saya banyak lihat kehidupan nyata, bahwa dari dulu hingga kini, masalah seperti 
ini biasa nya hanya akan jadi kenangan atau menjadi sejarah bagi yang 
melaksanakan atau yang merasa harusnya dia yang dipuji dihormati dan diberi 
jasa. sudah rahasia umum dan juga sudah mebjadi kebiasaan bahwa hal itu 
terjadi. ini secara umum. karena ksus sby dan Jk saya sediri tahu akar 
masalhnya.
tapi saya mencoba melihat dari kebiasaan umum bahkan kebiasaan dunia.

Begini..... banyak jendral baik difilm maupun di kehidupan nyata ,hanya duduk 
di belakang meja, atau bisa dikatakan digaris belakang medan peperangan, 
prajurit yang maju dan membela tanah air. nah kita lihat apakah ketika menang 
atau ketika usia perang parjurit yang mendapat nama ???
kita lihat diperusahaan, karyawan dan staff yang berada diujung tombak kemajuan 
perusahaaan ,lalu apakah karyawan dan staff yang gajinya besar ???
nah alangkah anehnya jika hal2 ini sekarang mau dibalik. kami sih orang kecil, 
setuju setuju saja, jika negara indonesia mau berlakukan hal ini. tapi lah mbok 
dibalik . apakah para manager atau para jendral mau dipelakukan begitu ??

sudah jadi rahasia umum dan kenyataan umum bahwa baik wakil ,bawahan , karyawan 
memang selalu menerima yang berat, lalu ketua, Boss manager, akan selalu yang 
diuntungkan walaupun tidak bekerja. 
bisa saja mereka katakan bahwa itu strateginya para atasan ,wakil dan para 
bawahan kan hanya pelaksana, tentu yang dapat mobil manager. mana ada sih wakil 
atau bawahan yang dapat nama atau bahkan dapat mobil ???
jadi berpikirlah secara rasional. jika kita jadi atasan apakah rela  jatah 
mobil kasih bawahan. kan engga ??
misalnya kita ekstrem, nah bila begitu, apakah para jendral jika berperang mau 
dipaling depan. ( garis depan )
tentu pajurit anak buah wakil yang kerja , suatu hari jika sudah merdeka, kan 
atasan yang di garis belakang yang jadi presiden.
nah kalau mereka dulunya digaris depan, tentu sudah almarhum.
jadi wajar jika segala sesuatu yang terjadi dimasa kepemimpinannya itu adalah 
hak nya dia ,diamana manapun begitu.

contoh lain yang bisa terjadi dalam rumah tangga. pembantu masak enak, nyonya 
rumah hanya bisa kerja dan cari duit, suatu hari ada tamu makan  dan bilang 
enak sekali masakannya. banyak ibu rumah tangga dengan bangganya mesem2 tidak 
mengiyakan maupun menolak ,bahwa itu kerjaan pembantunya.
contoh lain, tukang kebun kita pandai dan rajin, rumah terlihat asri. kalau 
orang lewat bilang tamanya bagus. loh bangganya stengah mati, kaga bilang itu 
kerjaan tukang kebunnya.

apalagi dalam militer hal itu jelas memang begitu ,kaga bisa dibalik balik, 
yang dapat nama dan berjasa ya...yang mipin saat itu. boleh bangga.
nah jika kita lihat lagi dijalan thamrin dan jalan Jendral sudirman serta gatot 
subroto. yang bagun itu kuli2 dari kampung, yang miskin dan hina. tapi yang 
dapat namakan arsiteknya ? yang punyanya. dan orang2 besar lainnya, yang gaji 
besar dan hanay duduk di belakang meja.

jadi aneh lah jika sekarang tiba2 , karyawan mau claim bahwa itu haknya dia. aa 
oarng kecil sih suka2 saja jika dibumi Indonesia hal itu bisa dilaksanakan.

Mungkin kebangaan itu hanya kita bisa bagikan pada keluarga atau kerabat. untuk 
umum rasa2nya terlalu meng ada - ada dan terlalu muluk.

jadi misalnya tukang yangdatag dari udk  sedamg berlibur dijakarta bersama 
anaknya karena libur sekolah.
paling2 bisa bilang sama anaknya "" nak bagunan yang tinggi dan megah itu, ada 
adil bapak mu yang bagun "" kamu berbangga lah ! mungkin tidak banyak yang 
tahu. tapi Tuhan maha Tahu. amin..............



  ----- Original Message ----- 
  From: rifky pradana 
  To: [email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] 
  Sent: Saturday, July 04, 2009 8:55 AM
  Subject: -:: Milist NB::- Surat buat SBY dari Poso .






  Beberapa saat yang lalu, kita rakyat Indonesia dibuat 'terbelalak' oleh suatu 
informasi balk-blakan yang terbuka soal proses Perdamaian Aceh, kronologi dan 
peran dibalik Status DOM bagi Aceh beserta kelanjutan pencabutan statusnya, 
kronologi dan peran dibalik Status Darurat Sipil bagi Aceh, beserta kelanjutan 
pencabutan statusnya, proses Perdamaian seputar konflik di Ambon, proses 
Perdamaian seputar konflik di Poso.




  Namun informasi mencerahkan itu dengan cepat disangkal oleh kubu SBY. Serta 
diklaim balik bahwa SBY yang paling berperan dalam semua itu sehingga menjadi 
wajar jika SBY yang mengajukan diri untuk mendapatkan penghargaan Nobel 
Perdamaian.




  Akan tetapi, dunia cyber masih bebas untuk dijelajahi, masih belum 
memungkinkan untuk dibatasi arus informasinya serta dicekal informasi yang 
tidak memihak kepada Capres Incumbent seperti layaknya sudah dilakukan di arus 
media utama seperti Koran, Majalah, Televisi. Sehingga masyarakat (beberapa 
kalangan yang mau mencari informasi) masih bisa mendapatkan informasi yang 
sebenar-benarnya yang berimbang tentang klaim-klaim sepihak yang dilakukan oleh 
Capres Incumbent.




  Begitu pula yang terjadi dengan klaim keberhasilan pengungkapan korupsi. 
Apakah itu prestasinya KPK ?, apakah itu prestasinya SBY ?.




  Begitu juga yang terjadi dengan klaim keberhasilan penghapusan dan penurunan 
jumlah hutang. Apakah itu benar menurun jumlah nominalnya ?, apakah hanya soal 
rasionya saja ?, apakah hanya pengalihan dari satu pihak ke pihak lain yang 
dihutangi saja ?.




  Nah, dibawah ini ada sebuah surat terbuka dari Tentena Poso, yang secara 
vulgar dan telanjang mengungkapkan apa dan siapa serta bagaimana peran SBY 
disatu sisi dibandingkan dengan peran JK disisi yang lainnya, dalam proses 
perdamaian Poso.




  Baca sendiri saja deh isi suratnya =


  . 

  

Kirim email ke