BERBUAH Apabila masa waktu hidup kita sudah hanya terbilang hari, maka mulai saat itu pula kita harus sadar, bahwa apa yang kita kejar dan selama hidup ini merupakan satu kesia-siaan saja. Harta maupun Tahta tidak bisa dibawa keliang lahat. Gelar yang berderet sekalipun tiada artinya terkecuali gelar yang terakhir ialah "Almarhum".
Lihat saja Jacko manusia paling beken di kolong langit ini, bahkan pada saat pemakamannya pun selain disaksikan oleh miliar manusia di dunia ini, juga telah menelan biaya triliun Rp. Renungkanlah: "Apakah ia sendiri masih bisa menikmati semuanya ini ?" TIDAK, bahkan karier dia yang pada awalnya terbang meroket setinggi langit pun, pada saat akhirnya dicampakan ke dalam jurang kenistaan yang paling dalam. Begitu juga dengan foto yang pada saat ini Anda pajang di ruang tamu, ketika berjabatan tangan dengan para pejabat tinggi, ataupun ketika jalan-jalan keluar negeri, maupun berbagai macam ijazah maupun penghargaan yang telah Anda raih; semuanya ini nanti tidak akan ada nilainya lagi; selain jadi bungkus kacang ataupun dibakar di tempat sampah. Sebab pada saat Anda mati; siapa lagi yang masih tertarik akan semuanya ini ? Percayalah begitu masa hidup Anda hanya tinggal beberapa lagi, Anda tidak akan tertarik lagi akan harta maupun jabatan yang anda miliki. Lihatlah disekeliling anda sekarang ini, apa yang bisa Anda bawa ke liang lahat, selainnya badan. Kita datang telanjang ke bumi ini dan pulang pun telanjang pula. Tubuh Anda pun yang hingga kini telah dipelihara dengan baik, bahkan menghabiskan uang ratusan juta Rp akhirnya akan menjadi seonggok daging yang membusuk. Seperti juga pepatah Harimau mati meninggalkan kulit, sedangkan pohon akan dinilai dari buahnya. Yang menjadi pertanyaan: "Adakah sesuatu yang selama hidup ini bisa Anda banggakan sebagai "Buah" yang bermanfaat bagi orang lain, selainnya bagi diri dan keluarga sendiri ?" Walaupun waktu hidup kita tidak lama lagi, tetapi kita masih mempunyai kesempatan untuk merubah gaya maupun pola hidup kita, sehingga bisa menjadi buah untuk sesama manusia maupun lingkungan dimana kita hidup. Kita bisa berbuah dengan membagikan lebih banyak waktu kita entah itu untuk pelayanan di rumah ibadah, ataupun untuk pelayanan masyarakat. Pada saat Anda meninggal nanti, mereka tidak akan mengenang berapa besar harta kekayaan yang Anda miliki, maupun berapa banyak gelar yang berderet di depan nama Anda, melainkan dari apa yang telah Anda hasilkan bagi sesama manusia. Lihat saja Bunda Theresia dari Calcuta, walaupun beliau hanya seorang wanita tua miskin yang tidak memiliki harta maupun gelar sekalipun, tetapi ketika beliau wafat lebih banyak pejabat tinggi maupun raja dari seluruh dunia yang datang melayat ke upacara pemakamannya daripada ke upacara pemakamannya dari Lady Di. Yang nanti bisa diperhitungkan dan dibawa ke alam baka; hanyalah pahala atau buah yang telah kita lakukan selama masa hidup kita. Agar kita bisa berbuah; kita tidak harus melakukan hal-hal besar yang menghebohkan, melainkan dari hal-hal yang sangat kecil sekalipun ini sudah bisa berbuah misalnya membantu membersihkan lingkungan di kampung, turut melakukan siskamling ataupun menjenguk warga yang sakit dan banyak lagi hal-hal lainnya dimana kita bisa bermanfaat bagi sesama umat manusia. Dengan berbagi senyum atau sapaan yang hangat sekalipun; ini sudah bisa menjadi buah bagi sesama manusia. Ataupun dengan menyebar luaskan tulisan-tulisan yang bisa menguatkan iman maupun bermanfaat bagi sesama manusia; ini sudah bisa dinilai sebagai buah. Jadi untuk bisa berbuah; kita tidak perlu harus menunggu hingga NANTI lagi, mulailah dari sekarang dengan sekecil apapun juga sebelumnya terlambat. Mang Ucup Email: mang.ucup<at>gmail.com Facebook
