Ngiri juga nonton
mBah Surip (almarhum) beradu pipi dengan si molek jelita Manohara. Siapa yang
beruntung akan mempersuntingnya ?.
 
*
 
Siang tadi, di sebuah stasiun
televisi swasta, menyiarkan berita bahwa mBah Surip telah meninggal dunia. 
Ditayangkan
pula, sekilas, sebuah sekuen ketika mBah Surip yang telah dengan cepat dan
sigap mboncengnaik ojek menuju ke
lokasi Manohara sedang syutting. Kemudian dengan rela dan legowo menungguinya,
sampai selesai syuting, untuk ngobrol-ngobrol dengan manohara.
 
Setelah Manohara selesai syutting,
mereka pun bertemu. Biasa, didahului dengan cipika cipiki (wuih, ngiri juga 
nontonnya, melihatsimbah beradu pipi dengan si molek jelita
Manohara) lalu duduk bercengkerama, ngobrol berdua. Weleh, sebuah tontonan yang 
kontras, dandanan mBah Surip dengan
fashionnya Manohara yang lengkap dengan aksesoris pemanisnya.
 
Harus diakui, Manohara memang
cantik jelita. Posturnya semampai, menatap wajahnya seperti tertarik auranya
yang bagai mengandung magnit. Matanya, aduh tak tahan menantang tatapannya
berlama-lama. Kulitnya pun aduhai.
 
Belum lagi jika memperhatikan mannernya, melihatnya tersenyum, bertutur
kata dan tindak tanduknya, solah bawane
kuwi lho ora nguwati ati.
 
Jatuh cinta ?. Ya, enggak, belum
sampai taraf itu. Kalau ngiler,
barangkali memang iya.
 
Tapi, siapa sih laki-laki (normal) yang nggak kesengsemsama jelitanya Manohara 
?. 
 
Bisa dimengerti jika Pangeran Kelantan
di negeri Jiran itu juga sampai jatuh cinta sama Manohara. 
 
Coba perhatikan, foto-foto
posenya Manohara sewaktu masih menjadi Ratu di kesultanan Kelantan. Sangat pas,
sesuai, jika dimahkotai sebagai seorang ratu di sebuah kasultanan yang 
bercukupan
harta benda semacam kesultanan Kelantan itu.   
 
Saya membayangkan, andai Manohara
mampu bertahan, bukan tak mungkin ia akan mendunia seperti sosok Ratu Farah 
Diba,
seumpamanya. Sayangnya, takdir menentukan jalan lain. Konon, perlakuan suaminya
membuatnya tak betah dan tak mampu untuk bertahan lebih lama lagi.
 
Disadarinya juga, walau dari segi mannerdan penampilan serta gaya
busananya memang sudah siap menjadi the
first ladyyang dipuja, namun usianya yang masih tergolong remaja, membuka
kemungkinan belum siap dan matangnya bekal mentaluntuk mengikuti 
aturan-aturannya gaya kerajaan. Konon, memang tak mudah hidup
dengan aturan aristrokrat bergaya ningrat di lingkungan monarki yang masih
menggenggam kekuasaan politik semacam Kelantan itu.
 
Kita pernah mendengar bagaimana
istri Putra Mahkota kekaisaran Jepang, juga mengalami kesulitan beradaptasi
dengan aturan yang begitu mengekang. Putri Diana, dikabarkan juga demikian.
Maka tak heran, andai Manohara pun mengalami hal yang serupa.
 
Sayangnya lagi, seharusnya perkawinan
antar dua suku bangsa, apalagi di tingkat elit tingkat nasionalnya, akan
membawa berkah yang berujung kepada semakin membaiknya hubungan antar kedua
bangsa itu.
 
Dulu, di zaman Majapahit, kita
pernah mendengar dari tutur sejarahnya bahwa permaisuri Raja Majapahit juga
berasal dari Cempa atau Champa. Konon, putri Cempa ini berayahkan Raja Cempa
dan beribukan seorang wanita dari keturunan Timur Tengah. Oleh sebab itu, 
berkait
dengan hubungan darah dengan ibundanya, maka Sunan Ampel di Denta Surabaya,
mendapatkan keistimewaan diberikan status Tanah Perdikan bagi lahan 
pesantrennya.
 
Kembali ke pokok bahasan, si
jelita Manohara. Rupanya, suratan takdir sejarah hubungan kedua negeri, Malaysia
dan Indonesia, tak mendapatkan berkah dari perkawinannya Pangeran dari Kelantan
dengan gadis jelita Manohara dari Indonesia. 
 
Justru hubungan menjadi memburuk,
karena andil kisruhnya perkawinan mereka. Belum lagi ditambah dengan muncul 
kembali
secara tiba-tiba (saat kampanye Pilpres)
kasus Ambalat, dan terkahir soal silang sengketa berita tentang si Noordin Top. 
 
 
Mudah-mudahan di masa depan,
hubungan kedua bangsa akan kembali mesra, seperti sewaktu masanya Presiden
Soeharto di Indonesia dengan Perdana Menteri Mahathir Muhammad di Malaysia.
Sehingga, ramalan bahwa kebangkitan peradaban Islam yang katanya justru akan
muncul dari Asia Tenggara (Indonesia dan Malaysia) akan mewujud, tak hanya 
sekedar
ramalan saja.
 
Ah, bosan bicara tentang sejarah
dan politi. Lebih baik bagaimana jika kita teruskan lagi ke bahasan semula,
jatuh cinta kepada Manohara ?. 
 
Si dara jelita ini, sungguh patut
dikasihani, iba hati kita. Di usianya yang masih belia, harus menjadi korban
keadaan kejamnya dunia, menjadi Janda Kembang. 
 
Siapa yang berminat
mempersuntingnya ?. Siapa yang akan beruntung menikahinya ?.
 
Aha, antrian panjang berderet (seperti antrian jerigen kosong ketika rakyat
Indonesia ngantri minyak tanah) semestinya akan terjadi. Jika dibuka
sayembara bagi siapa saja yang berminat mempersuntingnya.
 
Saya tak heran, karena memang tak
berlebihan, andai ada yang sampai mengadopsi tekadnya Djarum(Demi Jandamu Aku 
Rela
Untuk Mati) demi mendapatkan kemenangan di sayembara, sehingga terwujud 
bersanding
di pelaminan dengan Manohara.
 
Ah, tapi itu impian dari lelaki
dari desa saja, karena siapa sanggup membelikannya tas kulit merek Hermesyang 
konon harga satu buahnya
sama dengan 1 buah mobil Kijang Innova.
Atau jika dibandingkan dengan harganya tas dengan model serupa yang diproduksi 
oleh
perajin kecil di Tajur Katulampakota Bogor, akan berjumlah lebih dari
seribu buah tas.
 
Ah, sudahlah. Biarlah keinginan
itu dipendam dalam hati dan diwujudkan dalam mimpi saja.
 
Adakah anda juga sedang jatuh
cinta kepada Manohara ?.
 
Jangan malu, katakan
saja dengan syairnya mBah Surip (almarhum)...I Love You Full...!!! 
 
Catatan Kaki :
Artikel
ini dapat dibaca di Politikanadan Kompasiana.
 
***


      

Kirim email ke