunakan oleh banyak stasiun TV dan radio, khususnya selama bulan puasa. Lagu Tombo Ati bahkan pernah menjadi song theme Program Ramadhan RCTI. Maka tak aneh kalau banyak orang hafal lagu ini, apalagi sejak versi bahasa Jawa dan Indonesianya disandingkan dalam satu lagu oleh Opik. Dengan melansir iklan Tombo Ati, JK sekali lagi melakukan adu kekuatan head-to-head dengan SBY. Pilih mana : Tombo Ati atau Indomie ?. Artikel ini dapat dibaca di : Indomie SBY vs Tombo Ati JK. http://iskandarjet.kompasiana.com/2009/07/02/indomie-sby-vs-tombo-ati-jk/ *** “Mungkin yang dimakan pak Jusuf Kalla dalam Mie Instan itu adalah Gandum 100%. Tapi, yang saya makan sudah ada campurannya, yaitu Sagu, Singkong, dan Sukun. Petani pun untung”, kata SBY pada saat menjawab pertanyaan tentang Mie Instan sebagai jingle iklan kampanyenya yang dapat meningkatkan volume Impor Gandum. Mendengar itu, saya buru-buru telpon menghubungi beberapa kenalan serta sanak famili untuk minta bantuan dicarikan Mie Instan yang dimaksud didalam pernyataannya bapak Presiden Republik Indonesia itu. Penasaran juga, seperti apa lezatnya cita rasa Mie Instan yang ada campuran Sagu, Singkong, dan Sukun. Boleh khan kepengin ikut mencicipi Mie Instan seperti yang biasa dimakan pak Presiden itu. Karena sudah biasa dimakan, tentunya Mie Instan yang dimaksudkan itu sudah bukan barang langka khan ?. Namun, sudah selang sehari semalam, mereka yang saya mintai bantuan itu, tidak berhasil mendapatkan barang yang dimaksud itu. Padahal sudah diubek-ubek ke beberapa supermarket termasuk ke Carrefour. Sambil membawa hati masgul, saya buka almari dapur, mencoba melihat komposisi Mie Instan merk Mie Sedap, yang diproduksi oleh PT. Prakarsa Alam Segar Bekasi Indonesia. Menurut yang tertera di kemasannya komposisi mie terbuat dari : Tepung Terigu, Minyak Sayur, Garam, Pengental Nabati, Pengatur Keasaman, Pewarna Tartrazin CI 19140, Zat Besi, Gula, Penguat Rasa Mononatrium Glutamat, Perisa Bawang Putih, Perisa Ayam, Bubuk Lada. Walah, lha kok gak ada yang menyebutkan adanya campuran Sagu, Singkong, Sukun, seperti yang disampaikan oleh pak SBY itu. Masih penasaran, saya ambil Mie Instan merek Supermie, yang diproduksi PT. Indoofood Sukses Makmur Tbk Jakarta Indonesia. Di bungkusnya saya jumpai tulisan tentang komposisi bahan pembuat mie : Tepung Terigu, Minyak Sayur, Tepung Tapioka, Garam, Pengatur Keasaman, Pemantap, Antioksidan TBHQ, Pewarna Makanan Tartrazin CI 19140. Lho kok gak ada campuran Sagu, Singkong, Sukun, seperti yang disampaikan oleh pak SBY itu. Memang disitu disebutkan ada bahan Tepung Tapioka, tapi tak disebutkan berapa persen digunakannya. Apakah cuma sebagai bahan Pengental Nabati yang tak signifikan persentase pemakaiannya. Ataukah dalam jumlah persentase yang signifikan sehingga mampu mengurangi jumlah gandumnya ?. Waduh, jangan-jangan selama ini hanya diproduksi secara terbatas, khusus untuk konsumsi Istana Presiden dan Istana Cikeas saja ya ?. Kalau Cuma diproduksi secara terbatas saja, apakah jumlahnya cukup signifikan sehingga mampu mengurangi jumlah impor gandum, lalu menjadikan petani Indonesia menjadi untung ?. Atau jangan-jangan belum diproduksi, baru direncakan saja. Tapi kalau baru direncanakan kok sudah dikatakan sebagai ‘saya makan’ yang artinya sudah biasa dimakan, alias sudah diproduksi. Akhirnya saya menyerah, tak mampu memecahkan teka-teki itu. Oleh sebab itu, bolehkah saya meminta bantuan rekan-rekan semuanya. Mohon informasinya, Mie Instan merk apa yang dimaksud oleh pak SBY sebagai Mie Instan yang biasa beliau makan yang sudah ada campuran Sagu, Singkong, dan Sukun itu ?. Diproduksi Perusahaan mana ?. Apakah bisa dibeli di supermarket mana ?. Apakah juga sudah tersedia di warung-warung ?. Berapa harga per bungkusnya ?. Berapa komposisi persentase dari masing-masing bahan campurannya (Sagu, Singkong, dan Sukun) per bungkusnya ?. Apakah sudah cukup signifikan mengurangi volume impor gandumnya ?. Ditunggu kabar secepatnya ya. Artikel ini dapat dibaca di : ‘Mie Instan’ dengan Campuran Sagu, Singkong, Sukun. Bisa Dibeli Dimana ?. http://public.kompasiana.com/2009/06/27/‘mie-instan’-dengan-campuran-sagu-singkong-sukun-bisa-dibeli-dimana/ *** Mengapa Harus Mie Instan ?. http://public.kompasiana.com/2009/06/20/mengapa-harus-mie-instan/ Politik Gandum ala Amerika Serikat. http://public.kompasiana.com/2009/06/21/politik-gandum-ala-amerika-serikat/ Politik Kedaulatan Pangan ala Mie Instan. http://public.kompasiana.com/2009/06/22/politik-kedaulatan-pangan-ala-mie-instan/ *** Yudhoyono approved the military crackdown in Aceh. "I love the United States, with all its faults. I consider it my second country", said Susilo Bambang Yudhoyono, presidential candidate. In response to the Bali bomb, SBY put security before human rights Al Jazeera : Yudhoyono is Pro-American. http://english.aljazeera.net/archive/2004/07/20084913557888718.html ***
