Salam, Tukgurruk ngassing kodoong.. karaeng lompoku..... Wasalam, Wal Suparmo
--- Pada Sab, 4/7/09, rifky pradana <[email protected]> menulis: Dari: rifky pradana <[email protected]> Topik: -:: Milist NB::- Daeng Alfian & Budaya Siri'. Kepada: [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected] Tanggal: Sabtu, 4 Juli, 2009, 9:38 AM Ada yang menarik bagi saya jika mengamati pernyataan Alifian Mallarangeng sewaktu melakukan aktifitas Kampanye di kampung halamannya di Makassar Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu. Pernyataan yang sangat luar biasa dari seorang Priyayi dan Bangsawan terhormat ini sempat memancing kemarahan sebagian besar masyarakat atau orang Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan. Pernyataan tersebut sebenarnya sangat lumrah dan sah-sah saja bagi Seorang Alifian Mallarangeng dan saudara-saudaranya yakni Rizal Mallarangeng yang haus akan kekuasaan dan popularitas. Tidak perduli lagi bahwa apapun yang saya ucapkan, lontarkan dan lakukan yang penting SBY-Boediono terpilih kembali jadi Presiden RI. Pria lulusan Doktor Amerika yang konon bangsawan dan terkesan over confidence selalu membanggakan diri dan turunannya termasuk mengkultuskan jagoannya SBY-Boediono sebagai Capres yang terbaik. Padahal setahu saya ada budaya orang Bugis-Makassar yang masih dijunjung tinggi hingga saat ini yakni Budaya Siri’. Taruhlah Alifian Mallarangeng lupa diri, yah wajar lagi karena angan-angan dan kekuasaan yang membelenggu diri dan keluarganya sudah mendarah daging seakan lupa bahwa dimanapun langit dipijak, budaya siri’ kemanapun akan ku junjung”…begitu kira-kira yah Daeng Andi..atau Pak Andi ? . Memang sulit, dan terkadang level pendidikan dan kebangsawanan seseorang tidak bisa dijadikan tolak ukur ketokohan seseorang bisa dijadikan teladan. Ataukah seorang ganteng seperti Alifian Mallarangeng tidak paham dengan budayanya sendiri ?. Ada pertanyaan saya sebelum saya lanjutkan artikel saya ini, apakah seorang Alifian Mallarangeng bersaudara (Tree in One for SBY) mengerti arti dari kebangsawanan ?. Jangan Cuma bisanya ambil Ilmu jauh-jauh dari Amrik sementara ilmu Budaya sendiri (Budaya Siri) tidak paham. Sebenarnya penjelasan ini tidak bisa anda dapatkan di Amerika sana, dan juga karena gelar bangsawan anda. Bangsawan bagi saya sudah sangat jelas, seperti yang di contohkan Nabi Besar kita Muhammad SAW sebagai suri teladan bagi seluruh umat manusia dan alam semesta ini hingga akhir zaman. Diberilah beliau gelar Ahlul Bayit (Bangsawan Darah Biru). Mengapa disebut ahlul bayit ? .Karena kepribadian dan ketokohan seorang Rasulullah adalah terbukti dari ucapan perkataan, tindakan dan kepribadian (akhlak) dan pemikirannya sangat berguna secara positif bagi umat manusia. Bukannya seperti Alifian Mallarangeng, yang nota bene konon keluarga bangsawan. Maaf ini interpretasi saya dan menjadi bahan refleksi buat yang membaca tulisan saya ini. Saya perjelas bahwa, yang disebut bangsawan tulen dan sebenarnya bangsawan adalah orang yang pemikirannya sangat berguna bagi masyarakat banyak yang disumbangkan secara positif tanpa merusak lingkungan dan alam semesta ini. Dan bangsawan adalah akhlak dan perbuatannya sangat terpuji dalam kehidupan sehari-hari. Pernyataan Mallarangeng CS, yang saya kutip “belum saatnya orang bugis (Sulsel) menjadi Presiden saat ini”. Sebenarnya lagi, pernyataan yang dilontarkan Alifian M ini sangat subjek dengan tetap mengarah ke negatif karena ketidakpantasan menyudutkan etnis tertentu apalagi Sulsel tempat asal muasal dia. Anehnya sungguh luar kewajaran, tatkala beberapa tokoh masyarakat asal Sulawesi Selatan dan para elite politik memintanya untuk meminta maaf kepada masyarakat Sulsel yang sempat terlecehkan dengan pernyataannya. Jangankan meminta maaf, membela diri dan beretorika adalah senjata andalannya ketika ulang-ulang masalah ini dibahas bersama Alifian Mallarangeng. Diakhir tulisan saya ini, saya hanya bisa memberikan nuansa kedamaian dan kesejukan buat para pembaca setia Kompasiana termasuk Daeng Alifian Mallarangeng bahwa sadarlah dengan diri anda secara totalitas, kembalilah jauh menukik kedalam nurani anda dalam artian intropeksi diri. Dan segeralah minta maaf bagi saudara-saudara kita yang berada di Sulsel, percayalah kehormatan anda dan harga diri anda takkan pernah luntur jika sikap maaf anda berikan dengan tulus dan ikhlas. Obatilah hati mereka (masyarakat Sulsel) yang merupakan 99% pendukung fanatik Pak JK-Wiranto. Mereka telah melaksanakan komitmennya sebagai orang asli Bugis Makassar dengan konsitensinya memegang teguh Budaya Siri’ untuk mendukung dan tetap memilih pilihannya yakni JK-Wiranto. Dan sebagai penutup ada sembayan dari Tanah Bugis “Iya ada Iya Gau”..artinya “apa yang kita ucapkan, harus kita buktikan”. Artikel ini dapat dibaca di : Alifian Mallarangeng Bersudara Versus Budaya Siri Bugis-Makassar. http://public. kompasiana. com/2009/ 07/04/alifian- mallarangeng- bersudara- versus-budaya- siri-bugis- makassar/ *** Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/
